Oleh: Faiz Ibrahim
ســـــــــــــــــــــورة القدر
بِسْمِ اللَّهِ
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
إنِآَّ
أَنزَلْنَاهُ فيِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآأَدْرَاكَ مَالَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرُُ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ
رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى
مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya
(al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala
urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS.Al-Qodar:
1-5)
Peristiwa Malam Lailatul
Qodar
Abu Ja'far At-Thabari menjelaskan maksud ayat di atas
bahwa Allah ta'ala telah menurunkan Al-qur'an ke langit dunia secara
keseluruhan pada malam Lailatul Qodar, yaitu malam al-hukum, disebut demikian
karena Allah Ta'ala menetapkan di dalamnya keputusan untuk satu tahun."
Ibnu Abbas berkata, "Allah ta'ala telah menurunkan Al-qur'an ke langit
dunia secara sempurna pada malam
Lailatul qodar dan jika Allah menghendaki untuk menurunkan wahyu darinya kepada
Rosulullah saw, maka turunlah wahyu."[1]
Kemudian Allah ta'ala menurunkan kepada Nabi Muhammad secara bertahab sesuai
dengan kejadian dan keadaan selama 23 tahun.[2]
Makna Lailatul Qodar
Imam Al-Qurtuby menyebutkan bahwa dinamakan lailatul
qodar, karena pada malam tersebut Allah ta’ala menetapkan perkara-perkara sesuai
dengan kehendaknya untuk tahun yang akan datang, yang meliputi perkara tentang
kematian, ajal, rezeki dan yang lainnya. Kemudian menyerahkan urusan tersebut kepada empat
malaikat yaitu Jibril, Mikail, Isrofil dan Izro’il.
Ibnu Abbas berkata, “Ditulis (pada malam tersebut) dari
umul kitab segala sesuatu yang akan terjadi pada tahun tersebut, dari perkara
rezeki, turunnya hujan, kehidupan, kematian sampai masalah haji. Dan beliau
berkata; “Allah ta’la menetapkan sesuatu pada malam pertengahan sya’ban,
kemudian urusan tersebut diserahkan kepada para pengembannya pada malam
lailatul qodar.
Yang lain berkata; “Dinamakan lailatul qodar karena
keagungan dan kemulian serta keistimewaan malam tersebut.” Karena pada malam
tersebut Allah ta’ala menurunkan kebaikan, berkah serta ampunan.
Sahl berkata, “Karena Allah ta’ala menurunkan rahmat
kepada kaum mukminin pada malam tersebut.” Sedangkan Al-Kholil berkata, “Karena
bumi terasa sempit karena dipadati oleh para malaikat pada malam tersebut.”[3]
Imam As-Syaukani menjelaskan dalam tafsirnya bahwa
dinamakan lailatul qodar karena ketaatan-ketaatan pada malam tersebut memiliki
kadar yang agung dan pahala yang banyak. Al-Khalil berkata, "Dinamakan
demikian karena bumi pada malam itu menjadi sempit karena penuh dengan malaikat[4]
Lebih
Baik Dari Seribu Bulan
Ahlu Ta'wil berbeda pendapat
mengenai makna "Malam
kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan" adalah sebagai berikut:
-
Dari mujahid
beliau menafsirkan ayat ini bahwa amal shalih, puasa, dan qiyamul lail pada
malam lailatul qodar lebih baik dari seribu bulan."
-
Amru bin Qois
Al-mala'I berkata, "Amal Shalih di dalamnya lebih baik dari amal shalih
selama seribu bulan."[5]
-
Sufyan berkata, “Pada
ayat ini Allah ta’ala menjelaskan tentang keagungan serta kemulian malam
tersebut.” Keutamaan malam tersebut tersebut terjadi karena banyaknya
fadhilah-fadhilah yang bisa digapai di dalamnya. Mayoritas Ahlu tafsir
berpendapat bahwa maksud ayat tersebut
adalah amal yang dikerjakan di dalamnya lebih baik dari seribu bulan.[6]
-
Sufyan At-Tsauri
berkata, “Imam Mujahid telah mengabarkan kepadaku bahwa tentang ayat ini beliau
berkata, ‘Amal sholih, siyam, dan qiyamul lail pada malam tersebut lebih baik
dari ibadah 1000 bulan.”[7]
Asbabul
Nuzul
Sedangkan Asbabul nuzul ayat ini
adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud beliau pernah berkata, “Nabi
saw pernah bercerita tentang seseorang dari Bani Isro’il yang mengangkat
senjata di jalan Allah selama seribu bulan, kemudian para Sahabat merasa heran
dan ta’ajub. Maka ketika itu Allah ta’ala menurunkan ayat yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam
kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Maksudnya malam lailatul qodar lebih baik dari
seseorang dari Bani Isra’il yang berjihad di jalan Allah selama seribu bulan.
Imam Al-Qhurtubi menjelaskan bahwa
pada zaman terdahulu seseorang tidak dikatakan Ahul ibadah sampai beribadah
selama seribu bulan. Allah ta’ala menetapkan untuk umat ini suatu malam yang
lebih baik dari seribu bulan yang dilakukan oleh ahli ibadah tersebut.
Imam Malik dalam Al-Muwatha’ berkata
dari riwayat Ibnu Qosim dan yang lainnya, saya mendengar dari seseorang yang
lebih tsiqah darinya berkata, “Sesungguhnya pernah diperlihatan kepada
Rosulullah umur umat-umat terdahulu, sedangkan umur umatnya amat pendek
sehingga tidak mampu menandingi amalan yang dikerjakan oleh umat-umat terdahulu,
karena umur mereka sangat panjang. Maka Allah Ta’ala menetapkan malam lailatul
qodar yang lebih baik dari seribu bulan.[8]
Imam Mujahid berkata, “Pada zaman dahulu ada seorang
laki-laki dari Bani Isra'il yang melaksanakan qiyamul lail hingga pagi hari,
kemudian berjihad memerangi musuh-musuhnya pada siang harinya sampai datang
waktu sore. Laki-laki tersebut melakukan hal demikian selama 1000 bulan. Maka
turunlah ayat (الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرُُ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ) yang menjelaskan bahwa qiyamul lail pada malam
lailatul qodar itu lebih baik dari yang diamalkan oleh laki-laki tersebut.[9]
Para Malaikat Turun Mengatur Segala Urusan
Ibnu Jarir At-Thabari menafsirkan
"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril berkata,
"Ahlu ta'wil berbeda dalam menafsirkan ayat ini. Sebagian dari mereka
berkata, "Maksud dari ayat ini adalah para malaikat turun dan Jibril
bersama mereka pada malam lailatul qodar
"dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan"
yaitu izin Rabb mereka untuk mengatur segala urusan yang Allah putuskan pada
tahun itu dari rezeki, ajal dan yang lainnya."[10]
Imam
Al-Quthubi berkata, Malaikat pada malam tersebut akan turun dari segala penjuru
langit yaitu dari Sidromuntaha menuju ke bumi, sedangkan malaikat Jibril berada
ditengah-tengah mereka. Para malaikat tersebut
akan mengamini do’anya manusia hingga terbit matahari.”
Keselamatan
Pada Malam Lailatul Qodar
Imam Al-Qotadah berkata ketika menafsirkan Firman Allah "Malam
itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”
Maksudnya malam itu penuh dengan kebaikan hingga terbit fajar." Ibnu Zaid
menafsirkan ayat di atas bahwa malam itu tidak terjadi keburukan, akan tetapi
penuh dengan kebaikan semuanya sampai terbit fajar."[11]
Dari Nafi’ dan yang lainnya berkata,
“Pada malam lailatul qodar penuh dengan
kebaikan dan keselamatan dan tidak ada keburukan di dalamnya.” Ad-Dhahak
berkata Allah tidak mentakdirkan pada malam tersebut kecuali keselamatan,
sedangkan pada malam yang lainnya Allah ta’ala menetapkan keselamatan dan juga musibah.”
Imam Mujahid berkata, “Malam itu adalah malam keselamatan karena setan tidak
mempunyai kemampuan untuk berbuat keburukan dan kejahatan.” As-Sya’bi berkata.
“Para malaikat pada malam tersebut mengucapkan
salam kepada penghuni masjid, sejak tenggelamnya matahari hingga terbitnya
matahari. Tatkala berpapasan dengan setiap muslim, maka akan berkata
keselamatan bagimu wahai orang mukmin.”[12]
Ibnu Katsir menjelaskan, pada malam lailatul qodar
malaikat dengan jumlah yang sangat banyak, mereka turun bersamaan dengan
turunya berkah, rahmah. As-Sya'by berkata tentang firman Allah
Ta'ala: (مِنْ
كُلِّ أَمْرٍ سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ) yaitu salamnya
malaikat pada malam lailatul qodar kepada penghuni masjid sampai terbit
fajar."[13]
Kapan
Terjadinya?
o
Abu Hurairah
berkata, “Malam Lailatul qodar terjadi pada bulan Romadhan
bukan setiap tahun.”
o
Abu Hanifah
berkata, “Malam tersebut terjadi pada semua tahun, beliau bersandar kepada
perkataan Ibnu Mas’ud, barang siapa yang melaksanakan qiyamul lail setahun
penuh, niscaya akan mendapatkan lailatul qodar.
o
Jumhur
berpendapat: Malam lailatul qodar terjadi pada setiap tahun yaitu pada malam
bulan Ramadhan.[14]
o
Dari Abdillah bin Umar berkata,
"Rosulullah pernah ditanya tentang malam lailatul qodar dan saya
mendengarnya sendiri beliau menjawab,
"هي في كل رمضان"
"Lailatul
qodar terjadi pada setiap bulan ramadhan."
(Diriwayatkan oleh Abu Daud, 1387)
o
Dari Ubadah bin As-Shamid, bahwasannya dia
bertanya kepada Rosulullah tentang lailatul qodar, maka beliau bersabda,
"في رمضان، فالتمسوها في العشر الأواخر، فإنها في وتْر إحدى وعشرين،
أو ثلاث وعشرين،
أو خمس
وعشرين، أو سبع وعشرين، [أو تسع وعشرين] (6) أو في آخر ليلة"
"Pada bulan
Ramadhan, maka berusaha untuk mendapatkannya pada 10 malam terakhir.
Sesungguhnya terjadi pada malam ganjil ke-21, 23, 25, 27, 29 atau pada malam
terakhir." (Al-Musnad: 5/321)
Penentuan
Malam Lailatul Qodar
o
Para ulama
berselisih pendapat dalam menentukan malam lailatul qodar, sedangkan pendapat
mayoritas berpendapat bahwa lailatul qodar adalah malam ke dua puluh tujuh.
Berhujah dengan hadist Ziru bin Hubays, saya berkata kepada Ubay bin Ka’ab
bahwa saudaramu Abdullah ibnu mas’ud pernah berkata, “Barang siapa yang qiyamul
lail setahun penuh, niscaya akan mendapatkan lailatul qodar.” Maka Ubay
berkata, “Mudah-mudahan Allah memberi ampunan kepada Abi Abdurrahman! Sungguh
dia mengetahui bahwa malam lailatul qodar itu terjadi pada sepuluh akhir di
bulan Ramadhan yaitu malam ke dua puluh tujuh, akan tetapi beliau berkata
demikian supaya manusia tidak menggantungkan diri pada malam tersebut. Saya
berkata, “Dari mana engkau mengetahui hal itu?” Ubay menjawab, “Saya mengetahui
dari ayat yang disampaikan oleh Rosulullah kepada kami dan matahari ketika itu terbit
dengan tidak bersinar.” (At-Thirmidzi hadist hasan shahih yang dikeluarkan oleh
Imam Muslim).
o
Al-Hasan, Ibnu
Ishak dan Abdullah Ibnu Zubair berkata, “Lailatul qodar terjadi pada malam ke
dua puluh tujuh dari bulan ramadhan, yaitu pada malam yang pagi harinya terjadi
perang badar. Hal ini sebagaimana perkataan A’isyah, Mu’awiyah dan Ubay bin
Ka’ab bersandar kepada firman Allah ta’ala:
وَمَآأَنزَلْنَا
عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللهُ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan kepada
apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) dihari Furqaan, yaitu di
hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Penguasa segala sesuatu. (QS. 8:41)
Sedangkan
pendapat yang shahih mashur malam lailatul qodar terjadi pada 10 malam terakhir
di bulan ramadhan ini perkataan Imam Malik, As-Syafi’I, Al-Auza’I, Abi Tsaur,
dan Ahmad. Namun Imam Syafi’I condong kepada malam kedua puluh satu.”
o
Malam Ke 25. dari
Ibnu Abbas bahwa Nabi saw bersabda,
الْتَمِسُوهَا
فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ
تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى
"Carilah lailatul qodar pada
sepuluh malam terakhir pada bulan ramadhan yaitu malam ke-29, 27 dan malam ke-25
terakhir." (Al-Bukhari)
o
Malam ke-29
Rosulullah bersabda, Dari Abu Hurairah, Bahwa Rosulullah saw pernah bersabda
tentang malam lailatul qodar:
"إنها ليلة سابعة -أو: تاسعة -وعشرين، وإن الملائكة تلك الليلة
في الأرض أكثر من عدد الحصى"
"Yaitu malam ke-27,
atau ke-29, dan sesungguhnya malaikat yang berada di bumi lebih banyak dari
butiran pasir."(Musnad At-Thayalisy :2524)
Tanda-Tandanya
Imam Al-Qurthubi berkata: Tandanya adalah matahari
terbit pada pagi harinya berwarna putih dan tidak bersinar.[15] Dari
Ziru bin Hubays berkata, "Saya mendengar Ubay bin Ka'ab berkata ketika
dikatakan kepadanya bahwa Abdullah bin Mas'ud pernah mengucapkan bahwa barang
siapa yang qiyamul lail setahun, niscaya akan mendapatkan lailatul qodar,
lantas Ubay berkata, "
وَاللَّهِ
الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا
يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ
الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ
تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا(مسلم)
"Demi Allah yang tidak tuhan selainnya
sesungguhnya Lailatul qodar terjadi pada bulan Ramadhan," beliau
bersumpah dan tidak beristisna' "Demi Allah sungguh saya mengetahui
suatu malam yang Rosulullah menyeruh kami untuk menegakkannya yaitu malam ke-27
dan di antara tandanya ialah matahari terbit pagi harinya berwarna putih dan
tidak bersinar." (H.R. Muslim)
"إن أمارة ليلة القدر أنها صافية بَلْجَة،
كأن فيها قمرًا ساطعًا، ساكنة سجية، لا برد فيها ولا حر، ولا يحل لكوكب يُرمَى به فيها
حتى تصبح. وأن أمارتها أن الشمس صبيحتها تخرج مستوية، ليس لها شعاع مثل القمر ليلة
البدر، ولا يحل للشيطان أن يخرج معها يومئذ"
"Tanda lailatul qodar adalah langit nampak cerah, terang
seolah-olah ada bulan yang berkilauan diam dan tenang, hawa tidak terasa dingin
dan panas, tidak ada bintang yang dilempar hingga pagi hari. Sedangkan tanda
yang lainnya, matahari terbit datar pada pagi harinya, tidak bersinar seperti
rembulan pada malam purnama. Dan tidak
diperkenalkan bagi setan untuk keluar pada
malam hari tesebut." (Al-Musnad: 5/324)
Dari Ibnu Abbas ra bahwasannya Rosulullah bersabda tentang
lailatul qodar
"ليلة سمحة طلقة، لا حارة ولا باردة، وتصبح شمس صبيحتها ضعيفة
حمراء"
"Malam yang sejuk tidak
panas dan tidak dinginn serta pagi harinya matahari terbit berwarna merah nan
redup." (Musnad At-Thayalisy: 2680)
Keutamaan
Malam Lailatul Qodar
o
Di dalam
Shahihain yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah Rosulullah bersabda,
"من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تَقَدَّم
من ذنبه"
"Barang siapa yang melaksanakan
qiyamul pada malam lailatul qodar karena iman dan mengharap pahala dari Allah,
niscaya akan diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu." (H.R.
Al-Bukhari: 1901, Muslim: 760)
Dari Ubadah bin Shamid Rosulullah
bersabda,
"ليلة
القدر في العشر البواقي، من قامهن ابتغاء حسبتهن، فإن الله يغفر له ما تقدم من ذنبه
وما تأخر، وهي ليلة وتر: تسع أو سبع، أو خامسة، أو ثالثة، أو آخر ليلة". وقال
رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إن أمارة ليلة القدر أنها صافية بَلْجَة، كأن
فيها قمرًا ساطعًا، ساكنة سجية، لا برد فيها ولا حر، ولا يحل لكوكب يُرمَى به فيها
حتى تصبح. وأن أمارتها أن الشمس صبيحتها تخرج مستوية، ليس لها شعاع مثل القمر ليلة
البدر، ولا يحل للشيطان أن يخرج معها يومئذ"
"Lalilatul
qodar terjadi pada sepuluh malam terakhir, barang siapa yang menegakkannya
mengharap pahala dari Allah Ta'ala. Maka Allah akan mengampuni dosa-dosanyang
telah lalu dan yang akan datang yaitu pada malam ganjil, ke-29, 27, 25, 23 atau
pada malam terakhir." Dan Rosulullah bersabda, Tanda lailatul qodar adalah
langit nampak cerah, terang seolah-olah ada bulan yang berkilauan diam dan
tenang, hawa tidak terasa dingin dan panas, tidak ada bintang yang dilempar
hingga pagi hari. Sedangkan tanda yang lainnya, matahari terbit datar pada pagi
harinya, tidak bersinar seperti rembulan pada malam purnama. Dan tidak diperkenalkan bagi setan untuk keluar
pada malam hari tesebut."
(Al-Musnad: 5/324)
o
Dari Abi Hurairah beliau berkata,
"قد جاءكم شهر رمضان،
شهر مبارك، افترض الله ليكم صيامه، تفتح فيه أبواب الجنة، وتغلق فيه أبواب الجحيم،
وتغل فيه الشياطين، فيه ليلة خير من ألف شهر، من حُرم خَيرَها فقد حُرم" .
"Telah datang kepada kalian bulan
Ramadhan, bulan berkah, Allah mewajibkan puasa pada bulan
tersebut, pintu-pintu jannah dibuka, sedangkan pintu neraka ditutup,
setan-setan dibelenggu, dan terdapat satu malam lebih baik dari seribu bulan.
Barang siapa yang terhalangi untuk berbuat kebaikan di dalamnya, maka sungguh
dia terhalangi untuk mendapatkannya." (Al-Musnad: 2/230) (Sunan An-Nasa'i:
4/129)
As-Sya’bi berkata, “Malam lailatul qodar
sama seperti siang harinya.” Al-Fira’ berkata, “Pada malam Lailatul qodar Allah
tidak menetapkan takdir kecuali takdir yang membahagiakan dan penuh dengan
kenikmatan.’ Saib bin Musayib berkata, “Barang siapa yang hadir sholat isya’
pada malam lailatul qodar, maka sungguh dia telah mendapatkaan bagian darinya.[16]
Amalan
Yang Utama Pada Malam Lailatul Qodar
o
Aisyah berkata,
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر، أحيا الليل، وأيقظ أهله،
وشد المئزر.
"Adalah
Rosulullah saw jika telah masuk hari kesepuluh, maka beliau menghidupkan malam
harinya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya."
(H.R. Al-Bukhari: 2024 dan Muslim: 1174)
o
Dan disunnahkan untuk memperbanyak do'a pada
setiap waktu, terlebih pada bulan Ramadhan, pada 10 malam terakhir dan
malam-malam ganjil. Disunnahkan untuk melafadzkan do'a sebagai berikut:
"اللهم،
إنك عَفُوٌّ تحب العفو، فاعف عني"
"Ya Allah engkau maha pemaaf yang
mencintai permohonan maaf , maka maafkan saya." (H.R. Al-Musnad Ahmad:
6/182)
o
Dari Abdullah bin Buraidah bahwa Aisyah ra
berkata, "Ya Rosulullah apa yang saya ucapkan jika menepati malam lailatul
qodar? Rosulullah bersabda,
"قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني"
"Ya
Allah engkau maha pemaaf yang mencintai permohonan maaf , maka maafkan saya."
(H.R. Al-Musnad Ahmad: 6/182)
[1]. Tafsir
At-Thabari: 15/285
[2]. Fathul
Qodir: 5/593
[3].
Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an : 20/130-131
[4]. Fathul
Qodir: 5/593
[5]. Tafsir
At-Thabari: 15/287
[6]. Al-Jami’
li Ahkamil Qur’an : 20/132-133
[7]. Tafsir
Ibnu Katsir 4/483
[8]. Al-Jami’
li Ahkamil Qur’an : 20/132-133
[9].Tafsir
Ibnu Katsir 4/483
[10]. Tafsir
At-Thabari: 15/288
[11]. Tafsir
At-Thabari: 15/288-289
[12]. Al-Jami’
li Ahkamil Qur’an : 20/134
[13]. Tafsir
Ibnu Katsir 4/483
[14]. Al-Jami’
li Ahkamil Qur’an : 20/137
[15].
Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an : 20/137
[16].
Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an : 20/137-138
