Suatu
saat, terjadi peperangan antara pasukan khalifah Ali bin Abi Thalib melawan
para pemberontak Nashrawan. Seperti biasa, sebelum peperangan dimulai, diadakan
perang tanding satu lawan satu dari kedua belah pihak untuk menguji sejauh mana
kapasitas kekuatan individu kedua pasukan.
Ali
sendiri maju mewakili pasukannya. Ia memberi teladan bagaimana menantang maut
dengan kesatria. Ia mengejawantahkan prinsip kepemimpinan Umar bin Khathab:
Ketika umat ini sengsara, biarlah aku yang pertama merasakan kesengsaraan itu.
Dan sebaliknya, manakala mereka senang, biarlah aku orang terakhir yang
merasakan kesenangan itu. Atau sabda nabi saw, “Pemimpin terbaik adalah dia
yang bisa bertindak ibarat ‘pembantu’ bagi yang dipimpinnya.”
Seperti
biasa, lawan tanding Ali kali ini pun jatuh terkulai. Namun, ketika Ali akan
mengayunkan pedangnya untuk menghabisi seterunya itu, tanda diduga, tiba-tiba
sang musuh meludahi mukanya. Tak ayal, api kemarahan Ali serta-merta berkobar
hebat, sehingga semangat untuk menghabisi sang musuh semakin meledak-ledak di
dalam dadanya.
Akan
tetapi, sesaat menjelang pedang diayunkan, Ali mengucapkan istighfar dan
mengurungkan sabetannya. Lawan yang sudah tanpa daya itu dibiarkannya tetap
hidup dan Ali meninggalkan area perang tanding sembari menyarungkan pedangnya.
Para
pengikutnya heran dan bertanya-tanya. Ali mengatakan bahwa ia khawatir jika
sampai ia menghabisi musuh bukan karena membela kemuliaan Al-Islam, melainkan
sekedar memuaskan amarah.
Dikutip
dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.
