Majdi As-Sayyid Ibrahim
--------------------------------------------------------------------------------
"Artinya : Dari Abu Bakar
bin Sulaiman Al-Qursyi, dia berkata. 'Sesungguhnya ada seorang laki-laki dalam
kalangan Anshar yang mempunyai bisul. Lalu ditunjukkan bahwa Asy-Syifa' binti
Abdullah dapat mengobati bisul dengan ruqyah. Maka laki-laki Anshar itu mendatanginya
lalu meminta agar dia mengobatinya lalu meminta agar dia mengobatinya dengan
ruqyah. Asy-Syifa' berkata. 'Demi Allah, aku tidak lagi mengobati dengan ruqyah
sejak aku masuk Islam'. Lalu laki-laki Anshar itu pergi menemui Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengabarkan kepada beliau tentang apa yang
dikatakan Asy-Syifa'. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil
Asy-Syifa, seraya berkata. 'Perlihatkanlah (ruqyah itu) kepadaku !'. Maka dia
pun memperlihatkannya. Lalu beliau berkata. 'Obatilah dia dengan ruqyah, dan
ajarkanlah ia kepada Hafshah sebagaimana engkau mengajarkan Al-Kitab
kepadanya'. Dalam suatu riwayat disebutkan : 'Mengajari menulis". (Hadits
shahih, ditakhrij Al-Hakim 4/56-57, menurutnya, ini adalah hadits shahih menurut
syarat Asy-Syaikhani. Yang serupa dengan ini juga ditakhrij dari jalan lain
oleh Abu Dawud, hadits nomor 3887, Ahmad 6/372)
Wahai Ukhti Muslimah !
Wasiat Nabawi ini mencakup dua
bagian.
Pembahasan tentang pengobatan
dengan menggunakan ruqyah. Masalah ini sudah kami kemukakan dalam salah satu
dari wasiat-wasiat beliau terdahulu. (ML-Assunnah tidak memuatnya -peny)
Pengajaran tentang pengobatan dan
menulis bagi para wanita.
Wahai Ukhti Muslimah !
Islam adalah agama persamaan,
yang mempersamakan antara laki-laki dan wanita dalam masalah pahala dan siksa.
Islam menganjurkan laki-laki dan wanita agar memikirkan ciptaan Allah dan
berusaha untuk mendapatkan keridhaan-Nya.
Berangkat dari penjelasan ini,
maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mewasiatkan Asy-Syifa' agar mengajarkan
ruqyah kepada Ummul Mukminin, Hafshah, setelah dia mengajarinya cara menulis.
Jadi, wanita juga harus belajar,
mendatangi majlis-majlis ilmu dan bertanya kepada orang-orang yang berilmu
tentang segala hal yang hendak diketahuinya, berupa urusan-urusan agamanya,
jika sang suami tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu. Tetapi yang
dimaksudkan disini bukan sekedar ilmu yang diakhiri dengan memperoleh ijazah
agar bisa mendapatkan pekerjaan. Tetapi yang dimaksudkan ilmu di sini adalah
apa yang terkandung di dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Karena bagaimana mungkin engkau
akan merasa puas jika engkau hanya menguasai ilmu yang berkaitan dengan urusan
dunia, tetapi engkau tidak tahu urusan akhirat ? Atau bagaimana mungkin engkau
berusaha untuk mendapatkan ilmu dunia, sementara engkau juga melakukan hal-hal
yang membuat Allah marah, seperti ber-tabarruj, membuka aurat dan mementingkan
hawa nafsu ?
Memang benar, para orang tua
tidak bisa mencegah anak-anak putrinya untuk mencari ilmu. Tetapi bagaimana
mungkin seorang ayah membiarkan anak putrinya pergi mencari ilmu, sedangkan dia
tidak shalat, tidak pernah membaca Al-Qur'an dan bahkan tidak tahu hukum-hukum
yang mestinya diketahui oleh wanita secara khusus dari urusan-urusan agamanya ?
Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa mencari ilmu karena Allah, merupakan
gambaran ketakutan, mencari ilmu adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih,
menganalisisnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang-orang yang tidak tahu
adalah shadaqah, membiayai orang yang mencari ilmu adalah qurban, dan ilmu
merupakan pendamping tatkala sendirian, dalil atas agama, Allah mengangkat
suatu kaum karenanya, menjadikannya sebagai bukti dalam kebaikan dan dengan
ilmu pula ibadah kepada Allah bisa menjadi sempurna, yang halal dan yang haram
pun bisa diketahui.
Begitulah agama kita mengangkat
kedudukan ilmu dan orang yang berilmu, menganjurkan laki-laki dan wanita untuk
mencarinya. Tetapi bagaimana mungkin engkau berusaha mati-matian mendalami ilmu
yang bisa mendukung kesuksesanmu di dunia, seperti ilmu arsitektur, kedokteran
dan ilmu-ilmu lain, namun engkau melalaikan hal-hal yang memasukkanmu ke sorga
dan menjauhkanmu dari neraka ?
Dengan cara melakukan
instropeksi, engkau bisa bertanya kepada diri sendiri : Sejauh mana hukum-hukum
dan ilmu agama yang engkau ketahui. Jika engkau mendapatkan kebaikan di sana,
maka pujilah Allah, karena ini berasal dari karunia dan taufiq-Nya kepadamu.
Dan, jika engkau mendapatkan selain itu, maka memohonlah ampun kepada Allah,
kembalilah kepada-Nya dan carilah bekal dengan ilmu agamamu. Karena hal yang
paling baik ialah mendalami agamamu, dan penderitaan adalah bagi orang-orang
yang terpedaya oleh hal-hal yang tampak gemerlap dari ilmu-ilmu dunia, namun
dia tidak memperdulikan ilmu akhirat. Firman Allah tentang hal ini.
"Artinya : Dan, barangsiapa
berpaling dari pengetahuanku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit,
dan Kami akan menghimpun-nya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thaha
: 123)
Begitulah wasiat Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menganjurkan para wanita agar berusaha
mencari ilmu dan mendapatkannya.
