"Sedang urusan
mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka". (QS. As-Syura :
38).
Ketika kepada anggota
keluarga diberi waktu dan kesempatan untuk sama-sama duduk mendiskusikan
persoalan intern dan ekstern keluarga, maka itulah pertanda bahwa keluarga
tersebut memperhatikan keutuhan keluarga, peran dan saling kerjasamanya.
Tidak disangsikan lagi,
bahwa laki-laki yang diberi amanah kepemimpinan dalam rumah tangga adalah orang
yang paling bertanggung jawab, penentu segala keputusan. Tetapi dengan
memberikan kesempatan kepada yang lain - terutama kepada anak-anak yang
menginjak dewasa - maka hal itu akan merupakan pendidikan tanggung jawab kepada
mereka, di samping semua akan merasa lepas dan lapang dengan perasaannya,
karena pendapat mereka didengar dan dihargai.
Misalnya, dengan
mendiskusikan soal umrah pada bulan Ramadhan atau pada liburan-liburan lainnya,
bertandang ke sanak keluarga menyambung silaturrahim, berdarmawisata,
penyelenggaraan walimah pernikahan, aqiqah, pindah rumah, proyek-proyek sosial
seperti penghitungan jumlah fakir miskin sekampung untuk pemberian bantuan atau
pengiriman makanan kepada mereka, demikian juga diskusi tentang kemelut
keluarga, kerabat dan memberikan andil pemecahannya.
Perlu juga diingatkan
kepada bentuk lain dari pertemuan yang penting untuk diselenggarakan, yakni
"Pertemuan Keterbukaan" antara kedua orangtua dan anak-anak. Beberapa
kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang telah baligh terkadang tidak
mungkin untuk dipecahkan kecuali melalui pertemuan pribadi. Misalnya, bapak dengan
anak laki-lakinya memperbincangkan secara terbuka berbagai persoalan yang
menyangkut problematika anak remaja dan puber, hukum-hukum baligh. Demikian
pula halnya ibu dengan puterinya membincangkan persoalan-persoalan tersebut
sekaligus mengajarinya hukum-hukum yang berkaitan dengan wanita baligh.
Bapak dan ibu hendaknya
berusaha semampu mungkin membantu memecahkan problem anak-anaknya terutama pada
masa mereka masih remaja. Hal itu misalnya bisa dilakukan dengan menggunakan
bahasa-bahasa yang menarik, seperti "ketika saya masih seumur kamu
...", sehingga mudah diterima.
Tidak adanya pertemuan
semacam ini terkadang menjadikan sebagian anak-anak menjalin persahabatan
dengan teman-teman yang tidak baik, yang pada akhirnya menimbulkan petaka
besar.
Dikutip dari 40 Nasehat
Memperbaiki Rumah Tangga; www.alsofwah.or.id
