Suatu ketika, beberapa
orang menyampaikan laporan kepada perdana menteri Nizam Al-Muluk. Laporan itu
menyatakan bahwa seseorang yang kaya raya telah meninggal dunia dan hanya
meninggalkan seorang anak saudara perempuannya yang sudah yatim pula sebagai
pewaris tunggal. Selain itu dilaporkan pula bahwa harta pusaka tersebut harus
dimasukkan ke baitul mal. Nizam mengajukan masalah itu kepada Malik Syah,
tetapi ia tidak mendapat jawaban apa pun. Sang perdana menteri mengajukan lagi
masalah itu kepada raja tetapi beliau diam tak memberi jawaban.
Beberapa hari setelah
itu, Malik Syah pergi berburu. Nizam Al-Muluk ikut menemaninya disertai
beberapa amir. Perburuan selesai dan Malik Syah berdiri di atas sebuah gundukan
tanah dan memerintahkan para pengikutnya, “Aku lapar, bawa semua roti gandung
yang ada di pasar.”
Mereka menyajikan semua
roti dan amir-amirnya pun turut makan hingga kenyang. Kemudian Malik Syah
bertanya menyelidik, “Berapa harga yang harus kalian bayar untuk membeli
roti-roti ini?”
“Empat setengah sen.”
Kata para pengawal.
Malik Syah menoleh
kepada Nizam Al-Muluk, “Makhluk lemah dan miskin seperti Malik Syah dan seorang
perdana menteri seperti Nizam Al-Muluk serta para amir lainnya bisa makan
kenyang dengan harga empat setengah sen, mengapa kita harus mengambil alih
warisan anak yatim yang malang itu?”
Dikutip dari Belajar
Dari Kisah Kearifan Sahabat.
