Dari permulaan agama
Islam sudah berpengaruh pada golongan menengah, kaum pedagang, dan buruh di
bandar-bandar (hal ini terjadi hampir di mana-mana pun agama Islam berkembang,
lebih-lebih di Asia Tenggara dan Nusantara). Seperti lazimnya, pelaut-pelaut
menyebarkan agama Islam di antara teman-teman sederajatnya. Rasa persaudaraan
dalam agama antarbangsa itu, yang pada asasnya tidak mengakui adanya perbedaan
keturunan, golongan, dan suku antara para pemeluknya, ternyata mempunyai daya
tarik pada para pedagang dan pelaut, yang berbeda-beda tempat asalnya dan
mempunyai berbagai-bagai adat istiadat dan cara hidup. Dalam pergaulan hidup
masyarakat golongan menengah yang berdagang ini, agama Islam yang memajukan
sifat sama rata itu menciptakan tata tertib dan keamanan seraya menonjolkan
kerukunan kaum Islam. Hukum pernikahan Islam, yang pada dasarnya tidak mengenal
halangan berdasarkan perbedaan keturunan, golongan, dan suku, merupakan
pembaruan besar dalam pergaulan hidup yang terpecah-pecah.
Gambaran Jawa mengenai
para penyebar agama Islam pertama di Jawa Timur memberikan beberapa petunjuk
bahwa mereka termasuk golongan menengah kaum pedagang itu. Sunan Giri pada masa
mudanya adalah anak angkat Nyai Gede Pinatih, wanita pedagang kaya di Gresik.
Sunan Giri sendiri berlayar untuk urusan dagang ke Kalimantan Selatan (Babad
Gresik, hat. 23). Ki Gede Pandan Arang, yang kemudian disebut Sunan Bayat,
bekerja pada wanita penjual beras. Sunan Kalijaga berpendapat bahwa menyamar
sebagai penjual alang-alang itu tidak merendahkan derajatnya (Rinkes,
"Heiligen", jil. IV, hat. 440-441).
Di mana pun di
kota-kota bandar bila telah terbentuk masyarakat Islam, masjid niscaya segera
dibangun; itu merupakan suatu keharusan. Masjid menduduki tempat penting dalam
kehidupan masyarakat; ia merupakan pusat pertemuan orang-orang beriman dan
menjadi lambang kesatuan jemaat.
Ada alasan untuk
menduga bahwa dalam Kerajaan Majapahit di sana-sini terdapat pasar dan pusat
jaringan perdagangan di pedalaman, lebih-lebih di sekitar tempat penyeberangan
sungai yang banyak jumlahnya itu. Di sana tinggal kelompok-kelompok orang yang
hidupnya terutama dari perdagangan dan lalu lintas. Dalam buku Pigeaud, Java,
hal itu mendapat perhatian (jil. V, hal. 44, di bawah: "trade"
"tradespeople", "traveling"; dan jil. IV, hal. 416-432:
catatan atas terjemahan prasasti Biluluk tahun 1366 hingga 1395). Dapat diduga
bahwa sudah sejak abad ke-14 banyak terlibat orang-orang bukan Jawa dalam
perdagangan dan lalu lintas pedalaman. Mereka itu orang-orang Indocina, yang
mempunyai adat kebiasaan sendiri, juga di bidang keagamaan (Pigeaud, Java, jil.
IV; hal. 409 dst. : catatan pada terjemahan Ferry Charter). Menurut tradisi
Jawa, seorang adipati, bawahan raja di Terung (= tempat tambang penting di
Sungai Brantas) dan yang memiliki darah Cina, telah melantik imam pertama
masjid tua di Ngampel Denta. Itu suatu contoh cerita yang menjelaskan adanya
hubungan antara Islam golongan menengah, perdagangan serta lalu lintas, dan
orang-orang Cina.
Dikutip dari
Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD
