Salah seorang kerabat
Imam Ali Zainal Abidin As-Sajjad, datang menemui beliau dan melontarkan cacian
serta kata-kata kotor. Imam As-Sajjad tak mengucapkan sepatah kata pun. Setelah
orang tersebut meninggalkan majelis, beliau berkata kepada orang-orang yang
hadir, “Kalian telah mendengar apa yang dikatakan orang itu. Sekarang marilah
ikut aku untuk menemuinya, lihatlah jawaban yang kuberikan kepadanya.”
Mereka menjawab,
“Dengan senang hati, kami akan mengikuti Anda untuk membalas cacian yang
dilontarkan kepada Anda.”
Imam As-Sajjad
berangkat bersama para sahabat menuju rumah lelaki itu, seraya membaca ayat: Orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
(QS. Ali Imran/3:134)
Mendengar Imam As-Sajjad membaca ayat
tersebut, kami sadar bahwa beliau hendak berbuat baik kepada orang yang telah
mencaci beliau itu. Setelah sampai di rumah lelaki itu, beliau memanggilnya.
Tatkala lelaki itu mendengar suara panggilan Imam As-Sajjad, dia mengira bahwa
kedatangan beliau adalah untuk melakukan pembalasan atas perbuatan buruknya.
Ketika lelaki itu
keluar, beliau berkata, “Saudaraku, engkau datang padaku dan melontarkan
kata-kata buruk. Sekiranya apa yang engkau katakan memang ada pada diriku, maka
aku memohon kepada Allah agar Dia sudi mengampuniku. Sekiranya yang engkau
tuduhkan itu tidak ada pada diriku, semoga Allah mengampunimu.”
Ketika mendengar
jawaban ini, lelaki itu segera merebahkan diri dan mencium kaki serta berkata,
“Apa yang saya tuduhkan kepada Anda sama sekali tidak ada pada diri anda;
seluruh tuduhan buruk itu justru ada pada diri saya.”
Dikutip dari Belajar
Dari Kisah Kearifan Sahabat.
