Oleh: Muhammad Haikal, S.Ag
Ada banyak tuntutan yang harus
dilaksanakan oleh setiap muslim dalam
kehidupan di dunia ini, salah satunya adalah keharusan menjalin habulum
minallah (hubungan yang baik kepada Allah) dan hablum minannas (hubungan yang
baik dengan manusia). Hal ini ditekankan karena manusia sangat membutuhkan
Tuhan dan Tuhan yang sesungguhnya adalah Allah Swt, disamping itu manusia juga
tidak bisa hidup sendirian, karenanya ia membutuhkan manusia lain yang dapat
berinteraksi secara baik untuk bisa mewujudkan kehidupan yang baik. Di dalam
Al-Qur’an, Allah Swt berfirman: Sembahlah Allah dan janganlah kamu
mensekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah terhadap kedua ibu
bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat
dan tetangga yang jauh, teman sejawat, orang yang dalam perjalanan dan hamba
sahaya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri (QS 4:36).
HUBUNGAN KEPADA ALLAH SWT
Menjalin hubungan baik kepada
Allah Swt bagi manusia merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Manusia telah
dicipta oleh Allah Swt, bagaimana mungkin ia tidak mau menyembah dan mengabdi
kepada sang pencipta, bukankah hal itu menunjukkan bahwa ia tidak pandai
bersyukur kepada Allah Swt?. Oleh karena itu, di dalam ayat di atas, manusia
harus menyembah Allah Swt dan menunjukkan pengabdian kepada-Nya dengan
semurni-murninya sehingga ia tidak boleh mensekutukan Allah dengan apapun dan
siapapun juga, inilah yang disebut dengan syirik.
Sebagai muslim, kita tidak
dibenarkan melakukan syirik, baik syirik yang besar maupun syirik yang kecil.
Namun Rasulullah Saw ternyata tidak begitu khawatir akan kemungkinan kita
melakukan syirik yang besar yakni menuhankan atau menyembah selain Allah Swt,
karena rasanya hal itu tidak mungkin orang yang mengaku muslim tapi menuhankan
selain Allah Swt. Yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad Saw justeru
adalah apabila kita melakukan syirik yang kecil, karena hal ini membuat nilai
amalnya menjadi terhapus. Dalam satu hadits, Rasulullah Saw bersabda:
Sesungguhnya yang aku sangat
khawatirkan atas kamu adalah apabila kamu melakukan syirik yang kecil. Sahabat
bertanya: “Apakah syirik yang kecil itu ya Rasulullah?”. Beliau menjawab:
“Riya” (HR ).
HUBUNGAN DENGAN SESAMA MANUSIA
Manusia antara yang satu dengan
lainnya saling membutuhkan, karena itu seharusnya sesama manusia bisa menjalin
hubungan yang sebaik-baiknya. Di dalam ayat di atas, disebutkan contoh-contoh
kepada siapa saja manusia harus menjalin hubungan yang sebaik-baiknya, yakni
kepada delapan kelompok orang.
Pertama, Berlaku baik kepada
kedua orang tua. Setiap orang tua, pasti ingin agar anaknya dapat berlaku baik
kepadanya. Orang tua disamping telah melahirkan dan membesarkan juga mendidik dengan pengorbanan harta dan jiwa
sehingga seorang anak tumbuh dan besar dengan baik. Karena itu, setiap anak
harus mampu menunjukkan kebaikan dengan sebaik-baiknya kebaikan kepada orang
tuanya, ini karena sebaik apapun perbuatannya kepada orang tua, tetap saja hal
itu tidak akan mampu membalas jasa dan kebaikan orang tua.
Kedua, Berlaku baik kepada
kerabat. Kerabat, keluarga atau famili, baik hubungannya dari pihak suami atau
isteri, dari bapak atau ibu merupakan orang yang sangat kita butuhkan dalam
kehidupan ini. Karena itu hubungan kekerabatan yang sering disebut dengan
silaturrahim harus disambung dan dikuatkan. Karenanya sangat tidak dibenarkan
di dalam Islam bila seorang muslim memutuskan hubungan silaturrahim, bahkan hal
itu bisa menyebabkan seseorang terhalang untuk masuk ke dalam surga. Hal ini
menjadi sangat penting karena bagaimana mungkin seseorang bisa berlaku baik
kepada orang lain bila dengan keluarganya saja ia tidak berlaku baik.
Ketiga, Berlaku baik kepada anak
yatim. Setiap anak pasti membutuhkan perhatian, pendidikan dan nafkah dari
orang tuanya. Namun bila orang tuanya telah wafat yang menyebabkan si anak
menjadi yatim, maka kaum muslimin dituntut menggantikan apa yang harus
dilakukan orang tua terhadap anaknya. Oleh karena itu, Rasulullah Saw
memberikan perhatian yang begitu besar kepada anak yatim sehingga ada anak yang
tidak yatim, tapi ingin menjadi yatim karena iapun ingin mendapatkan perlakuan
yang begitu baik dari Nabi sebagaimana yang didapat oleh temannya yang yatim.
Penghargaaan Rasulullah Saw kepada orang yang mengurus anak yatim juga sangat
besar, yakni mendapatkan tempat yang dekat dengan beliau di dalam surga
sebagaimana dekatnya jari telunjuk dengan jari tengah. Rasulullah Saw juga
menyatakan bahwa rumah yang terbaik adalah yang di dalamnya ada anak yatim yang
diasuh dan diurus dengan baik, sedangkan rumah yang buruk adalah rumah yang
didalamnya ada anak yatim tapi tidak diurus anak itu dengan baik.
Keempat, Berlaku baik kepada
orang miskin. Menjadi miskin merupakan keadaan yang tidak disukai oleh manusia.
Karena itu, kemiskinan harus diatasi meskipun pada masyarakat kita semakin
banyak orang yang menjadi miskin.
Kemiskinan satu orang belum bisa diatasi, tapi sudah muncul orang miskin
yang baru. Oleh karena itu, seorang muslim harus berlaku baik kepada orang
miskin, apalagi bila sampai bisa membantu mengatasi kemiskinan yang dialaminya. Banyaknya orang miskin merupakan
ladang amal shaleh bagi kita bila kita bisa berlaku baik dengan sebaik-baiknya.
Kelima, Berlaku baik kepada
tetangga. Keberadaan tetangga sangat kita butuhkan dalam hidup ini. Karena itu,
setiap manusia apalagi sebagai muslim harus berlaku sebaik mungkin kepada
tetangga. Raasulullah Saw bercerita bahwa beliau sering didatangi malaikat
Jibril, tiap kali dating Jibril seringkali berwasiat kepada Nabi agar berlaku
baik kepada tetangga hingga Nabi merasa seolah-olah antar tetangga bias saling
mewarisi. Itu berarti, antar tatangga seharusnya bias diperlakukan seperti
keluarga sendiri. Karenanya berlaku baik kepada tetangga menjadi salah satu
bukti keimanan yang sejati.
Keenam, Berlaku baik kepada teman
sejawat. Teman atau sahabat merupakan salah satu yang sangat kita perlukan
dalam kehidupan ini. Seenak-enak dan sekuat-kuatnya manusia dalam hidup ini, ia
tidak akan bisa hidup sendirian, ia membutuhkan teman yang sejati, karena itu
dalam persahabatan dengan orang lain, seorang muslim harus bersahabat dengan
persahabatan yang sebaik-baiknya, persahabatan yang bisa berbagi dan merasakan
penderitaan maupun kebahagiaan.
Ketujuh, Berlaku baik kepada
Musafir. Orang yang dalam perjalanan untuk suatu urusan yang baik disebut
dengan ibnu sabil. Ketika melakukan safar (perjalanan) bisa jadi seseorang
merasakan kesulitan meskipun tidak selalu berupa kesulitan ekonomi, misalnya
tersesat jalan yang perlu kita membantu menjelaskan rute perjalanan yang harus
ditempuhnya, bukan malah sengaja menyesatkannya.
Kedelapan, Berlaku baik kepada
Hamba sahaya. Hamba sahaya atau budak seharusnya diperlakukan dengan baik,
karena ia banyak membantu majikannya. Dalam kehidupan sekarang, kita
menyebutnya dengan permbantu rumah tangga meskipun ia berbeda kedudukannya
dengan hamba sahaya. Oleh karena itu, sangat tercela bila seseorang tidak bias
berlaku baik kepada pembantu rumah tangganya yang dalam kehidupannya
sehari-hari bersama keluarga sangat besar manfaatnya.
JANGAN SOMBONG
Dalam rangkaian penyebutan kepada
siapa saja manusia harus berbuat baik, selanjutnya Allah Swt menutup ayat di
atas dengan kalimat: “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang sombong
dan membanggakan diri”. Kesan yang bias
kita tangkap dari kalimat ini adalah manusia jangan sombong kepada orang
tuanya, meskipun ia lebih pintar dan kaya, ia juga tidak boleh sombong dengan
kerabatnya, meskipun mereka orang yang lemah, miskin dan bodoh, jangan smbong
kepada anak yatim karena anak saat dimana anak kita juga menjadi yatim. Jangan
sombong kepada orang miskin karena ada saat dimana kitapun bisa menjadi miskin
secara tiba-tiba. Jangan sombong kepada tetangga karena merekalah orang yang
pertama memberikan pertolongan atau kita mintalak pertolongan saat kita
kesulitan. Jangan sombong kepada teman karena kita sangat membutuhkannya.
Jangan sombong kepada musafir karena ada saat dimana kitapun menjadi musafir
dan jangan sombong kepada pembantu rumah tangga karena mereka besar bantuannya
kepada kita meskipun tidak besar upah yang kita berikan.
Dengan demikian, menjadi jelas
bagi kita bahwa manusia antar satu dengan lainnya saling membutuhkan, karenanya
harus dijalin hubungan yang baik dengan sesamanya, tapi semua itu harus
dilandasi pada hubungan yang baik kepada Allah Swt. Sehingga setiap kita harus
menjalin hubungan baik kepada Allah lalu dibuktikan dengan menjalin hubungan
baik dengan sesame manusia, sedangkan hubungan yang baik dengan sama manusia
harus didasari atas hubungan baik epada Allah Swt. Bila ini bisa kita wujudkan,
maka kebahagiaan dan kedamaian hidup manusia bisa diperoleh.
