Majdi As-Sayyid Ibrahim
--------------------------------------------------------------------------------
"Ali berkata, Fathimah
mengeluhkan bekas alat penggiling yang dialaminya. Lalu pada saat itu ada
seorang tawanan yang mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka
Fathimah bertolak, namun tidak bertemu dengan beliau. Dia mendapatkan Aisyah. Lalu
dia mengabarkan kepadanya. Tatkala Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tiba,
Aisyah mengabarkan kedatangan Fathimah kepada beliau. Lalu beliau mendatangi
kami, yang kala itu kami hendak berangkat tidur. Lalu aku siap berdiri, namun
beliau berkata. 'Tetaplah di tempatmu'. Lalu beliau duduk di tengah kami,
sehingga aku bisa merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di dadaku.
Beliau berkata. 'Ketahuilah, akan kuajarkan kepadamu sesuatu yang lebih baik
daripada apa yang engkau minta kepadaku. Apabila engkau hendak tidur, maka
bertakbirlah tiga puluh empat kali, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan
bertahmidlah tiga puluh tiga kali, maka itu lebih baik bagimu daripada seorang
pembantu". (Hadits Shahih, ditakhrij Al-Bukhari 4/102, Muslim 17/45, Abu
Dawud hadits nomor 5062, At-Tirmidzi hadits nomor 3469, Ahmad 1/96, Al-Baihaqy
7/293)
Wahai Ukhti Muslimah !
Inilah wasiat Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bagi putrinya yang suci, Fathimah, seorang pemuka para wanita
penghuni sorga. Maka marilah kita mempelajari apa yang bermanfa'at bagi
kehidupan dunia dan akhirat kita dari wasiat ini.
Fathimah merasa capai karena
banyaknya pekerjaan yang harus ditanganinya, berupa pekerjaan-pekerjaan rumah
tangga, terutama pengaruh alat penggiling. Maka dia pun pergi menemui Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta seorang pembantu, yakni seorang
wanita yang bisa membantunya.
Tatkala Fathimah memasuki rumah
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia tidak mendapatkan beliau. Dia hanya
mendapatkan Aisyah, Ummul Mukminin. Lalu Fathimah menyebutkan keperluannya
kepada Aisyah. Tatkala beliau tiba, Aisyah mengabarkan urusan Fathimah.
Beliau mempertimbangkan
permintaan Fathimah. Dan, memang beliau mempunyai beberapa orang tawanan
perang, ada pula dari kaum wanitanya. Tetapi tawanan-tawanan ini akan dijual,
dan hasilnya akan disalurkan kepada orang-orang Muslim yang fakir, yang tidak
mempunyai tempat tinggal dan makanan kecuali dari apa yang diberikan
Rasulullah. Lalu beliau pergi ke rumah Ali, suami Fathimah, yang saat itu
keduanya siap hendak tidur. Beliau masuk rumah Ali dan Fathimah setelah meminta
ijin dari keduanya. Tatkala beliau masuk, keduanya bermaksud hendak berdiri,
namun beliau berkata. "Tetaplah engkau di tempatmu". "Telah
dikabarkan kepadaku bahwa engkau datang untuk meminta. Lalu apakah
keperluanmu?".
Fathimah menjawab. "Ada
kabar yang kudengar bahwa beberapa pembantu telah datang kepada engkau. Maka
aku ingin agar engkau memberiku seorang pembantu untuk membantuku membuat roti
dan adonannya. Karena hal ini sangat berat bagiku".
Beliau berkata. "Mengapa
engkau tidak datang meminta yang lebih engkau sukai atau lebih baik dari hal
itu ?". Kemudian beliau memberi isyarat kepada keduanya, bahwa jika
keduanya hendak tidur, hendaklah bertasbih kepada Allah, bertakbir dan
bertahmid dengan bilangan tertentu yang disebutkan kepada keduanya. Lalu
akhirnya beliau berkata. "Itu lebih baik bagimu daripada seorang
pembantu".
Ali tidak melupakan wasiat ini,
hingga setelah istrinya meninggal. Hal ini dikatakan Ibnu Abi Laila. "Ali
berkata, 'Semenjak aku mendengar dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, aku
tidak pernah meninggalkan wasiat itu".
Ada yang bertanya. "Tidak
pula pada malam perang Shiffin ?".
Ali menjawab. "Tidak pula
pada malam perang Shiffin".
(Ditakhrij Muslim 17/46. Yang
dimaksud perang Shiffin di sini adalah perang antara pihak Ali dan Mu'awiyah di
Shiffin, suatu daerah antara Irak dan Syam. Kedua belah pihak berada di sana
beberapa bulan)
Boleh jadi engkau bertanya-tanya
apa hubungan antara pembantu yang diminta Fathimah dan dzikir ?
Hubungan keduanya sangat jelas
bagi orang yang memiliki hati atau pikiran yang benar-benar sadar. Sebab dzikir
bisa memberikan kekuatan kepada orang yang melakukannya. Bahkan kadang-kadang
dia bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah dibayangkan. Di antara manfaat
dzikir adalah :
Menghilangkan duka dan
kekhawatiran dari hati.
Mendatangkan kegembiraan dan
keceriaan bagi hati.
Memberikan rasa nyaman dan
kehormatan.
Membersihkan hati dari karat,
yaitu berupa lalai dan hawa nafsu.
Boleh jadi engkau juga
bertanya-tanya, ada dzikir-dzikir lain yang bisa dibaca sebelum tidur selain
ini. Lalu mana yang lebih utama ? Pertanyaan ini dijawab oleh Al-Qady Iyadh :
"Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beberapa
dzikir sebelum berangkat tidur, yang bisa dipilih menurut kondisi, situasi dan
orang yang mengucapkannya. Dalam semua dzikir itu terdapat keutamaan".
Secara umum wasiat ini mempunyai
faidah yang agung dan banyak manfaat serta kebaikannya. Inilah yang disebutkan
oleh sebagian ulama :
Pertama
Menurut Ibnu Baththal, di dalam
hadits ini terkandung hujjah bagi keutamaan kemiskinan daripada kekayaan.
Andaikata kekayaan lebih utama daripada kemiskinan, tentu beliau akan
memberikan pembantu kepada Ali dan Fathimah. Dzikir yang diajarkan beliau dan
tidak memberikan pembantu kepada keduanya, bisa diketahui bahwa beliau
memilihkan yang lebih utama di sisi Allah bagi keduanya.
Pendapat ini disanggah oleh
Al-Hafidz Ibnu Hajar. Menurutnya, hal ini bisa berlaku jika beliau mempunyai
lebihan pembantu. Sementara sudah disebutkan dalam pengabaran di atas bahwa
beliau merasa perlu untuk menjual para tawanan itu untuk menafkahi orang-orang
miskin. Maka menurut Iyadh, tidak ada sisi pembuktian dengan hadits ini bahwa
orang miskin lebih utama daripada orang kaya.
Ada perbedaan pendapat mengenai
makna kebaikan dalam pengabaran ini. Iyadh berkata. "Menurut zhahirnya,
beliau hendak mengajarkan bahwa amal akhirat lebih utama daripada urusan dunia,
seperti apapun keadaannya. Beliau membatasi pada hal itu, karena tidak
memungkinkan bagi beliau untuk memberikan pembantu. Kemudian beliau mengajarkan
dzikir itu, yang bisa mendatangkan pahala yang lebih utama daripada apa yang
diminta keduanya".
Menurut Al-Qurthuby, beliau
mengajarkan dzikir kepada keduanya, agar ia menjadi pengganti dari do'a tatkala
keduanya dikejar kebutuhan, atau karena itulah yang lebih beliau sukai bagi
putrinya, sebagaimana hal itu lebih beliau sukai bagi dirinya, sehingga
kesulitannya bisa tertanggulangi dengan kesabaran, dan yang lebih penting lagi,
karena berharap mendapat pahala.
Kedua
Disini dapat disimpulkan tentang
upaya mendahulukan pencari ilmu daripada yang lain terhadap hak seperlima harta
rampasan perang.
Ketiga
Hendaklah seseorang menanggung
sendiri beban keluarganya dan lebih mementingkan akhirat daripada dunia kalau
memang dia memiliki kemampuan untuk itu.
Keempat
Di dalam hadits ini terkandung
pujian yang nyata bagi Ali dan Fathimah.
Kelima
Seperti itu pula gambaran
kehidupan orang-orang salaf yang shalih, mayoritas para nabi dan walinya.
Keenam
Disini terkandung pelajaran sikap
lemah lembut dan mengasihi anak putri dan menantu, tanpa harus merepotkan
keduanya dan membiarkan keduanya pada posisi berbaring seperti semula. Bahkan
beliau menyusupkan kakinya yang mulia di antara keduanya, lalu beliau
mengajarkan dzikir, sebagai ganti dari pembantu yang diminta.
Ketujuh
Orang yang banyak dzikir sebelum
berangkat tidur, tidak akan merasa letih. Sebab Fathimah mengeluh letih karena
bekerja. Lalu beliau mengajarkan dzikir itu. Begitulah yang disimpulkan Ibnu
Taimiyah. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata. "Pendapat ini perlu diteliti lagi.
Dzikir tidak menghilangkan letih. Tetapi hal ini bisa ditakwil bahwa orang yang
banyak berdzikir, tidak akan merasa mendapat madharat karena kerjanya yang
banyak dan tidak merasa sulit, meskipun rasa letih itu tetap ada".
Begitulah wahai Ukhti Muslimah,
wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang disampaikan kepada salah seorang
pemimpin penghuni sorga, Fathimah, yaitu berupa kesabaran yang baik.
Perhatikanlah bagaimana seorang putri Nabi dan istri seorang shahabat yang
mulia, harus menggiling, membuat adonan roti dan melaksanakan
pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Maka mengapa engkau tidak menirunya ?
--------------------------------------------------------------------------------
