Suatu ketika, pada masa
pemerintahan khalifah Al-Mahdi, seorang gadis dengan penampilan yang
menyedihkan mengetuk pintu keputren[1].
Sang permaisuri memberi ijin wanita malang itu untuk bertemu dengannya.
Setelah memberi salam
hormat kepada permaisuri, wanita asing itu berkata, “Aku adalah putri khalifah
terakhir Bani Umayyah dan aku datang kepadamu…”
Belum sempat ia
menyelesaikan kata-katanya, sang permaisuri berubah seketika raut mukanya dan
menukas dengan geram, “Begitu cepatkah engkau melupakan perlakuan kejam yang
engkau dan keluargamu lakukan kepada wanita-wanita keluarga kami saat kalian
masih berkuasa?”
Wanita asing itu dengan
tenang mendengarkan umpatan permaisuri. Dengan senyum pahit ia menjawab, “Aku
dulu juga pernah Berjaya seperti kalian sekarang ini, namun Allah telah
menghinakan keangkuhanku dan aku kini seperti yang engkau lihat. Apakah engkau
menginginkan nasib yang sama seperti diriku dengan mengulang kesalahan yang pernah
kami lakukan?”
Selesai berkata
demikian wanita itu ngeloyor[2]
pergi. Sang permaisuri terdiam sejenak merenungi ucapan terakhir wanita itu.
Sesaat kemudian dia tersadar dari renungannya, lalu berlari mengejar wanita malang
itu dan hendak memeluknya. Tetapi si wanita asing menolak seraya berkata, “Aku
orang melarat dan sengsara. Pakaianku compang-camping. Aku tidak berhak memeluk
orang berkedudukan tinggi seperti engkau.”
Sang permaisuri
memanggil dayang[3]
istana, “Mandikan dia dengan air kembang, beri pakaian yang bagus, siapkan meja
makan dan hidangkan makanan-makanan terlezat untuk santap malam!”
Perintah permaisuri
segera dilaksanakan. Sang permaisuri duduk dengan wanita asing itu dan mereka
makan satu piring berdua tak ubahnya seperti kakak beradik.
Sumber:
1.
Belajar Dari
Kisah Kearifan Sahabat.
2.
KBBI, Pusat
Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
[1]
Bagian istana tempat tinggal para putri bangsawan/raja. (KBBI hal. 693).
[2]
Pergi tanpa pamit. (KBBI hal. 675)
[3]
Gadis pelayan di istana. (KBBI hal. 327)
