Ada banyak rahasia di balik
kewajiban ibadah puasa. Allah mengatakan dalam Al Qur'an Surah Al Baqarah ayat
183, ''Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa,
sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu
bertakwa.''
Jadi, puasa adalah jalan menuju
ketakwaan kepada Allah SWT, dan orang yang berpuasa adalah orang yang terdekat
dengan Tuhannya. Saat perutnya kosong, hatinya bersih, ketika hatinya merasakan
kepuasan, saat rongga perutnya merasakan haus, matanya menangis. Dalam sebuah
hadits, Rasulullah berkata, ''Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian
telah mampu untuk menikah, hendaknya ia menikah. Sebab nikah dapat
mengendalikan pandangan mata dan dapat menjaga kesucian faraj. Orang yang tidak
mampu, hendaknya ia berpuasa. Sebab puasa baginya menjadi tameng.''
Adapun hikmah-hikmah
disyariatkannya puasa antara lain:
Pertama, puasa mempersempit
aliran makanan dan darah yang notabene merupakan aliran setan, sehingga dengan
demikian bisikannya menjadi sedikit.
Kedua, puasa melemahkan syahwat,
hasrat jahat dan keinginan maksiat sehingga ruh menjadi tak ternoda.
Ketiga, puasa mengingatkan orang
yang berpuasa bahwa di antara saudara-saudaranya yang berpuasa ada yang
kelaparan, membutuhkan pertolongan, fakir, dan miskin. Ibadah puasa mendidik
pelakunya agar ia mau mengasihi, menyayangi dan menolong mereka.
Keempat, puasa adalah media
pendidikan jiwa, pensucian hati, pengendalian pandangan, dan menjaga anggota
tubuh dari dosa.
Kelima, puasa adalah rahasia
antara hamba dan Tuhannya. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, Allah SWT
berfirman, ''Setiap amal anak Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Ia adalah
untukku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.''
Sebab, tak ada yang mengetahui
puasa seseorang kecuali Allah SWT. Para salafushshaleh (ulama terkemuka zaman
dahulu) mengenal puasa sebagai media pendekatan kepada Allah, medan pacu dalam
kebaikan, musim berbuat kebaikan. Mereka menangis karena gembira menyambutnya,
dan menangis sedih karena berpisah dengannya.
Mereka mencintai Ramadhan,
berusaha keras dalam bulan Ramadhan; mengorbankan diri mereka dalam bulan
Ramadhan; menjadikan malam sebagai saat untuk shalat, ruku', sujud, menangis
dan khusyu'; sedangkan siang digunakan untuk berdizkir, membaca Alquran,
mengajar, berdakwah, dan memberi nasehat.
Keenam, para salaf, berdasarkan
riwayat yang shahih, duduk di masjid dengan Alquran mereka; membaca dan
menangis; menjaga lidah dan mata dari hal-hal haram.
Ketujuh, puasa adalah alat
pemersatu kaum Muslimin. Mereka berpuasa pada waktu bersamaan, dan buka pada
saat yang sama pula. Merasakan lapar bersama, makan bersama, dengan rukun dan
penuh persaudaraan, dengan cinta dan kesetiakawanan.
Kedelapan, puasa adalah penghapus
kesalahan dan penyirna kejahatan. Nabi bersabda, ''Dari satu Jumat ke Jumat
lain, dari satu umrah ke umrah lain, dari satu Ramadhan ke Ramadhan lain adalah
kaffarat (penghapusan dosa-dosa) selama bukan termasuk dosa besar.''
Kesembilan, puasa sungguh sehat
untuk tubuh, sebab ia mengosongkan perut dari semua materi yang destruktif,
mengistirahatkan pencernaan, dan membersihkan darah. Selain itu, menormalkan
kerja hati, ruh menjadi cerah, jiwa menjadi bersih, dan akhlak menjadi terbina
karenanya.
Kesepuluh, bila seseorang
berpuasa, maka dirinya terasa kerdil di hadapan Allah; hatinya mudah trenyuh;
rasa rakusnya menipis; syahwatnya sirna; sehingga dengan demikian doanya
dikabulkan karena kedekatannya kepada Allah SWT.
Kesebelas, dalam puasa terdapat
rahasia agung, yakni ketaatan menyembah Alah SWT, patuh atas segala
perintah-Nya, tunduk kepada syariah-Nya, meninggalkan hasrat makan, minum dan
bersetubuh untuk mencari keridhaan-Nya.
Kedua belas, puasa merupakan
kemenangan seorang Muslim mengalahkan hawa nafsunya; kemenangan seorang Muslim
atas dirinya.
Ketiga belas, puasa adalah
eksprimen luar biasa bagi jiwa agar ia berada pada kondisi siap seratus persen
untuk menanggung beban dan menghadapi persoalan; siap menunaikan
pekerjaan-pekerjaan penting dan agung seperti jihad fi sabilillah; menginfakkan
harta benda di jalan Allah dan berkurban.
Ika, dikutip dari 30 Renungan
Ramadhan karya Syaikh 'Aidh Abdullah Al-Qarni
