Ahli kitab, Kristen dan
Yahudi, memberikan kabar baik tentang akan munculnya seorang nabi baru yang
waktunya akan segera tiba. Orang-orang arab mengabarkan hal itu. Mereka yang
mengolok-olok berhala menunggu sejak lama kedatangan nabi itu.
Suatu hari, seseorang
datang dari Makkah dan berkata pada Jundub, “Ada seorang lelaki di Makkah
berkata bahwa tiada Tuhan selain Allah dan mengaku bahwa dirinya adalah seorang
nabi.”
Jundub bertanya, “Dari
suku manakah ia?”
Orang itu menjawab, “Ia
berasal dari suku Quraisy.”
Jundub lalu bertanya
lagi, “Dari keluarga (bani) mana ia berasal?”
Orang itu kemudian
menjawab, “Dia berasal dari bani Hasyim.”
Jundub bertanya, “Apa
yang dilakukan suku Quraisy padanya?”
Orang Makkah itu
menjawab, “Mereka menuduhnya telah berbohong. Mereka berkata bahwa ia adalah
tukang sihir dan orang gila.”
Orang itu pun kemudian
pergi. Jundub pun berpikir dan berpikir lagi. Jundub berpikir untuk mengirim
saudaranya, Anis ke Makkah untuk mendapatkan kabar tentang nabi baru itu. Anis
pun kemudian berangkat ke Makkah. Anis menempuh ratusan mil perjalanan.
Dengan segera Anis
pulang kembali untuk memberitahu saudaranya, “Aku telah melihat seorang
laki-laki. Ia memerintahkan agar berperilaku baik dan menghindari perbuatan
keji. Ia mengajak mereka agar menyembah Allah. Aku telah melihat ia berdoa di
Ka’bah. Aku telah melihat seorang pemuda, yaitu Ali, berdoa di sampingnya. Aku
juga telah melihat seorang wanita, istrinya, Khadijah berdoa di belakang
mereka.”
Jundub bertanya, “Lalu,
apa lagi yang kalu lihat?”
Anis menjawab, “Itulah
yang kulihat. Tapi aku tak berani mendekatinya karena aku takut pada pemimpin
Quraisy.”
Jundub tak puas dengan
apa yang telah ia dengar. Lalu ia pun pergi menuju Makkah untuk mencari tahu
tentang nabi itu. Ketika anak muda dari suku Ghifar itu tiba di Makkah,
matahari sudah mulai tenggelam. Ia pun duduk di sudut Ka’bah untuk beristirahat
dan berpikir bagaimana caranya bertemu dengan nabi baru itu.”
Hari telah malam.
Ka’bah pun menjadi sepi. Sementara itu, datanglah seorang anak muda mendekati
halaman Ka’bah. Dia mulai mengitari Ka’bah.
Pemudia itu melihat
orang yang asing. Dia mendatanginya dan bertanya dengan sopan, “Anda bukan
orang sini, bukan?”
Jundub menjawab, “Ya.”
Pemuda tadi berkata,
“Mari kita ke rumahku.”
Jundub mengikuti saja
anak muda itu tanpa berkata apa-apa. Pada pagi harinya, Jundub pun berterima
kasih pada pemuda itu atas keramahannya. Jundub melihat pemuda tadi pergi
menuju sumur Zam-zam untuk bertemu nabi saw.
Sekali lagi, pemuda itu
datang dan mengelilingi Ka’bah. Dia melihat Jundub. Pemuda itu bertanya kepada
Jundub, “Bolehkan aku tahu di mana rumahmu?”
“Tidak!” Kata Jundub.
Anak muda itu berkata
lagi pada jundub, “Ikutlah denganku ke rumah.”
Jundub berdiri dan
pergi ke rumah pemuda itu. Kali ini Jundub hanya diam saja, sehingga pemuda itu
bertanya, “Tampaknya engkau sedang memikirkan sesuatu, apa keperluanmu?”
Dengan hati-hati,
Jundub berkata, “Akan aku beri tahu jika engkau berjanji akan merahasiakannya.”
Pemuda itu menjawab,
“Insya Allah aku akan merahasiakannya.”
Jundub merasa lega
ketika mendengar nama Allah. Lalu dengan pelan ia berkata, “Aku telah mendengar
tentang kemunculan seorang nabi di kota Makkah dan aku ingin melihatnya.”
Sambil tersenyum,
pemuda itu menjawab, “Allah akan menuntunmu. Akan kutunjukkan rumah beliau.
Ikuti aku, tapi jaga jarakmu. Jika aku melihat orang yang mencurigakan aku akan
berhenti, seolah-olah aku sedang membetulkan sandalku. Maka engkau jangan
berhenti dan teruskanlah jalanmu.”
Pemuda itu pergi menuju
rumah nabi Muhammad saw dan Jundub mengikutinya. Jundub sampai ke tempat nabi
saw dan bertemu dengan beliau. Jundub kini berada di hadapan manusia yang telah
mewujudkan seluruh akhlak baik.
Nabi Muhammad saw
bertanya pada tamunya, “Dari mana engkau berasal?”
Jundub menjawab, “Dari
suku Ghifar.”
Nabi Muhammad saw
bertanya, “Apa keperluanmu?”
Jundub berkata,
“Bagaimana caranya aku dapat menjadi penganut agamamu?”
Nabi Muhammad saw
berkata, “Dengan mengucapkan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku adalah
rasul Allah.”
Jundub bertanya lagi,
“Apa lagi?”
Nabi saw menjawab,
“Hindarilah perbuatan keji. Ikutilah akhlak yang baik. Berhentilah menyembah
berhala. Sembahlah Allah semata. Jangan menghamburkan uangmu. Jangan menganiaya
orang lain.”
Jundub sangat percaya
pada Allah dan rasulullah saw sehingga ia berkata, “Aku bersaksi bahwa tiada
Tuhan melainkan Allah dan engkau (Muhammad) adalah utusan-Nya. Aku telah puas
dengan menjadikan Allah sebagai Tuhanku dan engkau sebagai rasulku.”
Saat itulah pribadi
muslim yang baru telah lahir. Seorang sahabat besar, Abu Dzar Al-Ghifari yang
memiliki nama asli Jundub bin Junadah.
Abu Dzar berdiri dan
berkata dengan antusias, “Demi Allah, aku akan menyebarkan agama Islam.”
Sebelum Abu Dzar
meninggalkan rumah nabi saw, dia bertanya pada nabi saw, “Siapa pemuda yang
menunjukkan rumahmu padaku?”
Dengan bangga nabi
Muhammad saw menjawab, “Dia adalah sepupuku, Ali.”
Nabi Muhammad saw
menasihatinya, “Abu Dzar, rahasiakanlah keislamanmu dan pulanglah ke kampong
halamanmu.”
Abu Dzar menyadari
bahwa rasulullah saw mengkhawatirkannya karena orang Quraisy mungkin akan
membunuhnya.
Ia berkata, “Demi
Allah, aku akan menyebarkan Islam di antara orang-orang Quraisy apa pun
risikonya.”
Pada pagi harinya, Abu
Dzar pergi menuju Ka’bah, rumah suci Allah. Berhala-berhala itu diam di
tempatnya. Abu Dzar berteriak lantang, “Wahai Quraisy, aku bersaksi bahwa tiada
Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah.”
Kaum kafir Quraisy
terkejut. Salah seorang dari mereka berkata dengan lantang, “Siapa yang telah
mengganggu Tuhan kita?”
Dengan membabi buta,
mereka memukui Abu Dzar, sehingga ia jatuh pingsan. Darah mengalir dari
tubuhnya.
Al-Abbas sepupu nabi
Muhammad saw datang melerai dan menolongnya. Kemudian Al-Abbas berkata,
“Terkutuklah kalian! Apakah kalian ingin membunuh orang dari suku Ghifar?
Tidakkah kalian tahu bahwa kafilah dagang kalian melewati daerahnya?”
Abu Dzar siuman dan
pergi ke sumur Zam-zam. Dia meminum air itu dan membasuh luka di tubuhnya.
Sekali lagi, Abu Dzar
ingin menghadapi Quraisy dengan keyakinannya. Dia berjalan menuju Ka’bah.
Dengan lantang ia berkata, “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, tak ada
sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.”
Orang-orang Quraisy pun
menyerangnya bagai serigala. Mereka menghajarnya. Dia kemudian pingsan dan
jatuh ke tanah. Al-Abbas pun menyelamatkannya lagi.
Abu Dzar pergi menemui
nabi Muhammad saw dengan sedih, nabi Muhammad saw menatapnya. Kemudian, dengan
lembut nabi Muhammad saw berbicara padanya, “Kembalilah pada kaummu dan ajak
mereka masuk Islam.”
Abu Dzar berkata, “Aku
akan kembali pada kaumku dan takkan melupakan apa yang telah orang Quraisy
lakukan padaku!”
Abu Dzar kembali ke
sukunya dan mulai mengajak mereka menuju cahaya Islam. Maka, saudaranya Anis,
ibunya dan setengah anggota sukunya pun memeluk agama Islam.
Dikutip dari Belajar
Dari Kisah Kearifan Sahabat.
