Sedikit ada masalah
pada Sa’ad Al-Aswad karena kebetulan tidak ada gadis yang bersedia menjadi
istrinya. Akhirnya ia mengadu kepada rasulullah saw dan meminta bantuan beliau.
Rasulullah saw kemudian mencarikan calon mempelai wanita yang cocok dan
akhirnya beliau menyarankan putri Umar bin Wahhab agar bersedia menjadi istri
Sa’ad. Sa’ad merasa sangat bersuka-cita atas keberhasilan rasulullah saw
melakukan negoisasi dengan keluarga mempelai wanita. Ia segera melakukan
persiapan-persiapan untuk resepsi pernikahannya. Hari pernikahan pun ditentukan
dan persiapan sudah selesai. Hari yang ditunggu-tunggu tiba dan Sa’ad ke pasar
untuk membeli perlengkapan nikah yang akan diberikan kepada calon istrinya.
Tiba-tiba sebuah suara
mengetuk gendang telinganya. Ada seseorang yang mengumumkan, “Sudah tiba
saatnya berjihad. Bersiaplah wahai tentara Allah! Bersiaplah dan bergegaslah
mempersiapkan senjata dan kuda-kuda kalian dan bergabunglah dalam peperangan!”
Sa’ad mendengarkan
seruan itu, ia berhenti sejenak, berpikir dan berpikir lagi. Keputusan sudah ia
buat, ia mengurungkan untuk membeli perlengkapan nikah. Sebagai gantinya ia
membeli pedang, tombak dan seekor kuda. Dengan perlengkapan tersebut ia
bergabung dengan tentara Islam yang bergegas menuju medan tempur.
Sa’ad bertarung dengan
keberanian dan semangat luar biasa dan ia akhirnya tewas di medan perang.
Lelaki yang malang itu seharusnya mempersembahkan hadiah kepada calon
isterinya, ternyata harus mempersembahkan hidupnya kepada Allah sebelum
matahari terbenam.
Dikutip dari Belajar
Dari Kisah Kearifan Sahabat.
