Apa sih yang
menyebabkan Bilal bin Rabbah rela terpanggang di terik matahari dibawah
tindihan batu besar, dengan siksaan yang demikian hebatnya, padahal siksaan
tersebut akan berhenti bila dia mau mengucapkan hanya beberapa kata. Atau apa
sih yang menyebabkan Mush’ab bin Umair, seorang pemuda tampan dan kaya, mau
meninggalkan segala kemewahan hidupnya, apapula yang menyebabkan seorang Utsman
bin Affan yang kaya raya serta seorang Abu Bakar yang disegani masyarakat mau
mengabdikan hidupnya, atau apa yang menyebabkan seorang Umar yang terkenal
sebagai singa padang pasir meleleh hatinya. Apapula yang menyebabkan ribuan
bahkan jutaan orang rela menghadapi kematian dalam suatu peperangan dengan
wajah yang tersenyum bahagia, dan apa yang menyebabkan saudara-saudaranya yang
ditinggal malah iri melihat kematiannya itu.
Mungkin
terlalu mengherankan bagi orang awam kali yee, kalau ternyata jawabannya adalah
untuk sebuah kalimat “Laailahaillallah” tiada tuhan selain Allah. Kalimat yang menjadi landasan jiwa
orang-orang yang mengaku dirinya muslim.
Nah, inilah Aqidah Islamiyah.
Aqidah yang kokoh kebenarannya, dan cemerlang dan meyakinkan, satu-satunya
ajaran yang benar dan dapat diterima secara jernih oleh pikiran.
Inilah yang
membuat orang rela mati dalam memperjuangkannya, inilah yang menyebabkan sebuah
masyarakat terasing menjadi masyarakat berperadaban paling tinggi, inilah yang
menyebabkan orang yang hina menjadi mulia, dan inilah yang membuat seseorang
ditentukan selamat atau tidak dirinya di hari akhir nanti.
Apa sih
aqidah islamiyah itu? Sudahkah kita mengenal Allah dengan baik Mungkin
kedengerannya pertanyaan itu udah usang kita dengar bersama, tapi sudahkah kita
coba tuk memahaminya, kalo antum udah baligh (jelas dong, udah SMU kok) tapi
belum memahami yang namanya aqidah jelas rugi banget-banget deh, gak
tanggung-tanggung ruginya, dunia akhirat. Padahal kewajiban pertama bagi
seorang mukallaf (baligh) adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat
kepada Allah SWT. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan
kalbu. Artinya kewajiban pertama kita ialah memahami yang namanya Aqidah dan
mengenal Sang Pencipta kita, Allah SWT.
So, gimana
caranya kita mengenal Allah padahal kita tak dapat menginderanya. Nah, orang
Badui pernah juga ditanya yang begituan dan apa jawabnya “Tahi onta menunjukkan
adanya onta dan bekas tapak kaki menunjukkan ada orang yang berjalan”
Terkesan
meulu-ulu kali ya, tapi benar kok, sebenarnya kita dapat mengenal Allah dari
ciptaannya, mulai dari yang paling sepele, sampai yang paling dahsyat
sekalipun, disana kita akan menemukan kebesaran dan keagungan Allah, coba deh
tengok ke sekelilingmu, alam yang demikian luasnya, begitu sempurnanya, makhluk
hidup yang beraneka ragam, kalo bukan Allah siapa lagi yang menciptanya
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi. Silih bergantinya malam dan siang. Berlayarnya bahtera di laut yang
membawa apa yang berguna bagi manusia. Dan apa yang Allah turunkan dari
langitberupa air, lalu dengan air itu Ia hidupkan bumi sesudah matinya. Dan ia
sebarkan di bumi itu segala jenis hewan. Dan pengisaran air dan awan yang
dikendalikan antara langit dan bumi. Sesungguhnya (semua itu) terdapat
tanda-tanda ( Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”( QS Al
Baqarah:164)
Banyak lagi
ayat serupa lainnya yang mengajak manusia untuk memperhatikan benda-benda alam
sekelilingnya ataupun yang berhubungan dengan dirinya untuk dijadikan petunjuk
akan adanya Pencipta Yang Maha Pengatur sehingga imannya menjadi mantap,
berakar pada akal dan bukti yang nyata ( buka tuh QS AlImran 190, QS ArRum 22,
QS AlGhasiyah 17-20, QS AtThariq 5-7, dsb)
Bukti bahwa
segala sesuatu mengharuskan adanya pencipta yang menciptakannya sebenarnya
dapat diterangkan sebagai berikut: bahwa segala sesuatu yang dapat dijangkau
akal terbagi 3 unsur yaitu manusia, alam semesta, dan hidup. Ketiga unsur ini
bersifat terbatas, lemah, serba kurang, serta saling membutuhkan antara satu
dengan yang lain.
Contohnya
manusia. Manusia terbatas sifatnya karena ia tumbuh dan berkembang sampai batas
tertentu yang tidak dapat dilampauinya lagi (ngaku nggak). Begitu pula halnya
dengan hidup(nyawa/biotik) penampakannya bersifat individual semata. Juga alam
semesta yang merupakan himpunan dari benda-benda angkasa yang setiap bendanya
memiliki keterbatasan.
Apabila kita
melihat kepada segala sesuatu yang bersifat terbatas akan kita simpulkan bahwa
semuanya tidak azali(berawal dan berakhir). Dengan demikian jelas bahwa segala
yang terbatas pasti diciptakan oleh “sesuatu yang lain”. Inilah yang disebut
AlKhaliq. Dialah yang menciptakan manusia, hidup, dan alam semesta
Dalam
menentukan keberadaan Pencipta kita dapati tiga kemungkinan
1.
Ia diciptakan yang lain, adalah
kemungkinan yang bathil, tidak dapat diterima akal. Sebab bila benar, pasti dia
bersifat terbatas, ada yang menentukan awalnya
2.
Ia menciptakan dirinya sendiri,
juga bathil. Sebab bila demikian berarti dia sebagai makhluk dan khalik pada
saat bersamaan, suat yang tak dapat diterima
3.
Ia Wajibul Wujud dan azali inilah
yang benar dan dapat diterima akal. AlKhalik tidak berawal dan berakhir. Dialah
Allah SWT.
Memang benar
iman kepada adanya Pencipta ini merupakan hal yang fithri pada manusia tapi
kebanyakan hanya muncul dari perasaan yang berasal dari hati nurani belaka.
Cara seperti ini bila dibiarkan begitu saja, tanpa dikaitkan dengan akal
sangatlah gawat akibatnya. Dalam kenyataan perasaan tersebut sering
menambah-nambah apa yang diimani, dengan sesuatu yang tiada hakikatnya, bahkan
ada yang mengkhayalkannya dengan sifat-sifat tertentu yang dianggap lumrah
terhadap apa yang ia imani. Tanpa sadar cara tersebut justru menjerumuskannya
ke arah kekufuran dan kesesatan.
Penyembahan
berhala, khurafat (cerita bohong) tidak lain merupakan akibat salahnya reaksi
hati ini. Oleh karena itu Islam menegaskan agar senantiasa menggunakan akal
disamping adanya perasaan hati. Islam mewajibkan umatnya untuk menggunakan akal
dalam beriman kepada Allah SW, serta melarang bertaqlid (ikut-ikutan secara
buta) dalam masalah aqidah. Dengan demikian setiap muslim wajib menjadikan
imannya betul-betul muncul dari proses berfikir. Disamping itu juga umat islam
diperingatkan gar tidak mengambil jalan yang ditempuh nenek moyangnya tanpa
meneliti dan menguji kembali sejauh mana kebenarannya.
Kendati
wajib atas manusia menggunakan akalnya, namun ia tidak mungkin menjangkau apa
yang ada di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Sebab sifat dan kemampuan
akal terbatas. Maka dari itu perlu diingatbahwa akal tidak mampu menjangkau
Dzat Allahdan hakekatnya. Tetapi perlu dicatat bahwa bukan lantas dikatakan
“Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Allah, sedang akalnya tidak
memahami Dzat Allah?” Tentu tidak demikian karena iman pada Allah hakikatnya
adalah percaya terhadap keberadaan Allah
Nah, lalu
mari kita berpikir jernih, tentang bukti kebenaran kitab yang diturunkan Allah,
yaitu AlQur’an. AlQur’an itu datang dari Allah SWT dapat dilihat dari kenyataan
bahwa AlQur’an adalah sebuah kitab berbahasa Arab yang dibawa Nabi Muhammad
SAW. Karena AlQur’an jelas adalah khas Arab baik segi bahasa maupun gayanya
maka hanya ada 3 kemungkinan:
1.
AlQur’an karangan orang Arab.
Kemungkinan itu tertolak sebab AlQur’an sendiri menantang orang Arab membuat
karya serupa AlQur’an (QS AlBaqarah 23) dan orang-orang Arab telah berusaha
keras mencobanya tapi tidak berhasil.
2.
AlQur’an karangan Muhammad. Juga
tidak dapat diterima akal. Sebab Muhammad adalah orang Arab juga, bagaimanapun
jeniusnya, tetaplah ia seorang manusia yang menjadi salah satu anggota
masyarakat atau bangsanya. Selama seluruh bangsa Arab tidak mampu menghasilkan
karya serupa AlQur’an maka Muhammad juga tidak bisa. Terlebih lagi dengan
adanya banyak hadis-hadis sahih bahkan mutawatir dari Muhammad yang bila
dibandingkan dengan ayat manapun dalam AlQur’an tidak ada kemiripan dari segi bahasnya
padahal keduanya berasal dari mulut yang sama. Bagaimanapun kerasnya usaha
seseorang mengubah gaya bahasnya tetap akan ada kemiripan. Maka yakinlah bahwa
AlQur’an bukan perkataan Nabi.
3.
Bila kemungkinan-kemungkinan diatas pasti
salah maka tinggal satu kemungkinan bahwa AlQur’an merupakan firman Allah
Dari
AlQur’an inilah kita wajib beriman kepada hari kebangkitan, pengumpulan di
padang mahsyar, surga, neraka, hisab, siksa, juga adanya malaikat, jin setan
serta apa yang telah diterangkan oleh AlQur’an dan hadits qath’i
Inilah iman
yang diserukan oleh islam. Iman semacam ini bukanlah seperti yang dikatakan
orang sebagai imannya orang-orang lemah. Melainkan iman yang berlandaskan
pemikiran cemerlang dan meyakinkan. Dan
perlu diketahui bahwa iman tersebut tidak cukup dilandaskan pada akal
semata tetapi harus juga disertai sikap penyerahan total dan penerimaan mutlak
terhadap segala yang datang dari sisiNya.
Maka itulah
hendaknya kita betul-betul beriman kepadaNya disertai dengan penyerahan total
diri kita terhadap apa yang diperintahkanNya serta menjauhi laranganNya, jangan
seperti kebanyakan manusia, mengaku beraqidah islam tetapi tidak memahamidengan
benar aqidah tersebut.