Allah subhanahu wata'ala
berfirman, artinya,
"Dan sungguh akan Kami
berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta,
jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang
sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang
mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah
orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah:155-157)
Di dalam musnad Imam Ahmad, Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Tidaklah seorang hamba yang
ditimpa musibah mengucapkan, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, ya
Allah berilah aku pahala dalam musibahku ini dan gantilah untukku dengan
sesuatu yang lebih baik," kecuali Allah akan memberikan pahala dalam
musibahnya dan akan memberikan kepadanya ganti yang lebih baik." (HR.
Ahmad 3/27)
Kita Milik Allah dan Kembali
Kepada-Nya
Jika seorang hamba benar-benar
menyadari bahwa dirinya adalah milik Allah subhanahu wata’ala dan akan kembali
kepada-Nya maka dia akan terhibur tatkala tertimpa musibah. Kalimat istirja'
ini merupakan penyembuh dan obat paling mujarab bagi orang yang sedang tertimpa
musibah. Dia memberikan manfaat baik dalam waktu dekat maupun di waktu yang
akan datang. Kalimat tersebut memuat dua prinsip yang sangat agung. Jika
seseorang mampu merealisasikan dan memahami keduanya maka dia akan terhibur
dalam setiap musibah yang menimpanya.
Dua prinsip pokok tersebut
adalah:
Pertama; Bahwasanya manusia,
keluarga dan harta pada hakikatnya adalah milik Allah subhanahu wata’ala. Dia
bagi manusia tidak lebih hanya sebagai pinjaman atau titipan, sehingga jika
Allah subhanahu wata’ala mengambilnya dari seseorang maka ia ibarat seorang
pemilik barang yang sedang mengambilnya dari si peminjam. Demikian juga manusia
diliputi oleh ketidakpunyaan, sebelumnya (ketika lahir) dia tidak memiliki
apa-apa dan setelahnya (ketika mati) ia pun tidak memiliki apa-apa lagi.
Dan segala sesuatu yang dimiliki
oleh seorang hamba tidak lebih hanya seperti barang pinjaman dan titipan yang
bersifat sementara. Seorang hamba juga bukanlah yang telah menjadikan dirinya memiliki
sesuatu setelah sebelumnya tidak punya. Dan diapun bukanlah menjadi penjaga
terhadap segala miliknya dari kebinasaan dan kelenyapan, dia tak mampu untuk
menjadikan miliknya tetap terus abadi. Apapun usaha seorang hamba tidak akan
mampu untuk menjadikan miliknya kekal abadi, tidak akan mampu menjadikan
dirinya sebagai pemilik hakiki.
Dan juga seseorang itu harus
membelanjakan miliknya berdasarkan perintah pemiliknya, memperhatikan apa yang
diperintahkan dan apa yang dilarang. Dia membelanjakan bukan sebagai pemilik,
karean Allah-lah Sang Pemilik, maka tidak boleh baginya membelanjakan titipan
itu kecuali dalam hal-hal yang sesuai dengan kehendak Pemilik Yang Hakiki.
Ke dua; Bahwa kesudahan dan
tempat kembali seorang hamba adalah kepada Allah Pemilik yang Haq. Dan
seseorang sudah pasti akan meninggalkan dunia ini lalu menghadap Allah
subhanahu wata’ala sendiri-sendiri sebagaimana ketika diciptakan pertama kali,
tidak memiliki harta, tidak membawa keluarga dan anak istri. Akan tetapi
manusia menghadap Allah dengan membawa amal kebaikan dan keburukan.
Jika awal mula dan kesudahan
seorang hamba adalah demikian maka bagaimana dia akan berbangga-bangga dengan
apa yang dia miliki atau berputus asa dari apa yang tidak dimilikinya. Maka
memikirkan bagaimana awal dirinya dan bagaimana kesudahannya nanti adalah
merupakan obat paling manjur untuk mengobati sakit dan kesedihan. Demikian juga
dengan mengetahui secara yakin bahwa apa yang akan menimpanya pasti tidak akan
meleset atau luput dan begitu juga sebaliknya.
Allah subhanahu wata’ala
berfirman, artinya,
“Tiada sesuatu bencanapun yang
menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis
dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya
kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu
jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS.
Al-Hadid:22-23)
Lihat Nikmat yang Tersisa
Termasuk salah satu terapi dalam
menghadapi musibah adalah dengan cara melihat seberapa musibah dan seberapa
besar nikmat yang telah diterima. Maka akan didapati bahwa Allah subhanahu
wata’ala masih menyisakan baginya yang semisal dengannya, atau malah lebih baik
lagi. Dan jika seseorang bersabar dan ridha maka Allah subhanahu wata’ala akan
memberikan sesuatu yang lebih baik dan besar daripada apa yang hilang dalam
musibah, bahkan mungkin dengan berlipat-lipat ganda. Dan jika Allah subhanahu
wata’ala menghendaki maka akan menjadikan lebih dan lebih lagi dari yang ada.
Musibah Menimpa Semua Orang
Merupakan obat yang sangat
bermanfaat di kala musibah sedang menimpa adalah dengan menyadari bahwa musibah
itu pasti dialami oleh semua orang. Cobalah dia menengok ke kanan, maka akan
didapati di sana orang yang sedang diberi ujian, dan jika menengok ke kiri maka
di sana ada orang yang sedang ditimpa kerugian dan malapetaka. Dan seorang yang
berakal kalau mau memperhatikan sekelilingnya maka dia tidak akan mendapati kecuali
di sana pasti ada ujian hidup, entah dengan hilanganya barang atau orang yang
dicintai atau menemui sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup.
Kehidupan dunia tidak lain adalah
ibarat kembangnya tidur atau bayang-bayang yang pasti lenyap. Jika dunia mampu
membuat orang tersenyum sesaat maka dia mampu mendatangkan tangisan yang
panjang. Jika ia membuat bahagia dalam sehari maka ia pun membuat duka
sepanjang tahun. Kalau hari ini memberikan sedikit maka suatu saat akan menahan
dalam waktu yang lama. Tidaklah suatu rumah dipenuhi dengan keceriaan kecuali
suatu saat akan dipenuhi pula dengan duka.
Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu
berkata, "Pada setiap kegembiraan ada duka, dan tidak ada satu rumah pun
yang penuh dengan kebahagiaan kecuali akan dipenuhi pula dengan kesedihan.
Berkata pula Ibnu Sirin, "Tidak akan pernah ada senyum melulu, kecuali
setelahnya pasti akan ada tangisan."
Hindun binti an an-Nu'man
berkata, "Kami melihat bahwa kami adalah termasuk orang yang paling mulia
dan memiliki harta paling banyak, kemudian matahari belum sampai terbenam
sehingga kami telah menjadi orang yang paling tidak punya apa-apa. Dan
merupakan hak Allah subhanahu wata’ala bahwa tidaklah Dia memenuhi suatu rumah
dengan kebahagiaan, kecuali akan mengisinya pula dengan kesedihan." Dan
ketika seseorang bertanya tentang apa yang menimpanya maka dia mengatakan,
"Kami pada suatu pagi, tidak mendapati seseorang pun di Arab kecuali
berharap kepada kami, kemudian kami di sore harinya tidak mendapati mereka
kecuali menaruh belas kasihan kepada kami."
Keluh Kesah Melipatgandakan
Penderitaan
Di antara obat untuk menghadapi
musibah adalah dengan menyadari bahwa keluh kesah tidak akan dapat
menghilangkan musibah. Bahkan hanya akan menambah serta melipatgandakan sakit
dan penderitaan.
Musibah Terbesar Adalah Hilangnya
Kesabaran
Termasuk Obat ketika tertimpa
musibah adalah dengan mengetahui bahwa hilangnya kesabaran dan sikap berserah
diri adalah lebih besar dan lebih berbahaya daripada musibah itu sendiri.
Karena hilangnya kesabaran akan menyebabkan hilangnya keutamaan berupa
kesejahtaraan, rahmat dan hidayah yang Allah subhanahu wata’ala kumpulkan tiga
hal itu dalam sikap sabar dan istirja' (mengembalikan urusan kepada Allah).
Sumber: “Ilaj harril musibah wa
huzniha,” Imam Ibnul Qayyim (KM)
