Mula-mula Allah menurunkan Wahyu kepada rasulullah saw dalam
bentuk mimpi-mimpi yang benar. Allah swt kemudian melimpahkan kecintaan
berkhalwat, mengasingkan diri untuk beribadah kepada Allah, di gua Hira. Ia
membawa bekal makanan untuk persediaan dan pulang menemui khodijah, istrinya untuk
mengambil bekal makanan lagi, hingga Wahyu secara tiba-tiba diturunkan
kepadanya di gua itu.
Malaikat Jibril datang menemuinya seraya berkata, “Iqra’
(Bacalah)!”
Ia menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Malaikat itu mendekapnya dengan erat dan memerintahkan,
“Bacalah!”
Namun ia tetap menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Untuk kedua kalinya malaikat itu memeluk dan mendekapnya
hingga ia tak bisa bernafas. Malaikat itu pun berkata, “Bacalah!”
Lagi-lagi ia menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Lalu malaikat itu memeluknya untuk ketiga kalinya dan
berkata, “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia
dari segumpal darah beku. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah-yang mengajarakan
kepada manusia menggunakan pena. Mengajar manusia apa yang tak ia ketahui.” (QS.
Al-Alaq/96: 1-5).
Rasulullah saw pulang membawa Wahyu itu dengan hati yang
gundah-gulana. Ia menemui Khadijah ra, istrinya, sembari berkata, “Selimuti
aku! Selimuti aku!”
Khadijah menutupi tubuhnya dengan selimut hingga rasa
takutnya hilang. Setelah itu ia menceritakan apa yang dialaminya kepada
Khadijah ra, “Aku takut akan terjadi sesuatu yang menimpaku.”
Khadijah ra menjawah, “Sekali-kali tidak! Demi Allah! Allah
tidak akan pernah memberimu aib. Sebab, engkau orang yang senantiasa menyambung
silaturahmi (persaudaraan), menolong orang miskin, mengusahakan kerja bagi yang
papa, memuliakan tamu dan memberikan bantuan kepada orang-orang yang ditimpa
musibah.”
Khadijah ra kemudian mempertemukan nabi saw dengan
sepupunya, Waraqah bin Naufal, pemeluk agama Nasrani yang berpegang pada kitab
injil yang berbahasa Ibarani. Khadijah ra berkata, “Sepupuku, dengarkanlah
kisah kemenakan laki-lakimu ini!”
Waraqah bertanya, “Kemenakanku, apa yang telah kau lihat?”
Nabi saw pun memaparkan apa yang telah dilihatnya. Mendengar
penuturan beliau, Waraqah berkata, “Ia adalah Namus (Malaikat Jibril) yang
diutus Allah kepada Musa. Seandainya aku masih muda dan hidup hingga datangnya
masa ketika kaummu mengusirmu…”
Rasulullah saw bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”
Waraqah menjawab, “Benar, setiap laki-laki yang datang
dengan sesuatu yang mirip dengan yang kau bawa, pasti dia akan dimusuhi.
Seandainya aku hidup hingga datangya masa itu, niscaya aku akan membelamu
dengan seluruh kemampuanku.” Selang beberapa hari setelah itu, Waraqah bin
Naufal meninggal dunia.
Dikutip dari Belajar Dari Kisah Kearifan Sahabat.
