Ketika Ali bin Abi
Thalib menjabat khalifah, beliau sering berkunjung ke berbagai pasar dan
terkadang mengingatkan para pedagang. Suatu hari, beliau masuk ke pasar kurma.
Beliau melihat seorang anak putri tengah menangis. Beliau lalu bertanya padanya
sebab apa dia menangis.
Si putri cilik itu
menjawab, “Saya diberi uang satu dirham oleh majikan saya untuk membeli kurma,
saya membeli kurma dari pedagang ini, lalu saya pulang ke rumah, tetapi majikan
saya tak menyukainya. Sekarang saya bawa kembali kurma itu untuk saya
kembalikan, tetapi pedagang ini tidak mau menerimanya.”
Ali ra berkata kepada
si penjual kurma, “Putri cilik ini adalah seorang pembantu dan dia tak dapat
menjalankan perintah tuannya; ambillah kurma ini dan kembalikan uangnya.”
Si penjual kurma itu
berdiri, lalu mendorong dada beliau hingga keluar dari warung. Mereka yang
melihat kejadian itu segera datang dan berkata, “Apa yang telah kau lakukan,
beliau adalah Ali bin Abi Thalib.”
Si penjual kurma itu
merasa bersalah dan memucat wajahnya. Segera saja dia ambil kurma yang ada di
tangan putri cilik itu dan mengembalikan uangnya. Kemudian, dia berkata kepada
beliau, “Wahai amirul mukminin, relakan dan maafkanlah saya.”
Ali bin Abi Thalib
berkata, “Sesuatu yang membuat saya rela adalah ketika engkau memperbaiki
caramu dalam berjualan dan menjaga serta memelihara akhlak dan sopan santun.”
Dikutip dari Belajar
Dari Kisah Kearifan Sahabat.
