Pembicaraan sejarah Kudus
memang sudah seharusnya ditempatkan di sini, karena keturunan yang diberi
julukan sesuai dengan nama kota kecil ini, selama beberapa waktu -sebagai
pemimpin agama - besar pengaruhnya terhadap jalannya sejarah. Tetapi tidak lama
kemudian peranan mereka berakhir. Kekuasaan mereka berdasarkan pada wibawa
rohani terhadap para jemaah orang alim. Pada suatu segi, mereka dapat
dibandingkan dengan raja-raja Cirebon dan Giri-Gresik, yang memulai kegiatan
mereka sebagai pemimpin agama, yang kemudian membentuk dinasti dan berhasil
meraih kekuasaan politik yang cukup besar. Pada segi lain mereka dapat
dibandingkan dengan para penguasa di Kajoran Tembayat di pedalaman, yang tidak
memperoleh kesempatan mewujudkan kekuasaan duniawi mereka, akibat kebijaksanaan
politik yang dilakukan raja-raja Mataram yang sangat berdekatan letaknya itu.
Pada Bab II-7, dalam pembicaraan tentang wibawa sebagai pelindung agama Islam
yang telah diperoleh raja-raja Demak, telah diberitakan adanya daftar lima imam
masjid suci, yang dimuat dalam Hikayat Hasanuddin di Banten. Imam yang
kelima pada daftar itu adalah tokoh yang kemudian menjadi Sunan Kudus. Menurut
Hikayat Hasanuddin, dinasti para khatib di masjid suci di Demak berasal dari
Pangeran Rahmat dari Ngampel Denta (Surabaya) dan anak perempuannya, Nyai Gede
Pancuran; anak laki-lakinya, Sunan Bonang, konon adalah imam pertama. Dapat
diterima bahwa keluarga Ngampel semula berasal dari Campa di Hindia Belakang.
Kecuali karena kealiman
dan semangat menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah, keluarga Kudus ini berjasa
karena salah seorang anggotanya telah menjadi pemuka yang telah mengorbankan
hidupnya untuk berjihad melawan orang-orang kafir. "Syahid" ini ialah
imam keempat; dalam Hikayat Hasanuddin ia diberi julukan Penghulu
Rahmatullah di Undung atau Ngudung (mungkin sesuai dengan tempat
tinggalnya).
Sejarah perjuangan
orang-orang Islam Jawa Tengah melawan tentara maharaja Majapahit
"kafir" yang terakhir, yang mungkin sekali telah berakhir pada tahun
1527 dengan direbutnya kota kerajaan tua itu, sudah dibicarakan pada Bab II-9
(tentang hubungan antara kerajaan Islam Demak dan kerajaan "kafir"
itu). Di situ dikemukakan bahwa cerita-cerita Jawa yang paling dapat dipercaya
mengenai zaman ini menggambarkan bahwa yang paling banyak berjasa dalam
mencapai kemenangan ini ialah dua orang, seorang ayah dan anaknya; mereka
pemimpin jemaah 'Orang Alim' yang ikut serta dalam pertempuran itu.
Dalam buku-buku cerita
Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat laporan-laporan yang cukup panjang mengenai
perang melawan Majapahit. Dalam buku Pararaton yang diterbitkan oleh Dr.
Brandes (Brandes, Pararaton, hal. 227-228) dimuat ikhtisar versi yang
panjang lebar. Sesudah meninggalnya wali yang tertua, Sunan Ngampel di
Surabaya, "para santri" memutuskan untuk mengakhiri kekuasaan
tertinggi raja "kafir" Majapahit, sekalipun Sunan Kalijaga
menentangnya. Menurut dia, tidak pernah Brawijaya menghalangi umat Islam. Raja
Bintara/ Demak juga belum menghentikan upeti (seba) ke Majapahit yang diwajibkan
itu; ia masih merasa wajib menyatakan ketaatannya. Berbondong-bondong
"para santri" di bawah pimpinan Pangeran Ngudung, imam Masjid Demak,
dan 'pemimpin agama' lainnya bergerak untuk menyerang. Bupati Terung (keluarga
raja Demak, tetapi ia sendiri bukan Islam) konon menghindarkan diri dari tugas
yang telah dibebankan oleh maharaja kepadanya untuk memerangi kaum pemberontak.
Patih Majapahit, Gajah Mada, sendirilah yang pertama-tama memukul mundur
barisan orang-orang alim di Tuban.
Serangan yang kedua
kiranya hanya dipimpin oleh Pangeran Ngudung; pemimpin agama lainnya
rupa-rupanya menetapkan hanya anggota-anggota keluarga yang lebih muda untuk
ikut bertempur. Kali ini barisan Majapahit dipimpin oleh para pembesar; kecuali
Gajah Mada, ikut bertempur juga Aria Gugur, putra mahkota Majapahit, panca
tanda Terung (yang pertama kali tidak hadir), Daya Ningrat (seorang raja
bawahan dari Pengging), dan adipati Klungkung di Bali. Tetapi ada juga
putra-putra maharaja dan keluarga lain, yang sudah masuk Islam;
pangeran-pangeran ini konon tidak mau ikut campur.
Pertempuran yang
menentukan ini telah terjadi di daerah Wirasaba (kira-kira Majagung sekarang),
atau menurut versi lain, di tepi Sungai Sidayu. Dalam pertempuran ini Daya
Ningrat dari Pengging gugur; tetapi orang Islam terpaksa mundur, waktu pemimpin
pasukan mereka, Pangeran Ngudung, terbunuh oleh tusukan Adipati Terung. Jubah
Antakusuma, yang konon pernah dikenakan oleh Rasullullah itu dan oleh ulama di
Demak diterima dari angkasa, ternyata tidak bertuah. Jenazahnya diangkut kembali
ke Demak oleh pengikut-pengikutnya untuk dimakamkan di sana.
Cerita panjang lebar dan
jelas diromantisir tentang Penghulu Rahmatullah, pahlawan imam, terdapat dalam
buku-buku cerita Jawa Tengah dan dalam bentuk beberapa versi kecuali dalam
naskah yang diringkaskan oleh Brandes, juga dalam Serat Kandha yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda (Serat Kandha, hal. 322, dst.).
Cerita tutur Jawa Barat yang terdapat dalam Babad Banten dan Babad
Cerbon tidak sepanjang itu, tetapi di dalamnya diberikan kematian pemuka
agama itu.
Dalam
Sadjarah Banten kejadian di Jawa Timur ini dilukiskan sebagai peristiwa
yang bertepatan waktu dengan perkawinan seorang putri Demak dengan seorang
anggota keturunan pemimpin agama yang baru muncul di Cirebon. Penulis Banten ini
mengira bahwa perkawinan ini terjadi antara Hasanuddin, Sultan Banten yang
pertama putra raja Cirebon pertama, dan putri Sultan Tranggana dari Demak.
Tetapi perkawinan ini menurut Hoesein Djajadiningrat (Djajadiningrat, Banten,
hal. 115), baru terjadi pada tahun 1552, bertahun-tahun sesudah jatuhnya
Majapahit. Mungkin juga dalam berita Banten itu perkawinan Hasanuddin
dikelirukan dengan perkawinan ayahnya, Sunan Gunungjati dari Cirebon, dengan
saudara perempuan raja Demak. Menurut cerita tutur Jawa Barat, perkawinan ini
dilangsungkan kira-kira pada tahun 1524. Apabila pesta perkawinan di Keraton
Demak ini memang sama tahun kejadiannya dengan pertempuran di Jawa Timur, yang
mengakibatkan kematian Penghulu Rahmatu'llahi, maka perang para pejuang Islam
demi agama melawan tentara maharaja itu berlangsung bertahun-tahun sebelum
berakhir pada tahun 1527 dengan direbutnya Majapahit dan hilangnya Brawijaya
yang terakhir.
Dikutip dari
Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD
