Musim haji hampir tiba.
Nabi SAW beserta sejumlah sahabat dan para pengikutnya berangkat menuju ke
tanah suci Mekah. Perjalanan suci itu terus bergerak dan bergerak melewati
jalan-jalan yang berpasir dan akhirnya sampai di padang Arafah, padang tempat
wuquf haji. Para pemeluk Islam mengalir dari berbagai belahan semenanjung
Arabia dan bahkan dari luar semenanjung Arab.
Rasulullah saw menaiki
mimbar untuk menyampaikan khotbah di hadapan jema’ah yang sudah berkumpul
menanti nasihat dan petuah beliau. Lautan luas manusia berkumpul di hadapan
beliau. Di bagian depan, duduk kaum muhajirin Makkah yang telah memeluk Islam
pada masa-masa awal dakwah Rasulullah saw yang sarat dengan penderitaan.
Berdampingan dengan mereka adalah saudara-saudara mereka dari golongan Anshar
yang menerima kedatangan Nabi saw ke Madinah dengan penuh suka-cita, saat
pintu-pintu Thaif dan Makkah menutup diri dari seruan dakwah Nabi saw. Di
belakang mereka, duduk pula saudara-saudara seiman (Selain kaum Muhajirin dan
Anshar) yang menerima Islam pada masa-masa awal dan rela menerima cemoohan
teman dan ancaman pedang yang tiada henti-hentinya mengancam kehidupan mereka.
Para pembesar Quraisy yang dulu pernah merayu Nabi saw dengan kekayaan,
perempuan dan kekuasaan serta segala bentuk rayuan lain agar beliau
menghentikan dakwah, juga hadir dalam pertemuan besar tersebut, namun mereka
duduk agak jauh di belakang.
“Wahai sekalian
manusia! Camkan kata-kataku, karena aku tidak tahu apakah tahun depan, aku
masih diberi lagi kesempatan untuk berdiri di depan kalian di tempat ini.”
“Jiwa dan harta benda
kalian adalah suci serta haram di antara kalian, bahkan hari dan bulan ini
adalah suci bagi kalian semua, hingga kalian menghadap Allah. Ingatlah, kalian
akan menghadap Allah yang akan menuntut kalian atas perbuatan-perbuatan yang
kalian lakukan.”
“Wahai manusia! Kalian
mempunyai hak atas istri-istri kalian dan istri-istri kalian mempunyai hak atas
kalian. Perlakukanlah istri-istri kalian dengan cinta dan kasih sayang; karena
sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanat Allah.”
“Riba adalah haram.
Orang yang berhutang harus mengembalikan modal; sebagai permulaan akan
dilakukan terhadap pinjaman pamanku, Abbas bin Abdul Muthalib.”
“Kebangsawanan di masa
lalu diletakkan di bawah kakiku. Orang Arab tidak lebih unggul dari bangsa
non-Arab dan bangsa non-Arab tidak lebih unggul atas bangsa Arab. Semua adalah
anak Adam dan Adam tercipta dari tanah.”
“Wahai manusia! Dengar
dan pahami kata-kataku! Ketahuilah, bahwasannya sesame muslim adalah saudara.
Kalian semua diikat dalam satu persaudaraan. Harta seseorang tidak boleh
menjadi milik orang lain kecuali diberikan dengan rela hati. Lindungilah diri
kalian dari berbuat aniaya.”
“Terhadap
pembantu-pembantu kalian! Ketahuilah bahwa kalian memberi makan mereka dengan
apa yang kalian makan dan kalian memberi pakaian mereka dengan pakaian yang
kalian kenakan. Jika mereka melakukan kesalahan yang tidak bisa kalian maafkan,
maka bebaskanlah mereka karena mereka adalah hamba-hamba Allah dan bukan untuk
diperlakukan dengan kasar.”
“Aku tinggalkan di
antara kalian dua perkara: selama kalian berpegang teguh kepada keduanya,
kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah saw. Hendaklah
yang hadir di sini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Siapa tahu orang
yang menyampaikan lebih memahami daripada orang yang mendengarnya.”
“Wahai kalian semua
yang berkumpul di sini! Apakah aku telah menyampaikan pesan dan memenuhi
janjiku?”
Lautan jama’ah haji itu
menjawab dengan serentak dalam koor yang gemuruh, “Ya, engkau telah
melakukannya.”
Secercah cahaya
memancar di wajah Nabi saw. Dengan mata berlinang air mata suka-cita, beliau
mengangkat tangan ke atas dan berkata dengan suara gemetar, “Ya Allah hamba
mohon pada-Mu agar Engkau menjadi saksi atas semua ini.”
Dikutip dari Belajar
Dari Kisah Kearifan Sahabat.
