Oleh : Muhammad Ali Akbar
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Segala puji hanya milik Allah subhanahu wata’ala, Rab semesta alam. Shalawat beriring dengan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hari itu,
tanggal 1 atau 2 juni 2016. Tawaran untuk safari ramdhan ( tugas dakwah
di bulan ramadhan) ke Nunukan akhirnya tertuju kepadaku, rasa syukur
dan bahagia meliputi hariku di saat itu. Betapa tidak, hal yang
kutunggu-tunggu sejak semester empat di An-Nuur akhirnya terwujud di
semester enam.
“ Ali Akbar, antum tugas di Nunukan” kata mas’ul hari
itu yang bertugas untuk membacakan tabel daerah penugasan kepada
mahasiswa semester enam . “insyaAllah keberangkatan dibiayai oleh
Adwa’ul Bayan” lanjutnya.
Tugas di Nunukan memang terkesan hebat dan
menyenangkan karena temapatnya yang terletak di perbatasan Indonesia
Malaisya. terkesan seperti keluar negri ,he he he. Untuk menginjakkan
kaki di tanah Malaisya hanya membutuhkan waktu setengah jam perjalanan
menggunakan perahu.
Perjalanan ke pulau Nunukan membutuhkan kekuatan
fisik yang ekstra dan kesabaran yang tak terhingga serta wawasan yang
luas, hal itu karena jaraknya yang sangat jauh dan jenis kendaraan yang
digunakan untuk sampai ke sana juga bermacam macam, lewat darat, udara
dan laut. mulai dari bis, pesawat, hingga speedbot atau kapal.
Banyak
dari teman teman MA(ma’had aly an-nuur) yang mengatakan bahwa sayalah
yang paling beruntung dalam penugasan safari ramadhan tahun ini, karena
tempat yang akan saya tuju adalah tidak lain dan tidak bukan rumah
tempat tinggal orang tua saya sendiri yaitu Nunukan.
Setelah hal ini
saya sampaikan kepada orang tua, dengan senang hati mereka langsung
mengabarkannya juga kepada tokoh masyarakat sekitar dan sesegera mungkin
nama saya tercantum dalam jadwal kultum dan ceramah ramadhan yang
dibuat langsung oleh kemenag Nunukan. Sungguh kelihatan aneh tapi nyata,
anak yang dulunya kelihatan “bandel” kini kembali dengan membawa gelar
UST alias ustadz, berdiri di depan orang banyak menyampaikan mau’idhoh
islamiyah dari mushalla yang kecil hingga masjid agung yang megah. Wal
hamdulillah.
JAZAKUMULLAHU KHAIRAN KATSIRA saya ucapkan kepada
MADINA( majelis dakwah islam indonesia) selaku panitia SAHDAN ( semarak
dakwah Islam Ramadhan ), dan juga terimakasih saya kepada YAYASAN
ADWAUL BAYAN selaku yayasan yang siap untuk menanggung biaya tranportasi
perjalanan saya dari keberangkatan hingga kembali ke Ma’had Aly.
Atsabakumullahu ajran ‘adzima.
BAB 1
LAPORAN KEGIATAN DAN KONDISI MEDAN DAKWAH
A. Kondisi alam dan letak geografis
Kabupaten
Nunukan merupakan satu di antara 5 kabupaten/kota di Propinsi
Kalimantan Utara, dengan luas wilayah sebesar 14.263,68 km2. Berdasarkan
geografisnya, Kabupaten Nunukan terletak di wilayah paling Utara
Kalimantan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga yaitu
Malaysia, tepatnya pada posisi 3o 30’ 00” – 4o 24’ 55 Lintang Utara dan
115o 22’30’’ – 118o 44’55’’ Bujur Timur. Secara administratif memiliki
batas–batas wilayah sebagai berikut :
-Sebelah utara dengan Negara Malaysia Timur – Sabah;
-Sebelah timur dengan Selat Makassar dan Laut Sulawesi;
-Sebelah selatan dengan Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Malinau; dan
-Sebelah barat dengan Negara Malaysia Timur – Serawak.
Dengan
letak geografis tersebut, Kabupaten Nunukan memiliki potensi besar
untuk mengembangkan jalinan hubungan internasional dengan dunia luar
khususnya negara Malaysia.
B. Kondisi Masyarakat
Dari
sisi agama, masyarakat di Nunukan mayoritas beragama Islam namun yang
mendominasi adalah NU kemudian Muhammadiyah, PKS, Persis, salafi, DDI
bahkan ada syi’ahnya meskipun belum terang terangan. Dari sisi kesukuan,
masyarakat di Nunukan mayoritas adalah pendatang dan yang mendominasi
adalah suku Bugis, kemudian Jawa, Tator, Madura, dayak. Justru penduduk
asli pribumi adalah minoritas.
Mata pencahariannya rata rata adalah
pedagang, hal itu bisa disimpulkan karena pulau Nunukan terkenal dengan
sebutan pulau transit, di mana orang-orang indonesia yang ingin keluar
negeri seperti malaisya misalnya, maka mereka harus mampir dan singgah
di pulau ini, dan begitupun sebaliknya orang-orang luar negeri yang
ingin masuk ke Indonesia juga harus mampir di pulau ini guna mengurus
pembuatan paspor, namun setelah beberapa tahun terakhir ini, setelah
adanya kebijakan dari pemerintah bahwa paspor dapat dibuat di wilayah
mana saja dan tidak harus di daerah perbatasan ini, tingkat ekonomi
masyarakat mulai menurun karena berkurangnya pengunjung atau musafir
yang singgah di pulau ini.Selain pedagang, PNS juga banyak, petani
budidaya rumput laut dan nelayan.
Mata uang ada dua yaitu RP(rupiah)
dan RM(ringgit malaisya), jika belanja menggunakan rupiah maka tidak
menutup kemungkinan kempaliannya adalah ringgit, daan begitupun
sebliknya.
Menurut saya, masih sangat sedikit sekali dari masyarakat
Nunukan yang paham akan dinul Islam sesuai dengan peamahaman ahlussunnah
wal jama’ah yang diajarkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, itu
dapat dilihat dari cara berpakaian mereka yang masih jauh dari syar’i,
kepedulian mereka terhadap ibadah dan kurangnya mereka dalam
memeraktikkan adab adab Isam. Mungkin hal itu dikarenakan kebanyakan
penduduknya adalah perantau atau pendatang sehingga mereka labih
menyibukkan diri dengan usaha dan bisnisnya.
Secara garis besar,
masyarakat Nunukan itu masih awwam kecuali hanya segelintir orang saja.
Jika dia NU maka dia adalah Nu yang awwam, aura nahdiyinnya tidak begitu
kental, begitu pula dengan muhamadiyahnya, sehingga masih ada harapan
untuk bisa diishlah tashawur islaminya atau islamic wordlviewnya .
C. Aktifitas Selama Tugas
Selama
satu bulan bertugas, saya benyak melaksanakan kegiatan yang bersifat
dakwah, pedekatan dan pengenalan, terutama mengenalkan Yayasan QOLBUN
SALIM yang ada Nunukan selaku pj(penanggung jawab da’i daerah Kaltara),
MADINA selaku lembaga pengiriman dai ke Nusantara dan ADHWAUL BAYAN
selaku fasilitator tranportasi da’i pp.
Di antara kegiatan da’i sebagai berikut:
1) Mengisi pengajian rutin ahad sore sebelum ifthar hingga menjelang ifthar(buka puasa).
2) Kegiatan TPA jaddi jam 5 sore hingga menjelang magrib selain hari ahad
3) Imam shalat tetap di mushalla al-Barokah selama sebulan, kecuali ada uzdur
4) Kultum subuh selama ramadhan di mushallah al-Barakah kecuali udzur
5) Membimbing tahfidzul qur’an untuk anak-anak masyarakat sekitar mushalla al-Barakah selama ramadhan setiap ba’da shalat subuh
6) Imam tarwih sekaligus penceramah di mushalla al-Barakah kecuali ada jadwal dari Kemenag.
7)
Ceramah dan kultum Ramadhan dari mushalla kecil hingga masjid agung
sesuai dengan jadwal yang dicantumkan oleh Kemenag. Belum termasuk
jadwal yang bersifat permintaan dadakan di luar daripada kemenag.
8) Khutbah jumat sebanyak 4 kali selama ramadhan
9)
Mengadakan pengajian dan bimbingan kepada masyarakat seputar tajhizul
janaiz(mengurus mayat dari sakaratul maut hingga pemakaman)
10) Kunjungan kerumah tokoh masyarakat dan tokoh agama masyarakat sekitar
11) Khutbah ‘id sekaligus imam di masjid an-Nuur di pulau sebakis(wilayah prusahaan kelapa sawit Nunukan)
12) Panitia pembagian zakat kepada masyarakat sekitar mushalla al-Barakah
D. Kendala Yang Dihadapi Selama Tugas
Selama
masa tugas alhamdulillah terasa lancar-lancar saja, walaupun ada
beberapa kendala namun meneurut saya tidak bagitu berpengaruh kecuali
satu, mengubah mensed dan pandangan sebagian tokoh agama Nunukan tentang
yayasan Qolbun Salim. Sebagian mereka masih ada yang memandang Qolbun
salim dengan pandangan sebelah mata, hal itu bisa jadi dikarenakan
yayasan ini yang masih muda dan baru muncul di beberapa tahun terakhir
ini, sehingga dianggap masih kecil. Selain itu yayasan ini belum
memiliki da’i atau ustadz yang bertitel atau kapabel betul dalam ilmu
din, mengingat selera dan standarisasi masyarakat setempat yang
tinggi—jika tidak ada titel maka tidak didengar atau dianggap angin
lewat begitu saja—berbeda jika yang berbicara mepunyai titel seperti
Spd.i, S.ag, LC, dll. Walaupun pemahaman dinnya masih biasa biasa saja
tapi akan tetap didengar karena titelnya.
Mungkin, menghadirkan
ustadz yang kapabel dalam ilmu din dan memilika skil da’i yang
profesiaonal adalah menjadi PR kita bersama untuk saat ini.
BAB II
PEMBANGUNAN SIMPUL
Untuk
pembangunan simpu di daerah Nunukan belum terlaksana dengan maksimal,
belum ada yang perlu ditindak lanjuti secara serius. Sementara ini
Yayasan setempat masih berkonsentrasi untuk menguatkan simpul yang telah
ada dan memperkuat jalilinan persaudaraan antara ikhwan-ikwan Nunukan
yang sempat kendor beberapa tahun terakhir ini.
Sementara itu, ada
beberapa dari kerabat dan teman akrab orang tua da’i sendiri yang siap
menitipkan anaknya di tahun yang akan datang untuk disekolahkan di
pondok-pondok pesantren yang ada di jawa, dan sebagian dari ikhwan sudah
ada yang menyekolahkan anak-anaknya di pondok pesantren “kita” untuk
dikader menjadi da’i ilallah.
BAB III
REKOMENDASI STRATEGIS
Bagi
saya, tempat strategis belum begitu nampak karena waktu yang begitu
singkat—satu bulan ramadhan—saja , sementara disibukkan dengan jadwan
yang ada. Namun yang pelu untuk di kembangkan adalah pendekatan kepada
tokoh-tokoh agama dan masyarakat yang ada di Nunukan kota untuk meraih
kemajuan dibidang lobisasi dan ekonomi yayasan.
BAB IV
PENUTUP
Usul dan Saran:
Alangkah
baiknya jika ada ustadz yang menetap di Nunukan, bertitel dan kepabel
dalam ilmu din, seta mempunyai hafalan qur’an yang banyak, kalau bisa
yang hafidz sekalian, mengingat di Nunukan belum ada seorang hafidz
kecuali satu orang, itupun saya belum tau persis siapa orangnya kerena
masih katanya dan katanya. Nah, jika yayasan setempat memiliki ustadz
seperti yang disarankan, maka itu akan sangat berpengaruh sekali untuk
kelancaran dakwah dan membangun imej bahwa “kita” ada untuk ummat.
