Idealnya orang
tua (baik ayah maupun ibu ) pasti ingin menjadi orang yang uatama dan pertama
dalam memberikan informasi seputar seksualitas pada anak-anaknya. Akan tetapi
faktanya dewasa ini, anak-anak lebih nyaman mencari informasi tentang
seksualitasnya dari sumber-sumber yang tidak dapat dipertanggung jawabkan
kebenarannya seperti internet, media social, teman sekolah dan lain-lain.
Apabila
ditanyakan mengapa hal itu dapat terjadi, maka 1001 alasan yang mereka
kemukakan antara lain : “Nyokap gw KEMAL (KEpo maksiMAL)”, “Bokap dan nyokap gw
CUPU (CUlun PUnya) gak mungkin mereka tahu tentang yang beginian” atau “Bingung
mau mulai ngomongnya darimana”, “takut dituduh macam-macam” dan lain-lain.
Kalau boleh
sedikit saja instrospeksi diri , salah satu yang mengakibatkan hal ini terjadi adalah
karena adanya persepsi orang tua yang salah tentang seksualitas sehingga banyak
orang tua yang salah memahami pertanyaan anak, merasa persepsinya paling benar
dan sangat yakin bahwa anak memiliki persepsi yang sama dengan orang tua.
Seringkali orang
tua pada umumnya menyamakan bicara tentang seksualitas atau dalam hal ini
adalah pubertas dengan seks (mengajarkan cara berhubungan seks). Padahal cara
berhubungan seks adalah instink, tidak perlu diajarkan, sudah tahu dengan
sendirinya.
Tidak heran
apabila kemudian banyak orang beranggapan bahwa bicara pubertas sebagai bagian
dari seksualitas adalah hal yang tabu, porno, jorok ; sehingga tidak perlu
membahas permasalahan ini dengan anak.
Padahal disisi
lain, anak-anak sangat membutuhkan orang yang dapat menjawab keingintahuan
mereka, butuh orang yang dapat membimbing mereka ke arah yang benar dan
mendukung hari-hari mereka. Apabila anak-anak tidak dapat memperoleh hal-hal
ini, maka akan fatal akibatnya.
Kondisi remaja
kita saat ini banyak dilingkupi oleh minuman keras, NAPZA (Narkotika dan ZAt
Adiktif), pornografi, kecanduan gadget, beban kurikulum sekolah yang berat,
konten program / acara yang tanpa filter, tekanan sebaya, bullying dan
pergeseran nilai ke arah nilai-nilai yang serba boleh.
Remaja kita
seringkali menjadi galau ketika teman-teman sebayanya berkata, “Kalau gak
ngerokok, elo cupu, kayak banci”, padahal kalau di survey mungkin akan terlihat
bahwa lebih dari 90% banci adalah perokok. Remaja kita saat ini menjadi lebih
berani menabrak norma masyarakat dan bahkan nilai-nilai agama. Kalau dulu untuk mengungkapkan rasa cinta
cukup dengan sms : I love You, I Miss You , tapi smsnya sekarang menjadi : “Yang,
dah lama gak ML neech, Bokap nyokap lagi keluar, ke rumah donk, ML yuk”. Atau
fenomena meningkatnya penjualan kondom pada waktu-waktu tertentu seperti pada
malam tahun baru maeshi, Hari Valentine, bahkan sebelum Ramadhan dan setelah 1
Syawal.
Kondisi ini
kemudian diperparah dengan kurangnya waktu bersama keluarga. Seringkali kita
sebagai orang tua kurang menyediakan waktu untuk anak-anak kita. Tidak
menyediakan waktu tapi hanya sekedar menyisakan waktu, padahal anak-anak adalah
amanah yang harus dijaga, mereka adalah investasi dunia dan akhirat. Allah akan
meminta pertanggung jawaban kita atas pendidikan yang kita berikan kepada
mereka. Pendidikan yang berorientasi pada akhirat dan bukan semata-mata
memanjakan mereka dengan fasiitas keduniawian.
Kebanyakan orang
tua yang cenderung memanjakan anka-anak mereka, memberikan apapun yang mereka
minta dan tidak membiarkan anak-anak berada dalam kesulitan-kesulitan walaupun
hanya kesulitan kecil. Padahal ini semua dapat menjadi bumarang bagi para orang
tua, di dunia dan akhirat.
Nah, kembali
pada topic bicara pubertas, sebagai bagian dari seksualitas, apabila topic ini
tidak dibicarakan dengan remaja, maka karena rasa keingintahuan yang besar
serta diperparah dengan paparan pornografi yang dahsyat, remaja pada akhirnya
akan mencari sendiri sumber-sumbernya.
Gap komunikasi
ini kemudian berkontribusi etrhadap maraknya bermunculan kasus anak-anak yang
ketagihan video porno, kasus anak yang menjadi korban pedofil, kasus aborsi
pada remaja, MBA (Married by Accident) dan lain-lain.
Sementara
pendidikan seks sekuler yang saat ini digembar gembirkan hanya berfokus pada
perilaku seks yang aman dan sehat. Aman dalam arti tidak dilakukan dengan
paksaan atau dilakukan atas dasar suka sama suka, sehat dalam arti tidak
menulatkan penyakit. Tidak penting apakah hubungan itu dilakukan dalam
pernikahan atau tidak, bahkan tidak penting juga apakah itu dilakukan dengan
sesama jenis atau lawan jenis. Karena pendidikan seks sekuler memandang semua
ini sebagai sebuah pilihan. Na’udzubillah.
Dengan kondisi
diatas, maka sangat epat apabila di ABG, kita berikan pendidikan seksualitas
dengan pendekatan Islam. Karena dalam Islam, pendidikan seksualitas adalah
bagian yang tidak terpisahkan dari syari’at Islam. Bukan pada perilaku aman dan
sehat saja tapi juga semua itu harus dilakukan dalam koridor agama,
Ada 3 aspek
pendidikan seks dalam Islam :
1.
Aspek Aqidah :
Harus dipahami bersama bahwa tujuan
asal manusia melakukan kegiatan terkait dengan seksualnya adalah dalam rangka pengabdian kepada Allah
SWT, sehingga semua hal bernilai ibadah.
2.
Aspek Syari’ah
karena dilakukan dalam rangka
pengabdian kepada Allah SWT, maka pendidikan seks tidak boleh menyimpang dari
tuntunan syari’at Islam
3.
Aspek Akhlaq
Pendidikan seks ini sejatinya harus dapat menjadi pedoman untuk dapat
berakhlaqul karimah bersumber dari Al Qur’an dan sesuai dengan yang dicontohkan
Rasulullah SAW.
Terlepasnya
pendidikan seks dari ketiga unsur tersebut akan menyebabkan :
Jadi pelaksanaan
pendidikan seks tidak boleh menyimpang dari tuntunan syari’at islam.
Parung Bingung –
Depok, 15 Desember 2015
Lucy Herny- Islamic Parenting Consultant
facebook; lucy herny
sms/wa; 0858-8271-8087
Lucy Herny- Islamic Parenting Consultant
facebook; lucy herny
sms/wa; 0858-8271-8087
