Allah Ta’ala berfirman,
{لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ
مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ
إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الإيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ
بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلا إِنَّ
حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ}
“Kamu tidak akan mendapati
sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang
dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah
orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan
menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya, dan Dia menempatkan mereka di
dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
Allah ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan
rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan
Allah itulah golongan yang beruntung” (QS al-Mujaadilah:22).
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di (dlm
kitab tafsirnya) ketika menafsirkan ayat ini berkata, “…Seorang hamba tidak
akan menjadi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat dengan
(keimanan) yang sebenarnya kecuali setelah dia mengamalkan kandungan dan
konsekwensi imannya, yaitu mencintai dan berloyalitas kepada orang-orang yang
beriman (kepada Allah), serta membenci dan memusuhi orang-orang yang tidak
beriman, meskipun mereka orang yang terdekat hubungannya dengannya.
Allah berfirman :
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى
أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ
مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ}
“Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu menjadikan orang-orang yahudi dan Nasrani sebagai kekasih/teman
dekat(mu); sebagian mereka adalah kekasih bagi sebagian yang lain. Barangsiapa
di antara kamu menjadikan mereka sebagai kekasih/teman dekat, maka sesungguhnya
orang itu termasuk golongan mereka” (QS. al-Maa-idah:51)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
berkata, “Jika keimanan dan kecintaan di dalam hati seorang (muslim) kuat, maka
hal itu menuntut dia untuk membenci musuh-musuh Allah”[Kitab “majmu’ul fataawa”
(7/522)]
