Nabi
Muhammad saw mulai menyebarkan Islam. Hari demi hari ia mendapat banyak
pengikut baru. Tekanan kaum Quraisy terhadap beliau tidak mampu membendung arus
agama yang dibawanya.
Kini
bahkan orang-orang asing di luar Makkah banyak yang memeluk Islam. Keadaan ini
membuat gusar kaum kafir Quraisy. Mereka pun mengadakan pertemuan untuk
mendiskusikan bagaimana melakukan propaganda yang efektif bagi orang-orang di
luar Makkah agar mereka tidak masuk Islam.
Salah
seorang berdiri dan berkata, “Kita bisa mengatakan kepada orang-orang asing
bahwa Muhammad tidak lebih dari tukang rama.”
Walid
bin Mughirah berkata dengan nada protes, “Orang tidak akan mempercayai pendapat
ini, karena aku sering menemui banyak tukang ramal namun ucapan dan nasihat
Muhammad tidak mirip sama sekali dengan mereka.”
Orang
kedua menimpali, “Kalau begitu kita bilang saja pada mereka bila Muhammad itu
gila.”
Lagi-lagi
Walid membantah, “Ini pun tidak akan bisa meyakinkan orang.”
Orang
ketiga mengajukan usul, “Kita bilang bahwa Muhammad itu sekedar penyair.”
Walid
kembali menyanggah, “Aku sangat menguasai dunia syair, tetapi ucapan Muhammad
tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan syair.”
Orang
keempat berkata, “Dia itu tukang sihir.”
Walid
menimpali, “Keluhuran budi pekertinya, keagungan dakwahnya dan etika berpakaian
Muhammad tidak pernah terlihat pada seorang penyihir pun.”
Orang
kelima menanyakan kepada Walid tentang pendapatnya, lalu ia menjawab, “Aku
tidak tahu bagaimana mengurangi citra Muhammad di mata orang lain. Ucapannya
sangat murni, sangat indah dan memikat, sehingga bisa memisahkan anak dari
orang tuanya, orang tua dengan anaknya, istri dari suaminya, bahkan sesama
saudara.”
Dikutip
dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.
