Amr bin Ash dan Amarah
bin Al-Walid mengarungi laut dengan membawa hadiah yang banyak untuk Najasyi.
Mereka mengarungi laut
dengan menggunakan sebuah kapal. Mereka pun kemudian tiba di Habsyi. Mereka
lalu menuju istana raja.
Amr bin Ash berkata
kepada penjaga isatana, ‘Kami utusan bangsa Quraisy membawa hadiah untuk sang
raja.’
Najasyi menyambut
mereka dan menerima hadiah dari orang Quraisy tersebut. Para pemuka agamanya
juga menerima hadiah-hadiah dari mereka. Raja lalu menanyakan maksud kedatangan
mereka.
Para utusan itu pun
menjawab, ‘Ada beberapa orang bodoh yang telah mengungsi ke negeri Habsyi.
Mereka telah mengabaikan agama ayah dan leluhur mereka. Mereka tidak menerima
agama tuan (Kristen). Mereka telah membawa agama baru. Agama yang tuan dan kami
tidak ketahui. Kami orang Quraisy adalah kaum yang mulia. Kami datang kemari
untuk membawa mereka kembali dan mendidik mereka.’
Raja negeri Habsyi
adalah seorang yang arif dan bijaksana. Lalu ia pun berkata, ‘Bagaimana bisa
aku menyerahkan orang yang telah memilih negeriku dan meminta bantuanku?
Bagaimanapun, aku akan terlebih dahulu bertanya kepada mereka. Apabila benar
pikiran mereka jahat dan mereka telah berkhianat, aku akan serahkan mereka pada
kalian. Jika sebaliknya, maka aku akan membiarkan mereka untuk tinggal di
negeriku.’
Najasyi memanggil kaum
yang berhijrah. Mereka pun menghadap ke istana. Ja’far bin Abi Thalib berada
paling depan. Mereka memasuki istana dan berdiri tepat di hadapan sang raja.
Rakyat Habsyi
membungkukkan badan ketika berhadapan dengan sang raja, begitu pula dengan
utusan dari bangsa Quraisy, sedangkan kaum muslim tidak membungkuk; kepala
mereka tetap ditegakkan.
Raja Najasyi pun
bertanya kepada mereka, ‘Kenapa kalian tidak membungkukkan badan di hadapanku?’
Ja’far menjawab, ‘Kami
tidak membungkuk di hadapan siapa pun kecuali di hadapan Allah.’
Raja bertanya, ‘Apa
maksud kalian?’
Ja’far menjawab, ‘Yang
mulia, Allah telah mengirimkan seorang rasul, rasul kami telah memerintahkan
kami untuk tidak pernah membungkuk pada siapa pun kecuali kepada Allah. Beliau
juga telah memerintahkan pada kami untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat.’
Amr bin Ash berkata
dengan nada marah, ‘Mereka telah melanggar agama raja.’
Najasyi menyuruh Amr
untuk diam dan meminta Ja’far ntuk melanjutkan.
Dengan sopan, Ja’far
berkata, ‘Yang mulia, kami dulu hanyalah orang-orang bodoh. Kami menyembah
berhala dan memakan bangkai binatang. Kami melakukan hal-hal yang buruk dan
mengabaikan keluarga kami. Kami tiak menyantuni tetangga kami. Yang kuat
menindas yang lemah. Kemudian Allah mengirimkan pada kami seorang rasul. Kami
mengetahui dengan benar kejujuran dan keluhurannya. Kami mengetahui bahwa ia
benar-benar orang yang suci dan dapat dipercaya. Kemudian beliau mengajak kami
untuk menyembah pada Allah semata. Beliau memerintahkan kami untuk tidak
menyembah apa yang dulu kami dan leluhur kami sembah. Beliau memerintahkan kami
untuk senantiasa jujur dan menjaga amanah. Beliau memerintahkan kami untuk
selalu mengunjungi kerabat dan menyantuni tetangga, menghentikan perbuatan
jahat dan pertumpahan darah. Beliau mencegah kami dari perbuatan keji dan
mungkar, mengambil hak-hak anak yatim dan berbicara buruk pada wanita yang
telah menikah. Beliau memerintahkan kami untuk hanya menyembah Allah semata dan
tidak menyembah banyak Tuhan. Beliau memerintahkan kami untuk mendirikan
Shalat, bersedekah dan berpuasa.’
‘Yang mulia, kami
mempercayai dan mengikuti apa yang telah beliau bawa dari Allah dan kami hanya
menyembah Allah semata, kami tidak menyembah banyak Tuhan. Tetapi orang-orang
Quraisy menyerang dan menyiksa kami. Mereka mencegah kami dari beribadah
menurut agama kami dan memaksa kami menyembah berhala lagi. Kami datang ke
negeri tuan. Kami lebih memilih negeri tuan disbanding negeri lain. Maka dari
itu, kami meminta tuan untuk berlaku adil dan arif.’
Najasyi dengan sopan
berkata, ‘Apakah engkau mengetahui sesuatu yang disampaikan oleh rasulmu?’
Ja’far menjawab, ‘Ya.’
Najasyi, ‘Bacakan
untukku!’
Ja’far lalu mulai
membacakan beberapa ayat dari surah Maryam. Najasyi pun terharu. Air matanya
membasahi kedua pipinya. Para pemuka agama dan rahib-rahib istana ikut terharu.
Suara Ja’far terdengar syahdu.
Najasyi mendukung
firman-firman Allah ini dan berkata dengan lirih, ‘Tentu saja, apa yang telah
kau bacakan dan apa yang telah dibawa oleh nabi Isa berasal dari satu tempat
yang sama.’
Sang raja kemudian
berpaling pada utusan Quraisy dan berkata dengan marah, ‘Aku tak akan
menyerahkan mereka pada kalian dan aku akan membela mereka.’
Sang raja pun
memerintahkan pada prajurit kerajaan untuk mengusir utusan Quraisy tersebut dan
mengembalikan hadiah yang telah mereka berikan. Raja berkata, ‘Mereka telah
berusaha menyuapku dan aku tak ingin disuap.’
Raja berpaling pada
Ja’far dan umat muslim lainnya lalu berkata, ‘Kalian diterima di sini, begitu
pula dengan rasul kalian. Aku mengakui bahwa dia adalah seorang rasul yang
telah diberitakan oleh nabi Isa bin Maryam. Tinggallah sesuka kalian di
negeriku.’
Najasyi ingin
mengetahui kebiasaan dalam tata karma dalam Islam. Ia bertanya kepada Ja’far,
‘Bagaimana cara kalian saling bertegur sapa?’
Ja’far menjawab, ‘Kami
menyapa dengan mengucapkan assalamu’alaikum.’
Dikutip dari Belajar
Dari Kisah Kearifan Sahabat.
