Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin
Iman kepada hari Akhir adalah
termasuk mengimani peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sesudah kematian,
misalnya :
[a]. Fitnah Kubur
Yaitu pertanyaan yang diajukan
kepada mayat ketika sudah dikubur tentang Rabbnya, agamanya dan nabinya. Allah
akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang mantap. Ia akan
menjawab pertanyaan itu dengan tegas dan penuh keyakinan, Allah Rabbku, Islam
agamaku, dan Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam nabiku.
Allah menyesatkan orang-orang
yang zhalim dan kafir. Mereka akan menjawab pertanyaan dengan
terbengong-bengong karena pertanyaan itu terasa asing baginya. Mereka akan
menjawab, tidak tahu. Sedangkan orang-orang munafik akan menjawab dengan kebingungan,
Aku tidak tahu. Dulu aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu lalu
aku mengatakannya.
[b]. Siksa Dan Nikmat Kubur
Siksa kubur diperuntukkan bagi
orang-orang zhalim, yakni orang-orang munafik dan orang-orang kafir, seperti dalam
firmanNya.
Artinya : Alangkah dahsyatnya
sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan
sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata),
“Keluarkanlah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat
menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang
tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadp ayat-ayatNya
[Al-An’am : 93]
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman tentang keluarga Fir’aun.
Artinya : Kepada mereka
dinampakkan Neraka pada pagi hari dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat,
(Dikatakan kepada malaikat), Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang
sangat keras [Al-Mu’min : 46]
Dalam Shahih Muslim Zaid bin
Tsabit meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Kalau
tidak karena kalian saling mengubur (orang yang mati) pasti aku memohon kepada
Allah agar memperdengarkan siksa kubur kepada kalian yang saya mendengarnya.
Kemudian Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menghadapkan wajahnya seraya berkata
: Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa Neraka. Para sahabat berkata,
“Kami memohon perlindungan kepada Allah dan siksa Neraka.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
kemudian berkata lagi, Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa kubur.
Para sahabat berkata, Kami memohon perlindungan Allah dari siksa kubur. Lalu
beliau berkata lagi. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah
baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Para sahabat lalu berkata, Kami
memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah baik yang tampak maupun
yang tidak tampak.
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
berkata lagi. Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal. Para
sahabat berkata, Kami mohon perlindungan kepada Allah dari fitnah Dajjal.
[Hadits Riwayat Muslim]
Adapun nikmat kubur diperuntukkan
bagi orang-orang mukmin yang jujur. Hal ini dijelaskan Allah Subhanahu wa Ta’ala
dalam firmanNya.
Artinya : Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan, Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), Janganlah
kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih ; dan gembirakanlah mereka
dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu [Fushilat : 30]
Artinya : Maka mengapa ketika
nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketka itu melihat, dan Kami lebih
dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika
kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada
tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar ?, Adapun jika dia
(orang-orang mati) termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka
dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta Surga kenikmatan [Al-Waaqi’ah :
83-89]
Dari Al-Barra bin Azib
Radhiyallahu anhu dikatakan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda
tentang orang mukmin jika dapat menjawab pertanyaan dua malaikat di dalam
kuburnya. Sabdanya, Ada suara dari langit, “Hamba-Ku memang benar. Oleh
karenanya, berilah dia alas dari Surga Lalu datanglah kenikmatan dan keharuman
dan Surga, dan kuburnya dilapangkan sejauh pandangan mata. [Hadits Riwayat
Ahmad, Abu Daud, dalam hadits yang panjang]
Buah Iman Kepada Hari Akhir
[1]. Mencintai ketaatan dengan
mengharap balasan pahala pada hari itu.
[2]. Membenci perbuatan maksiat
dengan rasa takut akan siksa pada hari itu.
[3]. Menghibur orang mukmin
tentang apa yang didapatkan di dunia dengan mengharap kenikmatan serta pahala
di akhirat.
Orang-orang kafir mengingkari
adanya kebangkitan setelah mati dengan menyangka bahwa hari Akhir dengan segala
peristiwa-peristiwanya adalah suatu hal yang mustahil. Persangkaan mereka jelas
sangat keliru dan kesalahannya itu dapat dibuktikan dengan syara, indera dan
akal.
[1]. Bukti Syara
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
Artinya : Orang-orang yang kafir
mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah : Tidak
demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi
Allah. [At-Taghaabun : 7]
Semua kitab-kitab suci samawi
telah sepakat tentang adanya hari kebangkitan.
[2]. Bukti Inderawi
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati du dunia
ini. Dalam surat Al-Baqarah terdapat lima contoh mengenai hal ini.
[a]. Ketika kaum Musa berkata
kepada nabinya Musa Alaihis salam bahwa mereka tidak akan percaya dengan
risalah yang dibawa Musa Alaihis salam, sampai mereka melihat Allah dengan mata
kepada mereka sendiri. Oleh karena itulah Allah berfirman (yang ditujukan
kepada bani Israil).
Artinya : Dan (ingatlah), ketika
kamu berkata : Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat
Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.
Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur [Al-Baqarah
55-56]
[b]. Cerita orang yang terbunuh
yang pembunuhnya dipersengketakan bani Israil. Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu
memerintahkan mereka untuk menyembelih sapi, kemudian daging sapi itu
dipukulkan ke tubuh orang yang terbunuh itu agar dapat menceritakan siapa
sebenarnya yang telah membunuhnya. Hal ini diungkapkan dalam firmanNya.
Artinya : Dan (ingatlah) ketika
kamu membunuh seorang manusia, lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan
Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami
berfirman : Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu !.
Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan
memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaanNya agar kamu mengerti [Al-Baqarah
: 72-73]
[c]. Kisah kaum yang keluar dari
negerinya karena menghindari kematian. Mereka berjumlah ribuan orang Allah
mematikan mereka, lalu menghidupkan kembali. Ini digambarkan dalam firmanNya.
Artinya : Apakah kamu tidak
memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampong halaman mereka, sedang
mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati, maka Allah berfirman kepada
mereka: Matilah kamu, kemungkinan Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah
mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur
[Al-Baqarah : 243]
[d]. Kisah orang yang melewati
sebuah desa yang hancur. Dia sangsi, bagaimana Allah mematikannya selama seratus
tahun, dan kemudian Allah menghidupkannya kembali. Ini dikisahkan dalam
firmanNya.
Artinya : Atau apakah (kamu
memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh
menutupi atapnya. Dia berkata, Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini
setelah hancur? Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian
menghidukannya kembali. Allah bertanya, Berapa lama kamu tinggal di sini ? Ia
menjawab, Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari, Allah berfirman.
Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan
dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah keledaimu (yang telah
menjadi tulang belulang). Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi
manusia. Lihatlah tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya
kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging, Maka tatkala telah nyata kepadanya
(bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata, Saya yakin
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu [Al-Baqarah : 259]
[e]. Kisah Nabiyullah Ibrahim
Al-Khalil ketika bertanya kepada Allah bagaimana Dia menghidupkan kembali orang-orang
yang telah mati. Allah memerintahkannya untuk menyembelih empat ekor burung dan
memisah-misahkan bagian-bagian tubuh burung itu di atas gunung-gunung yang ada
di sekelilingnya. Ibrahim memanggil burung itu, lalu tak lama tampaklah olehnya
bagian-bagian tubuh burung itu menyatu dan segera mendatangi Nabi Ibrahim
kembali. Ini dikisahkan Allah dalam Al-Qur’anul Karim.
Artinya : Dan (ingatlah) ketika
Ibrahim bekata : Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau
menghidupkan orang-orang mati, Allah berfirman : Apakah kamu belum percaya ? Ibrahim
menjawab : Saya telah percaya, akan tetapi agar bertambah tetap hati saya,
Allah berfirman. (Kalau demikian), ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah
semuanya olehmu, lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari
bagian-bagian itu. Sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka akan datang
kepada kamu dengan segera, Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana
[Al-Baqarah : 260]
Inilah contoh-contoh bukti
inderawi yang menunjukkan mungkinnya Allah menghidupkan orang-orang yang sudah
mati. Telah diisyaratkan di atas, Allah menjadikan tanda-tanda Isa bin Maryam
yang menghidupkan orang-orang yang sudah mati serta mengeluarkannya dari kubur
dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.
[Ditulis ulang dari Syarhu
Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip
Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali
Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners Guidance Center In Gassim
Zone]
Sumber :
http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1552&bagian=0
(taken from
http://almanhaj.or.id)