Suma Oriental karangan
petualang Portugis, Tome Pires, melukiskan keadaan di Jawa sekitar tahun 1515.
Menurut dia, perpindahan kekuasaan politik ke tangan orang-orang Islam terjadi
dengan dua cara:
Pertama:
Bangsawan-bangsawan Jawa yang "kafir" dengan sukarela memeluk agama
baru itu; di tempat-tempat mereka memegang kekuasaan (dan tetap berkuasa),
pedagang-pedagang Islam mencapai martabat tinggi. Demikian juga para
cendekiawan agama Islam yang tinggal di rumah para pedagang.
Kedua: Orang-orang
asing yang beragama Islam, dari bermacam-macam bangsa, bertempat tinggal di
kampung (factorij) tersendiri di Bandar-Bandar, membuat rumah mereka menjadi
kubu pertahanan; dari tempat-tempat itulah mereka mengadakan serangan-serangan
terhadap perkampungan orang-orang "kafir"; akhirnya mereka merebut
seluruh pemerintahan bandar.
Gambaran peristiwa
menurut Pires itu agaknya mudah diterima. Mungkin sekali Pires berpendapat,
dalam hal yang kedua itu para penguasa setempat yang asli dan bukan Islam itu
gugur dalam pertempuran atau melarikan diri. Bagaimanapun jelaslah bahwa-is
memberikan peranan penting kepada kalangan pedagang yang beragama Islam.
Bolehlah diperkirakan
bahwa proses pengislaman yang pertama itulah yang tertua, dan bahwa
Bandar-Bandar kuno di pantai utara Jawa Timur dengan cara demikian itu menjadi
Islam. Kota Tuban adalah contoh perkembangan demikian itu. Pengislaman dengan
jalan kekerasan itu konon terjadi di Bandar-Bandar di pantai utara Jawa Tengah,
yakni Demak dan Jepara.
Suatu catatan Pires
yang penting ialah yang berikut ini. Menurut dugaannya, pedagang-pedagang Islam
yang semula dari golongan menengah dan kadang-kadang bangsa asing, setelah
mencapai kekuasaan dan kehormatan, mengubah tingkah laku dan cara hidup mereka.
Dari pedagang mereka menjadi cavaleiros, kesatria golongan bangsawan, kemudian
mendapat hak untuk memiliki tanah. Berdasarkan pernyataan Pires, dapat diduga
bahwa memeluk agama Islam belum berarti tercapainya perubahan besar dalam
susunan politik kota-kota di pantai utara Jawa. Bahkan juga tidak di
tempat-tempat keturunan penguasa yang bukan Islam, yang dengan jalan kekerasan
dipaksa menyerahkan kedudukan mereka kepada "orang kaya baru", yang
menurut asal usulnya adalah orang-orang asing dan pelaut.
Dikutip dari
Kerajaan-kerajaan Islam Di Jawa, DR. H.J. DE GRAFF, DR. TH. G.TH. PIGEAUD