Oleh
: Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid
Banyak
orang yang mengira apabila mereka mendengar kata Salafiyah atau Salafiyyin
bahwa itu adalah sebuah organisasi atau hizb (partai). Apakah benar demikian?
Sama sekali tidak. Bahkan bayangan itu tidak ada sama sekali pada pikiran
pembawa-pembawnya dan dai-dainya.
As-Salafiyah
sebenarnya Islam itu sendiri, yang benar dan mencakup seluruh apa yang
diturunkan Allah dan Rasul-Nya Muhammmad shallallahualai wa sallam. Salafiyah
bukanlah nama untuk suatu kelompok tertentu karena penisbatannya adalah kepada
generasi salaf yang telah dipuji baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah. bahkan
setiap orang yang memahami Dien sesuai dengan apa yang dipahamai generasi
salafus shalih (yang terdahulu) dari umat in, maka dia disebut Salafy. Tidak
peduli apakah dia menyebutnya terang-terangan ataupun secara sembunyi-sembunyi.
Jadi
Salafiyah tidak dimiliki oleh suatu hizb(partai) dan tidak pula nama suatu
organisasi atau harakah (gerakan dakwah ) tertentu. Ia mencakup seluruh kaum
muslimin baik sendiri maupun berkelompok (tentunya yang bermanhaj salaf) karena
dakwah Salafiyah adalah dakwah Isalam itu sendiri yang berdasarkan Al-Quran dan
As-Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih radhiallahuanhum. Oleh sebab itu,
wajib bagi umat setelah melihat realita ini menyesuaikan pemikiran, amalan dan
pandangannya dengan manhaj Salaf dalam menjalankan Dien yang mulia ini.
Penyebutan
Salafiyah dan keyakinan penisbatannya kepada salafus shalih berguna untuk
menutup jalan bagi orang-orang yang menginginkan dalam penerapan dakwah dan
gerakan mereka kebebasan berijtihad dalam pemikiran Islam tanpa adanya
batasan-batasan dan kaidah-kaidah, kecuali (tentu saja) hasil-hasil pandangan
dan pikiran mereka sendiri (Saya penulis artikel ini -telah membahasnya secara
rinci dalam kirab Al-Aqlaniyyun). Padahal pikiran-pikiran mereka sudah
terbelenggu dengan pemikiran barat sehingga hasilnya nash-nash (baik Al-Quran
dan maupun As-Sunnah) harus tunduk mengikuti mereka.
Lantas,
bagaimana jika ada orang yang berkata bahwa penamaan ini bisa membuka kepada
pintu hizbiyyah yang taashub (pengelompokan yang fanatik)? Jawabanya tentu saja
tidak. Alasannya ada 2 hal:
1.
Karena salafiyyah bernasab kepada sesuatu hal yang mulia, yaitu kepada
orang-orang yang dimuliakan karena pemahaman dan pandangan mereka yang lurus.
Salafiyyah tiadak mengacu pada suatu nama kelompok tertentu yang bersifat
hizbiyyah atau memiliki pandangan-pandangan hizbiyyah.
2.Pembedaan
orang-orang yang ada di atas kebenaran (ahlul haq) dengan
kebenaran(al-haq/manhaj salaf) yang mereka pegang tidaklah menjadikan mereka
ikut bersama orang-orang yang menyeleweng dari manhaj yang benar, atau
menyerupai mereka yang menyimpang dari jalan yang lurus.
Bukanlah
suatu kekurangan ( hal yang buruk ) apabila orang menasabkan dirinya dengan
salaf lewat ucapan, ciri-ciri, manhaj dan amal-amalnya di tengah maraknya
fitnah (bencana), yaitu bermunculannya banyak orang yang mengaku berada di atas
al-haq dan juga dai-dai yang mengaku dirinya menyampaikan al-haq. Orang-orang
yang mengukuti manhaj yang haq(menyesuaikan dengan haq dan tidak
menyelisihinya) harus dibedakan agar hancur rujukan orang-orang yang memalsu
kebenaran. Ilmu orang yang berpegang dengan manhaj ini sesuai dengan khabar
atau riwayat (hadist shahih) sehingga pada akhirnya merekalah para dai yang
menegakkan al-haq.
Pendapat
ini juga ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-semoga Allah merahmati
beliau-. Beliau berkata:
"
Tidak ada aib atas orang-orang yang menonjolkan manhaj salaf, menisbatkan dan
menasabkan kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu dengan
kesepakatan (para ulama), karena sesungguhnya tidak ada pada madzhab salaf
kecuali kebenaran (Majmu Fatawa Jilid 4 hal 129)
Dengan
demikian penyebaran cahaya manhaj ini dan syiarnya pada seluruh umat manusia
sangat didambakan oleh jiwa, hati, dan pikiran ini, dan (tentunya hanya) orang
-orang yang ikhlas yang akan berusaha mewujudkanya.
Apabila
ini terjadi (dengan pertolongan Allah walaupun dalam waktu yang sangat
lama)-yaitu meratanya al-haq dan hilangnya suara-suara yang menyelisihi manhaj
ini, serta umat benar-benar dalam suasana Islam yang benar, bersih dari bidah
dan hawa nafsu sebagaimana generasi awal dari salafus shalih- tentu akan hilang
pembedaan nama ini, karena tidak ada yang melawannya( menentangnya) ( Hukum
Intima hal 32 oleh Fadhilatus Syaikh Bakar Abu Zaid)
Oleh
karena sebab itu para dai yang berada di atas manhaj ini, hendaklah bergembira
dangan yang ditinggikan mereka dari seluruh organisasi hizb yang ada. Juga
hendaknya mereka merasa nikmat dengan kesempurnaan dakwah mereka yang meliputi
pemilik fitrah yang bersih dari kaum muslimin, yang belum diwarnai kejelekan.
Disamping itu mereka harusnya berbahagia menjadi orang yang fanatik(terhadap
manhaj ini) dan menjadikannya sebagai barometer kehidupan, karena tidak ada
sesuatupun yang bisa menyaingi dan mengunggulinya.
Semoga
Allah menunjukan kita kepada jalan-Nya yang lurus.
(Al-Asholah
2/ Fathu Rahman Abu Zaki), Dikutip dari Majalah Salafy
