Oleh: Rahmanto
Kita-manusia- telah
tercipta oleh Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT sebagai makhluk sosial yang
senantiasa memerlukan orang lain, untuk saling bantu, saling melengkapi dari
segala kekurangan yang masing-masing dimiliki oleh kita. Manusia semenjak nenek
moyang kita Adam as dan Hawa turun di bumi ini selalu melakukan aktifitas
bersama-sama. Sangat kecil kemungkinannya seorang manusia akan merasa bahagia
dan tersalurkan kebutuhannya tanpa adanya manusia yang lainnya.
Manusia telah
terbiasa bersuku-suku berbangsa-bangsa ini kemudian mengangkat satu pemimpin
untuk dapat mengatur hubungan kehidupan antara mereka, hingga terciptalah
kehidupan yang harmonis yang indah yang setiap individu merasa dibutuhkan dan
membutuhkan orang lain.
Berkenaan dengan
ini Islam datang menata, dan memberikan system masyarakat yang ada menjadi
sebuah bentuk masyarakat penuh rasa kekeluargaan yang tak ada perbedaan disana
antara bangsa, suku, bahasa dan perbedaan-perbedaan lainnya yang kadang dari
sanalah benih perpecahan masyarakat tiba karena kekurangan dan kelebihan yang
masing-masing dimiliki. Adalah Rasulullah SAW datang memberikan kabar gembira
ini dimulai dari tanah arab hingga tersebar di seluruh penjuru dunia, yang
hingga saat ini umatnya telah melebihi dari separuh bumi Allah ini. Diaman dia
mengabarkan bahwa Islam tidak membedakan antara si A dengan si B, antara si
kulit putih dengan si kulit hitam antara penududuk bangsa A dengan B, semua
sama rata, hanya ketakwaan yang membedakannya di mata Tuhan. Kemudian Nabi
Muhammad SAW memberikan sapaan yang indah kepada manusia yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dengan panggilan : Wahai saudaraku Muslim ! tidak perduli
dia dari bangsa mana , golongan orang arab atau dari luar arab, semua sama :
Muslim! Bersabda Nabi kita Muhammad SAW:
Tidak ada yang
dilebihkan dari seorang arab ataupun luar arab, antara orang berkulit merah
(hitam) atas orang berkulit putih, kecuali dengan taqwa (HR alBazary, hadits
rijalnya shahih)
Maka tak ada
panggilan di dalam alquran dengan lafaz : wahai orang arab, wahai ahli Quraisy,
wahai bani A, bani B, karena inilah agama untuk seluruh manusia hingga akhir
zaman sebagaimana Rasulullah SAW adalah penutup rentetan seluruh nabi dan rasul
yang diutus Allah di muka bumi ini, dan sebagai penyempurna segala ajaran Allah
sebagai petunjuk jalan terang bagi manusia.
Kemudian Islam
mengajarkan manusia agar bersatu dan menjadikan wala'nya hanya kepada Allah dan
Rasul-Nya, tanpa adanya taasub berlebih kepada masing-masing golongannya.
Berfiirman Allah : Artinya : "Sesungguhnya wali kamu
sekalian adalah Allah rasulnya dan orang-orang yang beriman yaitu mereka yang
mengerjakan shalat dan membayar zakat sedang mereka sekalian rukuk. Dan barang
siapa yang berwala' kepada Allah dan rasul-Nya serta orang-orang yang beriman
maka sungguh golongan Allah ini adalah mereka yang akan menang". (Surat Almaidah 55-56)
Maka ketika Allah
menyatukan umat ini dalam satu wadah Islam , Rasulullah memberi kewajiban
kepada masing-masing umatnya agar saaling membantu mempererat tali ukhuwah ini
agar terjaga tanpa adanya perceraiberaian disana, sebagai contoh dari sabdanya
: "Tolonglah saudaramu yang dhalim ataupun yang didhalimi! Berkata sahabat
: wahai Rasulullah kami bisa memberi pertolongan kepada orang yang didhalimi
(ditindas) tapi bagaimana menolong orang yang dhalim ? Rasul menjawab :
mencegah dia dari perbuatan dhalim adalah pertolongan untuknya ". (HR
Bukhari dan Turmudzi)
Maha benar
perkataanmu wahai Khairul anam, sangat indah katamu hingga begitu mudah
dipahami kita semua.
Maka demikianlah
bahwa asas kedatangan Islam di bumi ini adalah persatuan, adalah pembawa rahmat
untuk seluruh alam, maka tak pelak bahwa segala ajarannya juga sangat
menganjurkan akan persatuan manusia. Sebagai contoh awal adalah adanya bulan
suci Ramadhan ini. Sebagai salah satu ajaran inti umat Islam .
Semua manusia bisa
menyaksikan dimana berjuta manusia diseluruh pelosok dunia entah si kaya atau
si miskin entah presiden ataupun rakyat jelata, semua serentak berpuasa bersama
, dimulai dari tanggal satu hingga akhir ramadhan nanti. Tak ada yang
menggerakkan mereka semua dari kalangan presiden , atau sekumpulan dari
presiden terbaik di dunia, tak ada yang memaksa mereka, kecuali sebuah ketaatan
mereka atas sang Maha Presiden disana yaitu Allah ! Sang Raja Diraja yang
menguasai segala alam ini, yang mampu memberikan kebahagiaan hakiki kepada
siapa yang taat, juga yang sanggup meluluh lantakkan segala cipta-Nya dengan
izin-Nya.
Maka dalam puasa
tak boleh seseorang merahasiakan jika dia melihat hilal (bulan sabit) tanda
kedatangan bulan ramadhan atau berakhirnya,tapi dia dituntut untuk memberi tahu
teman-teman dan seluruh manusia akan kedatangan bulan ini, sebagai wujud amal
jama'i dia, sebagai didikan Islam untuk saling hidup berjamaah. subhanallah
Contoh kedua adalah
dalam shalat jamaah, shalat yang menjadi tiang agama Islam ini dianjurkan agar
terlaksana dengan berjamah, bershaf lurus di satu tempat menghadap satu arah
yang tak dibedakan disana antara yang berpangkat ataupun yang tidak berpangkat
yang banyak duit atau yang banyak hutang. Semua sama… berniat ikhlas demi
ketaatan perintah Allah. Bahkan jika ada seseorang yang shalat sendirian
dibelakang shaf jamaah diwajibkan baginya untuk mengulang shalatnya sebagai
mana hadits yang diriwayatkan abu Dawud dan Turmudzi(hadist hasan). Maka tak
heran jika diriwayatkan ada seorang Yahudi di mesir yang merasa iri dengan umat
Islam ketika dia mengetahui adanya syariat shalat dalam agama islam ini, yang
teratur, yang mengajarkan persatuan ummat, persama rataan umat, dalam satu
panji ketaatan pada Tuhan, hingga akhirnya membuat hatinya lembut dan masuk
agama ini. Allahu Akbar
Demikian juga
disyariatkannya zakat di dalam Islam, adalah salah satu wujud kesatuan hati
umat. Satu hati antara mereka yang mampu dan mereka kaum dhuafa (lemah). Dimana
zakat menyadarkan mereka yang berlebih harta bahwa semua itu hanyalah sebuah
barang titipan Ilahi yang akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat nanti
dimana dia pergunakan harta itu, maka akan terbentuklah jiwa si kaya yang
tawadhu dan menyayangi si miskin, kemudian bagi yang lemah juga akan merasa dia
tidak sendiri dalam mengarungi kekurangannya di dunia ini, hingga timbul
padanya rasa hormat dan terlahirlah kasih suci darinya dan timbullah
keharmonisan dalam bermasyarakat.
Demikianlah sedikit
contoh akan inti ajaran agama Islam dalam mempersatukan ummatnya. Maka di bulan
yang suci ini marilah kita kembali kaji inti dan kita renungi ajaran kita
ajaran Islam yan sempurna ini, bahwa di segala ajarannya menganjurkan kita
pemeluknya agar kita saling bersatu antara kita. Islam tak pernah mengajarkan
adanya perpecahan, pencacian, bahkan naudzubillah peperangan sesama.. Ingatlah
bahwa kita adalah satu tubuh satu jasad yang bila diantara kita sakit maka
seluruh kita akan sakit sebagaimana sabda Rasul SAW dalam hadits mutafaq alaih
(lihat Lu'lu wal Marjan hal :6171)
Hingga akhirnya
dapat kita simpulkan bahwa tak ada artinya hidup ini tanpa adanya berjamaah
dalam artian berkumpul, bersatu hati dalam satu naungan panji yaitu Islam,
tanpa taasub berlebihan dengan negara suku bangsa dsbnya. Kemudian setelah itu
kewajiban kita memelihara persatuan ini dengan saling menghormati antara umat,
tidak saling mencaci ataupun menjatuhkan antar sesama. Perbedaan dan kekurangan
adalah fitrah manusia yang kita telah tercipta sebagai makhuk yang salah dan
lupa, tak ada manusia yang sempurna dan lepas dari keduanya kecuali Rasulullah
yang ma'sum. Kemudian kita dituntut untuk berusaha satu hati dengan sesama kita
mencintai mereka sesuci-suci cinta kita, sebagaimana sabda nabi SAW: Artinya : Tidak sempurna iman kamu sekalian
hingga mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri (HR
Mutafaq 'Alaih)
Banyaknya
uji coba yang melanda umat Islam di penjuru dunia hingga di bumi kita Indonesia
sendiri selama ini tak lebih dan tak kurang adalah suatu uji coba dari Allah
SWT untuk umat-Nya, seberapakah cinta mereka kepada sesama Islam, akankah cinta
mereka akan goyah dengan jargon-jargon para kafirin dan tekanan-tekanan mereka
, juga akankah cinta mereka kepada kafirin melebihi cinta mereka kepada sesama
Muslim, hingga hilanglah wala' mereka, sebagaimana firman Allah diatas tadi.
Bahkan semua ini jika kita mau membuka mata lebar-lebar hanyalah usaha mereka
untuk mengegolkan pendapat keji mereka sendiri, dan ingin akhirnya akan
memberangus umat Islam semua. Telah terbukti tak ada untungnya bersatu dengan
para kafirin. Tak ada untungnya memberikan sokongan kepada mereka, karena dari
merekalah segala kerusakan dunia ini lahir, kemudian telah nyata bahwa
merekalah musuh Allah. Akankah kita membela musuh Allah sedang Allah sendiri
ingin mengadzab mereka?
Demi Allah wahai
saudaraku ! Seandainya ada seorang muslim dosanya memenuhi antara bumi dan
langit sedang dia masih mengakui laa ilaaha illah, dia masih lebih baik
daripada seorang kafir yang bahkan sebagai pemimpin satu dunia sekaligus,
karena sang muslim masih mengakui akan kebenaran Ilahy, sedang sang kafir tidak
mengakuinya yang artinya melawan perintah Ilahy sang Penciptanya.
Sebagai lazimnya
manusia, kita adalah ahli maksiat semua, yang sudah lazim kita berbuat dosa dan
salah maka tak pantas bagi kita saling menjelekkan sesama kita apalagi malah
memerangi sesama kita, yang akan membuat tepuk tangan keras para musuh Allah
itu. Ingatlah kita semua punya nama satu : Muslim!. Yang tak boleh adanya
cacian, pembunuhan antara kita, kecuali dengan hak dan wajib bagi kita semua
menjaga keindahan ukhuwah ini bersama.
Akhirnya segala doa
marilah kita panjatkan kepada Allah untuk memperlembut hati-hati kita semua
agar wala' kita hanya kepada Dia, Rasul-Nya dan para mukminin di muka bumi ini.
Wallahu a'lam
Mesir, 19 sya'ban 1923 H
