Penulis:
Abu Muhammad *al-Maqdisi*
Muharram
1422.
Jabir
bin Abdullah رضي اللّٰه عنه berkata~sementara salah satu tangannya
membawa pedang dan mushaf di tangan satunya lagi: *"Rasulullah صلى اللّٰه عليه وسلم
memerintahkan kami untuk memukul dengan ini* (ia menunjuk pedang) *thd
orang yg menyimpang dari ini*(ia menunjuk mushaf al-quran)."
Ini
merupakan tafsir atas firman Allah:
لقد أرسلنا رسلَنا بالبيّنات
وأنزلنا معهم الكتابَ والميزانَ ليقومَ الناسُ بالقسط (الحديد : ٢٥ (
"Sungguh
Kami telah mengutus rasul Kami dgn bukti yang nyata dan Kami telah menurunkan
bersama mereka *kitab dan timbangan* supaya manusia *melaksanakan
keadilan*."
Maksud
dari diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab2 adalah *supaya manusia
menegakkan keadilan dlm hak Allah dan
hak makhluk-Nya.*
(Fatawa
Syaikhul Islam 28/263)
Sesungguhnya
diantara *hak Allah yang teragung* yang denganya seluruh rasul diutus dan semua
kitab diturunkan adalah *agar manusia merealisasikan tauhid,yg merupakan
pemurnian ibadah kpd Allah- dalam seluruh bidang kehidupan mereka*.
Oleh
karena itu seluruh da'wah para rasul dan semua kitab Allah yang diturubkan kepada
mereka dari yang pertama hingga yang terakhir *mencurahkan perhatian dan
berbicara tentang kebenaran yang agung (tauhid)
ini*, yang terangkum dalam:
~*Seruan
untuk merealisasikan* al-haq (tauhid)
ini dan menegakkannya, atau perintah untuk berda'wah kepadnya,bersabar dalam
memperjuangkannya, atau motivasi untuk berjihad dalam rangka merealisasikannya,
serta memberikan loyalitas dan permusuhan karena tauhid itu.
~*Berita
tentang pahala/balasan bagi* orang yang merealisasikan tauhid, menegakkannya,
menolongnya dan berjihad di jalan tauhid itu, serta *pahala yang agung dan
kenikmatan yang kekal yang dijanjikan Allah kepad mereka*.
~*Seruan
untuk melakukan baroáh/berlepas diri* dari kesyirikan dan celaan pada tauhid yang
merupakan pembatal tauhid, dan *seruan utk memerangi syirik dan ahli
syirik*,dan berusaha untuk menghancurkan dan membasmi kemusyrikan dgn segala
bentuknya sampai ke akarnya dari muka bumi.
~*Berita
tentang tempat kembalinya orang yang berpaling* dari perealisasian kebenaran
(tauhid) ini,orang yang memerangi tauhid dan memerangi walinya.
Tempat
kembali mereka adalah *kehinaan dan penyesalan, dan Allah janjikan kepada
mereka hukuman yang sangat buruk dan adzab yang kekal*.
Maka
dari itu seluruh kitab Allah dan semua risalah para Nabi dari yang pertama
hingga yang terakhir *merangkum kebenaran (tauhid) ini dan berputar di dalam
ranah tauhid.*
Oleh
karena itu *tauhid merupakan tujuan terbesar dan sasaran tertinggi* yang
karenanya makhluk diciptakan, rasul diutus dan kitab diturunkan.
Kemudian,Allah
berfirman:
وأنزلنا الحديدَ فيه
بأسٌ شديدٌ ومنافعُ للناس ولِيعلمَ اللّٰهُ مَن ينصرُه ورُسلَه بالغيب (الحديد :
٢٥ (
"dan
Kami telah menurunkan besi yang padanya pada kekuatan yang hebat dan berbagai
manfaat untuk manusia, supaya Allah mengetahui siapa yang menolong-Nya dan
(menolong) para rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya"
Maka
dari itu barangsiapa berpaling dari al-haq(tauhid) ini dan tidak menegakkannya
dengan adil serta menolak para rasul dan para da'i, maka ia diluruskan dengan
pedang.
Itulah
makna sabda Rasulullah صلى اللّٰه عليه وسلم:
"Aku
diutus dgn pedang menjelang hari kiamat, sehingga hanya Allah saja yang
diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya.Dan rizkiku dijadikan di bawah bayang
tombakku, kehinaan dan kerendahan/kekerdilan
dijadikan atas orang yg menyelisihi urusanku" (HR imam Ahmad dari
Ibnu Umar)
Maka
barangsiapa menyimpang dari kitab maka ia diluruskan dengan besi. Karena itu,
tegaknya agama adalah dengan mushaf dan pedang (al-Fatáwá 28/264).
Maka
sudah sepatutnya bagi para da'i yang jujur di setiap jaman agar menjadikan al-haq
(tauhid) ini sebagai *inti/poros da'wah mereka, pijakan/titik tolak pembicaraan
mereka, gambaran pemikiran mereka,dan sandaran timbangan mereka. Di lingkup
tauhid itulah mereka memiliki kekuatan besar untuk melakukan apapun (kecuali yang
bertentangan dengan tauhid), di sekitar tauhid mereka bersenandung, dan oleh
karena tauhidlah mereka diuji dan dipenjara, dan di bawah panji tauhid mereka
diperangi dan di bunuh*.
Hendaknya
mereka (para da'i) senantiasa berusaha
menegakkannya dengan cahaya kitab dan sunnah,dengan hujjah dan keterangan yang
nyata. Barangsiapa menentang dan menolaknya, maka ia diluruskan dengan besi.
Jika
pada suatu masa mereka para da'i mengalami kesulitan menggunakan besi,dan
tangan mereka tidak mampu melakukannya, maka *mereka tidak boleh menghilangkan
kewajiban ini, ataupun meninggalkannya*. Akan tetapi mereka harus terus
bergerak bersama kitab, dan berusaha beri'dad untuk menegakkan tauhid dengan
besi.
Setiap
orang yang mengetahui hakikat agama ini-hingga musuhnya sekalipun, *mereka
mengetahui bahwa agama ini adalah tauhid dan jihad,da'wah dan qital,mushaf dan
besi*.Mereka mengetahuinya dengan baik selama mereka senantiasa menolak
istiqomah di atas agama ini dan menolak menegakkannya dengan adil, maka agama
ini menolak mereka dan akan membasmi kebatilan mereka sampai ke akarnya di tiap
zaman dan tempat .Mereka mengetahui bahwa Muhammad صلى اللّٰه عليه وسلم diutus utk menyembelih mereka dan orang yang semisal mereka. Dengan
itu beliau menghadapi orang-orang dekatnya yakni keluarganya dan
kaumnya,manakala mereka menolak menegakkan agama ini dengan adil. Kemudian
beliau memberitahu mereka tentang tujuannya sebelum akhirnya beliau mampu
mencapainya dalam beberapa tahun. Maka beliau berkata: "Dengarlah wahai
orang Quraisy, demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sungguh aku datang
dengan sembelihan". Kemudian beliau benar-benar melaksanakan hal itu, dengan besi itu Allah
memuliakan Islam dan ahlul Islam.
Dan
Kami, insya Allah, selalu mengikuti jejak Nabi, menempuh manhajnya, menegakkan
sunnahnya dan berperang bersamanya.
وكأين من نبي قاتل معه
ربيون كثيرٌ،فما وهنوا لما أصابهم في سبيل اللّٰه، وما ضعفوا وما استكانوا، والله يُحب
الصابرين (آل عمران:١٤٦.(
"Dan
banyak sekali nabi yang bersama mereka
sejumlah besar pengikutnya yg bertakwa.Mereka tidak rapuh karena bencana yang
menimpa mereka di jalan Allah, tidak lemah, tidak pula menyerah (kepada musuh).
Allah mencintai orang yang sabar".
Syaikhul
Islam Ibnu Taymiyyah berkata:
"Sesungguya
keadaan Nabi yang banyak pengikut setianya yang berperang atau terbunuh
bersamanya, tidak harus Nabi ikut serta bersama mereka dalam perang,akan tetapi
setiap orang yang mengikuti Nabi dan berperang di atas agamanya maka sungguh ia
telah berperang bersama Nabi.
Inilah
yg dipahami para Sahabat,karena sebagian besar perang yang mereka ikuti terjadi
setelah wafatnya Nabiصلّى اللّٰه عليه وسلّم,hingga mereka menaklukkan(memfutuhkan) negeri
Syam, Mesir, Irak, negeri Ajam, Romawi,juga negeri di Barat dan di Timur.Pada
waktu itu orang yang bersamanya banyak yang
terbunuh. Sesungguhnya orang yang berperang dan tertimpa bencana sedangkan
mereka di atas agama para Nabi sangatlah banyak.
Dalam
ayat itu terdapat 'ibrah bagi tiap orang beriman sampai hari kiamat.
Oleh
karena itu, *sesungguhnya mereka semuanya berperang bersama Nabiصلّى اللّٰه عليه وسلّم,dan di atas agama Nabi,walaupun beliau
telah wafat.*
Mereka
itu masuk dalam firman Allah:
محمد رسول اللّٰه والذين
معه...(الفتخ : ٢٩ (
"Muhammad
adalah utusan Allah,dan orang yang bersamanya..."
والذين آمنوا من بعدُ
وهاجروا وجاهدوا معكم... (الأنفال:٧٥ (
"Dan
orang yang beriman sesudah itu,lalu berhijrah dan berjihad bersama kalian..."
Maka
kami nyatakan dengan lantang tentang tujuan kami dan memberitahu mereka bahwa
jika kami lemah pada hari ini, bukan berarti kami menghapus kewajiban ini dari
perhitungan kami, sekali-kali tidak,dan kami tidak punya dasar untuk
melakukannya.
Oleh
karena itu kami teramat sangat berdoa kepada Allah siang dan malam,dan memohon kepada-Nya pagi dan
petang agar Dia memampukan kami untuk (menebas) leher mereka dan leher setiap
musuh agama ini.
Dan
setiap gerak kami,diam kami,dan nafas kami merupakan i'dad untuk hal itu dan
bersiap siaga/memantau situasi.
Mereka
mengetahui hal itu dengan sangat baik, dan mengetahui juga penyimpangan dan
kegagalan sebagian da'i pecundang minder yang berusaha dengan sia-sia menelanjangi/memisahkan
kitab dari besi, dan mengetahui kebodohan da'i itu akan hakikat agama ini bahwa
si da'i itu telah menyimpang dari perintah Allah yang syar'i dan dari sunnah
kauniyah-Nya,dan tidak memahami dinul Islam.
Syaikhul
Islam Ibnu Taymiyyah berkata:
"Dinul
Islam itu adalah:keberadaan pedang yg mengikuti kitab; Ketika ilmu telah zhohir
dengan kitab dan sunnah,sedangkan pedang mengikutinya maka urusan Islam pasti
tegak."
Dan
beliau juga berkata: " *Tegaknya
agama adalah dg kitab yg memberi petunjuk dan pedang yang menolong,* *"وكفى بربك هاديا ونصيرا"/Dan cukuplah Tuhanmu sebagai pemberi
petunjuk dan penolong* (QS. Al-Furqan;
31)"(alFatáwá 20/393)
