Menurut Hikayat
Hasanuddin di Banten, imam keempat di Masjid Demak yang gugur di medan laga
itu diganti oleh anaknya yang ditetapkan dalam jabatannya oleh Syekh Nurullah,
yang kelak terkenal sebagai Sunan Gunungjati di Cirebon. Ini tidak mustahil,
apabila kita pahami bahwa Sunan Gunungjati justru pada waktu yang sama telah
menjadi ipar raja di Demak, hingga dalam kedudukan yang demikian itu ia dapat
menyatakan pengaruhnya.
Penghulu muda di Demak
inilah, menurut cerita tutur di Jawa Tengah, yang akhirnya dapat merebut kota
kerajaan tua, Majapahit. la mencapai hasil gemilang itu terutama karena
kekuatan gaibnya. Cerita yang bukan-bukan yang dimuat dalam buku-buku cerita
Jawa Tengah inj menimbulkan dugaan bahwa kemudian orang sudah tidak ingat lagi
akan fakta-fakta pertempuran-pertempuran itu sendiri karena memperhatikan
kemenangan saja.
Cerita tutur Jawa tersebut
menampilkan banyak raja dari seluruh daerah, bahkan dari Palembang, dan semua
"ulama". Sunan Giri konon telah memainkan peranan istimewa dengan
keris ajaibnya. Cerita-cerita itu boleh dianggap pancaran daya angan-angan
generasi penerus. Cerita-cerita itu juga bertentangan urutan waktunya; para
sunan, dari Giri misalnya, baru mendapat kekuasaan dan kedudukan tinggi pada
paruh kedua abad ke-16. Namun, mungkin sekali, raja Demak, setelah melihat bahwa
serangan-serangan "para santri" yang penuh semangat tempur di Jawa
Timur itu menggoyahkan kekuasaan maharaja Majapahit, ingin mengambil manfaat
dari situasi untuk memperkaya diri dan memperluas wilayahnya.
Dalam uraian di atas (Bab
II-12) telah diberitakan, mungkin raja Islam itu sesudah jatuhnya ibu kota lama
menanamkan kekuasaannya di bagian terbesar Jawa Timur dan Madura. Mungkin
karena pengaruh Sunan Gunungjati, iparnya, pada waktu itu juga ia memakai gelar
sultan (lihat Bab II-9).
Kemungkinan bahwa berkat
sukses yang telah dicapainya dalam medan peperangan, kekuasaan penghulu Demak,
yang pada waktu itu agaknya masih muda, menanjak sekali. Cerita-cerita Jawa
tentang kebesaran dan tindakan-tindakan Sultan Kudus harus dianggap cerita
tentang dia sendiri. Namanya disebut dalam Sadjarah Dalem, silsilah
keturunan nenek moyang raja-raja Surakarta dari abad ke-19, berdasarkan sumber
keterangan lama yang dapat dipercaya. la dianggap layak dicantumkan dalam buku
itu, karena seorang putri keturunannya diperistri oleh Susuhunan Paku Buwana
III di Surakarta (1749-1788). Sunan Kudus sendiri konon telah memperistri putri
Kiai Gede Kali Podang (lebih lanjut tidak dikenal), putri bupati Terung yang
sudah ditaklukkan dan telah masuk Islam (sebelumnya sudah disebutkan), dan
putri Adipati Kanduruwan (mungkin masih kerabat Sultan Demak); karena itulah ia
mempunyai hubungan darah dengan kalangan bangsawan pada zamannya.
Sementara itu 'pemimpin
rohani' yang berderajat tinggi dan penuh semangat tempur ini, yang diberi nama
Sunan Kudus dalam cerita tutur Jawa Tengah, sesudah menyelesaikan tugas-tugas
ketentaraan dalam perang melawan Majapahit pada tahun- 152'7, masih
bertahun-tahun hidup di Demak sebagai penghulu masjid suci itu, hingga akhirnya
ia mendirikan Kota Kudus, "kota suci", dan pindah sendiri ke kota
itu. Menurut tambo, ia bertindak demikian karena timbulnya perselisihan dengan
raja Demak, karena perbedaan pendapat mengenai permulaan bulan puasa.
Perselisihan dengan raja
Demak, yang menyebabkan tokoh yang kelak bernama Sunan Kudus itu terpaksa
angkat kaki dari Demak itu, karena alasan yang lebih dalam daripada sekadar
salah paham tentang permulaan bulan puasa itu. Dapat diduga bahwa ada iri hati
antara yang kelak bernama Sunan Kudus - yang di Demak menjadi penghulu Masjid
Suci - dan Sunan Kalijaga yang dalam pemerintahan Pangeran Tranggana telah
pindah ke Demak dari Cirebon. Sunan Kalijaga adalah seorang dari keturunan
tinggi, yang bertalian darah dengan para penguasa di kota pelabuhan tua, Tuban.
Rupanya, ia disenangi baik oleh yang kelak bernama Sunan Cirebon maupun oleh
yang kelak disebut Sultan Tranggana di Demak. Sunan Kudus, seperti halnya
dengan kerabatnya, Sunan Bonang, terutama adalah seorang ahli dan penyebar
agama.
Tambo Jawa Tengah memuat cerita yang menunjukkan
adanya persaingan antara Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga itu. Pangeran Prawata,
pengganti Sultan Tranggana di Demak, konon setelah mula-mula menjadi murid
Sunan Kudus, kemudian mengakui Sunan Kalijaga sebagai gurunya. (Serat Kandha,
hal. 466). Dalam buku babad yang kemudian (Meinsma, Babad, hal. 79-80)
bahkan diceritakan bahwa Sunan Kudus telah menghasut, atau setidak-tidaknya
telah memberi kuasa, muridnya yang paling dikasihi, Aria Panangsang di Jipang,
untuk membunuh Pangeran Prawata yang pada waktu itu menjadi raja yang
memerintah di Demak, karena dianggap suatu dosa besar menjadi murid pada dua
guru sekaligus. Cerita-cerita ini ternyata berasal dari lingkungan
"masyarakat orang-orang alim" atau masyarakat santri. Dapat
dimengerti bahwa hal itu juga mencerminkan pandangan dan pendirian kelompok
penganut Sunan Kudus.
Akhirnya terdapat
kemungkinan juga Sunan Kudus meninggalkan Demak karena keinginan untuk hidup
merdeka dan membaktikan seluruh hidupnya untuk memperdalam ilmu ketuhanan dan
melakukan karya-karya yang direstui Tuhan, di luar lingkungan keraton (Demak).
Sukar ditetapkan pada tahun berapa ia mengambil keputusan yang penting itu.
Mungkin sekali itu terjadi beberapa tahun sebelum tahun 1549, tahun yang sesuai
dengan tahun 956 Hijriah yang tahun pendiriannya dicantumkan di atas mihrab
masjid besar di Kudus. Dapatlah dimengerti bahwa pembangunan masjid ini
memerlukan waktu beberapa tahun, dan selain itu masjid itu bukan rumah ibadat
pertama yang dipakai oleh ulama itu. Sebuah cerita Jawa (yang mungkin tidak
sepenuhnya dapat dipercaya) menyatakan, Sunan Kalijaga datang dari Cirebon di
Demak pada tahun 1543. Apabila dianggap benar bahwa penghulu Demak - juga
karena rasa tidak senang terhadap Sunan Kalijaga - telah tergerak untuk pindah
ke Kudus, maka tahun 1543 dapat dianggap sebagai batas perhitungan paling awal.
Tahun itu masih berada dalam periode pemerintahan Sultan Tranggana yang pada
tahun 1546 sudah wafat.
Kudus (kata dalam bahasa
Jawa untuk al-Quds, yaitu Baitulmukadis) ialah nama yang diberikan terhadap
tempat itu, waktu tempat itu dinyatakan sebagai "tempat suci" oleh
Sunan Kudus pertama, yang sebelumnya di Demak menjadi imam jemaah. Nama yang
lebih tua bagi tempat itu ialah Tajug. Letaknya tidak begitu jauh di sebelah
timur laut Demak, pada suatu jalan tua yang menuju ke timur. Tidak ada petunjuk
bahwa pernah ada pelabuhan dagang di sana.
Menurut legenda setempat,
Mbah Kiai Telingsing-lah yang mula
mula menggarap tempat yang
kemudian menjadi Kota Kudus. Beberapa orang menyebut dia seorang Cina Islam,
namanya semula The Ling Sing. Adanya cerita-cerita yang demikian menunjukkan
bahwa tempat itu sudah agak berarti, sebelum dijadikan "kota suci"
oleh Sunan Kudus.
Dari cerita setempat ini -
mengenai menetapnya penghulu Demak yang menyingkir ke tengah-tengah kelompok
kecil penduduk yang menghuni pedukuhan pada jalan lama menuju ke arah timur -
dapat juga diambil kesimpulan bahwa yang kelak menjadi sunan di Kudus itu
mula-mula memperoleh penghasilan dari tanah-tanah ladang di sekitarnya, yang
diolah para pengikutnya. Boleh jadi ia sebagai panglima mempunyai kawula-kawula
itu, yang semula milik para penguasa "kafir" di daerah Majapahit yang
sudah ditaklukkannya. Juga dapat dimengerti bahwa sebagian barisan santri, yang
telah bertempur di bawah pimpinannya dalarn perang jihad melawan
"orang-orang kafir" di Jawa Timur, merasa tertarik oleh pusat
kehidupan Islam baru di "kota sucj" itu. Anehnya, tidak ada
pemberitaan dalarn cerita tutur Jawa tentang penghadiahan tanah oleh raja Demak
kepada para ulama besar di Kudus. Sedangkan para ulama Kadilangu, yang
termasitk keturunan Sunan Kalijaga (mungkin lawan Sunan Kudus), sepanjang masa
hidup dari hasil tanah perladangan, yang telah dihadiahkan kepada mereka oleh
Keraton Demak.
"Kota Suci" Kudus Baitulmukadis
sudah terkenal di Jawa dan bahkan di Nusantara sebagai pusat agama. Masjid
besarnya diberi nama al-Manar atau al-Aqsa, seperti masjid suci
di Baitulmukadis bagian Islam. Pengunjung-pengunjung Barat sudah sejak abad
ke-17 (Antonio Hurdt, dalam ekspedisinya ke Kediri pada tahun 1678) mengagumi
menara raksasanya, suatu bangunan yang kukuh tampan dan yang arsitekturnya
jelas diilhami oleh candi-candi zaman pra-Islam. Penduduk "kota
suci", Sunan Kudus dan "orang-orang santri"-nya, ternyata tidak
merasa perlu memusnahkan segala sesuatu yang mengingatkan pada
"kekafiran" zaman pra-Islam, atau melupakannya sama sekali.
Dikutip dari
Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD
