Dapat dimengerti bahwa
Hasanuddin bersikap taat terhadap ayahnya sebagai kepala keluarga, selama
ayahnya, orang suci dari Cirebon itu masih hidup. Sunan Gunungjati telah
meninggal dunia sekitar tahun 1570. Di Cirebon ia digantikan oleh cicit
laki-lakinya, yang pada saat itu masih di bawah umur. Sesudah orang suci itu
meninggal dalam usia yang sangat lanjut, hubungan antara kedua cabang keluarga
kerajaan di Jawa Barat itu menjadi agak renggang.
Hasanuddin dari Banten
dan istrinya dari Demak mendapat dua anak laki-laki. Yang sulung Yusup
direncanakan untuk menggantikan ayahnya di Banten, bila saatnya tiba. Anak yang
kedua dijadikan anak angkat dan diasuh oleh bibi dari pihak ibunya. Bibi ini,
yaitu Ratu Kalinyamat dari Jepara, tidak mempunyai anak. Menurut asal usulnya,
ia juga seorang putri Demak. Sesudah Ratu Kalinyamat
meninggal, anak angkatnya (anak Hasanuddin yang kedua) menggantikan bibinya
sebagai penguasa Jepara. Dalam cerita tutur ia disebut Pangeran Jepara.
Penguasa Islam yang
kedua di Banten meneruskan usaha ayahnya: meluaskan daerah agama Islam. Ia
memulai kekuasaan raja-raja Jawa Islam dari Banten di Lampung dan daerah-daerah
sekitarnya di Sumatera Selatan, tempat bahasa Melayu Selatan merupakan bahasa
pergaulan. Daerah-daerah taklukan raja-raja Banten ini ternyata telah menjadi
penghasil merica yang besar. Perdagangan merica itu membuat Banten menjadi kota
pelabuhan penting, yang disinggahi oleh kapal-kapal dagang Cina, India, dan
Eropa. Zaman berpengaruhnya Banten-Jawa dalam bidang pemerintahan dan
kebudayaan di Lampung berlangsung dari pertengahan abad ke-16 sampai akhir abad
ke18.
Mungkin nama Sura-Saji
diberikan kepada kota pelabuhan Banten setelah diperbesar dan diperindah pada
zaman Hasanuddin. Kota itu menjadi tempat kedudukan seorang penguasa penting,
berbeda dengan Banten Girang yang lama, yang letaknya lebih ke arah hulu
sungai. Mungkin perkawinan raja muda yang ambisius dengan seorang putri Demak
itu merupakan alasan untuk mengadakan pembangunan dan pemberian nama baru.
Menurut perkiraan,
Hasanuddin meninggal pada tahun 1570, pada tahun yang sama dengan ayahnya.
Tidak mungkin ia mencapai usia lanjut sekali waktu ia meninggal, jika ibunya
adalah putri yang telah dinikahi ayahnya - menurut perkiraan - sekitar tahun
1525 atau 1526 di Keraton Demak. Penguasa Islam yang kedua di Banten ini
mengalami zaman sesudah jatuhnya Kerajaan Demak, waktu iparnya Sultan Pajang,
Jaka Tingkir, berkuasa di pedalaman Jawa Tengah. Dalam cerita tutur Jawa tidak
ada berita yang memberi petunjuk bahwa ada sengketa antara raja-raja Banten dan
Pajang. Dalam perempat ketiga abad ke-16 Kerajaan Pajajaran "kafir"
masih menguasai sebagian besar daerah pedalaman Sunda di Jawa Barat, sehingga
daerah-daerah raja Banten dan raja Pajang tidak langsung saling berbatasan.
Dalam cerita Banten,
Hasanuddin terkenal dengan nama anumertanya, Pangeran Saba Kingking (atau: Seba
Kingking), sesuai dengan nama kota/desa tempat ia dimakamkan, tidak jauh dari
Banten. Makamnya telah dijadikan tempat ziarah oleh anak cucunya. Namun, ia
tidak pernah mendapat penghormatan keagamaan seperti ayahnya, Sunan Gunungjati.
Dikutip dari
Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD
