Dahulu kala, ada
seorang pemuda bani Israel yang telah membunuh 99 orang. Ia mendatangi seorang
pendeta dengan maksud bertobat. Sang pendeta menjawab bahwa dosanya sudah
terlalu besar, maka tobatnya tidak akan diterima oleh Allah. Atas jawaban tak
memuaskan itu ia marah dan dibunuhlah sang pendeta. Sehingga genaplah korbannya
menjadi 100 orang.
Ia lalu mendatangi
seorang pendeta yang lain dan menanyakan tentang kemungkinan diterima atau
tidak jika ia bertobat. Pendeta tersebut menjawab, ‘sebesar apa pun dosa
seseorang, selama ia mau bertobat, maka Alalh akan mengampuninya, selagi itu
bukan dosa syirik (menyekutukan Allah).’ Sang pendeta menyarankan agar ia
hijrah dari desanya, ke desa seberang. Sebab, desanya berpotensi untuk selalu mengarahkan
dirinya berbuat dosa lagi, sedangkan desa seberang berpotensi mengarahkan pada
yang sebaliknya.
Lelaki pembunuh itu pun
menuruti petunjuk pendeta. Namun, di tengah perjalanan, ia terjatuh dan mati.
Terjadilah perdebatan antara malaikat azab dan malaikat rahmat. Mereka berebut
untuk membawa lelaki itu. Malaikat azab bersikeras membawanya ke neraka dengan
alasan ia pendosa besar, pembunuh 100 nyawa manusia. Sebaliknya, malaikat
rahmat bersikukuh untuk membawanya ke surga, dengan alasan bahwa lelaki itu
telah bertobat.
Allah mengutus malaikat
penengah. Disepakati, bahwa tempat di mana lelaki itu mati diukur jaraknya;
lebih dekat pada desa yang dituju ataukah pada desa yang ditinggalkan. Jika
lebih dekat ke desa yang dituju ia berhak dibawa malaikat rahmat ke surge.
Namun bila lebih dekat ke desa yang ditinggalkan, malaikat azab berhak
membawanya ke neraka. Setelah diukur, ternyata tempat di mana lelaki itu mati
lebih dekat pada desa yang dituju. Akhirnya diputuskan, lelaki itu adalah hak
malaikat rahmat untuk dibawanya ke surga.
Dikutip dari Belajar
Dari Kisah Kearifan Sahabat.
