Namanya adalah Muhammad Ibn
al-Hanafiah, ia banyak menimba ilmu dari
‘Ali bin Abi thalib.” pada saat Telah terjadi percekcokan antara Muhammad ibn
al-Hanafiyyah dan saudaranya al-Hasan ibn Ali, maka Ibn al-Hanafiah mengirim
surat kepada saudaranya itu, isinya, “Sesungguhnya Allah telah memberikan
kelebihan kepadamu atas diriku…Ibumu Fathimah binti Muhammad ibn Abdullah,
sedangkan ibuku seorang wanita dari Bani “Haniifah.” Kakekmu dari garis ibu
adalah utusan Allah dan makhluk pilihannya, sedangkan kakekku dari garis ibu
adalah Ja’far ibn Qais. Apabila suratku ini sampai kepadamu, kemarilah dan
berdamailah denganku, sehingga engkau memiliki keutamaan atas diriku dalam
segala hal.”
Begitu surat itu sampai ke tangan
al-Hasan…ia segera ke rumahnya dan berdamai dengannya. Siapakah Muhammad ibn
al-Hanafiyyah, seorang adib (ahli adab/pujangga), seorang yang pandai dan
berakhlak lembut ini? Marilah, kita membuka lembaran hidupnya dari awal.
Kisah ini bermula sejak akhir
kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Pada suatu hari, Ali ibn Abi
Thalib duduk bersama Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam, maka ia berkata, “Wahai
Rasulullah…apa pendapatmu apabila aku dikaruniani seorang anak setelah engkau
meninggal, (bolehkah) aku menamainya dengan namamu dan memberikan kun-yah
(sapaan yang biasanya diungkapkan dengan ‘Abu fulan…’) dengan kunyah-mu?.” “Ya”
jawab beliau.
Kemudian hari-hari pun berjalan
terus. Dan Nabi yang mulia Shallallahu Alaihi Wassalam bertemu dengan
ar-Rafiiqul al-A’laa (berpulang ke sisi Allah)…dan setelah hitungan beberapa
bulan Fathimah yang suci, Ibunda al-Hasan dan al-Husain menyusul beliau (wafat).
Ali lalu menikahi seorang wanita
Bani Haniifah. Ia menikahi Khaulah binti Ja’far ibn Qais al-Hanafiyyah, yang
kemudian melahirkan seorang anak laki-laki untuknya. Ali menamainya “Muhammad”
dan memanggilnya dengan kun-yah “Abu al-Qaasim” atas izin Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wassalam. Hanya saja orang-orang terlanjur memanggilnya
Muhammad ibn al-Hanafiyyah, untuk membedakannya dengan kedua saudaranya
al-Hasan dan al-Husain, dua putra Fathimah az-Zahra. Kemudian iapun dikenal
dalam sejarah dengan nama tersebut.
Muhammad ibn al-Hanafiyyah lahir
di akhir masa khilafah ash-Shiddiq (Abu Bakar) RA. Ia tumbuh dan terdidik di
bawah perawatan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, ia lulus di bawah didikannya.
Ia belajar ibadah dan kezuhudan
dari ayahnya…mewarisi kekuatan dan keberaniannya…menerima kefasihan dan
balaghoh darinya. Hingga ia menjadi pahlawan perang di medan pertempuran…singa
mimbar di perkumpulan manusia…seorang ahli ibadah malam (Ruhbaanullail) apabila
kegelapan telah menutup tirainya ke atas alam dan saat mata-mata tertidur
lelap.
Ayahnya telah mengutusnya ke
dalam pertempuran-pertempuran yang ia ikuti. Dan ia (Ali) telah memikulkan di
pudaknya beban-beban pertempuran yang tidak ia pikulkan kepada kedua saudaranya
yang lain; al-Hasan dan al-Husain. Ia pun tidak terkalahkan dan tidak pernah
melemah keteguhannya.
Pada suatu ketika pernah
dikatakan kepadanya, “Mengapakah ayahmu menjerumuskanmu ke dalam kebinasaan dan
membebankanmu apa yang kamu tidak mampu memikulnya dalam tempat-tempat yang
sempit tanpa kedua saudaramu al-Hasan dan al-Husain?”
Ia menjawab, “Yang demikian itu
karena kedua saudaraku menempati kedudukan dua mata ayahku…sedangkan aku
menempati kedudukan dua tangannya…sehingga ia (Ali) menjaga kedua matanya
dengan kedua tangannya.”
Dalam perang “Shiffin” yang
berkecamuk antara Ali ibn Abi Thalib dan Muawiyah ibn Abi Sufyan RA. Adalah
Muhammad ibn al-Hanafiyyah membawa panji ayahnya. Dan di saat roda peperangan
berputar menggilas pasukan dari dua kelompok, terjadilah sebuah kisah yang ia
riwayatkan sendiri. Ia menuturkan, “Sungguh aku telah melihat kami dalam perang
“Shiffin”, kami bertemu dengan para sahabat Muawiyah, kami saling membunuh
hingga aku menyangka bahwa tidak akan tersisa seorang pun dari kami dan juga
dari mereka. Aku menganggap ini adalah perbuatan keji dan besar.
Tidaklah berselang lama hingga
aku mendengar seseorang yang berteriak di belakangku, “Wahai kaum
Muslimin…(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada Allah)…wahai kaum Muslimin…
Siapakah yang akan (melindungi)
para wanita dan anak-anak?…
Siapakah yang akan menjaga agama
dan kehormatan?…
Siapakah yang akan menjaga
serangan Romawi dan ad-Dailami?*…
Wahai kaum Muslimin…takutlah
kepada Allah, takutlah kepada Allah dan sisakan kaum muslimin, wahai ma’syarol
muslimin.”
Maka sejak hari itu, aku berjanji
kepada diriku untuk tidak mengangkat pedangku di wajah seorang Muslim.
Kemudian Ali mati syahid di
tangan pendosa yang dzalim (di tangan Abdurrahman ibn Miljam )
Kekuasaan pun berpindah kepada
Muawiyah ibn Abi Sufyan. Maka, Muhammad ibn al-Hanafiyyah membaiatnya untuk
selalu taat dan patuh dalam keadaan suka maupun benci karena keinginannya hanya
untuk menyatukan suara dan mengumpulkan kekuatan serta untuk menggapai izzah
bagi Islam dan Muslimin.
Muawiyah merasakan ketulusan
baiat ini dan kesuciannya. Ia merasa benar-benar tentram kepada sahabatnya, hal
mana menjadikannya mengundang Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk mengunjunginya.
Maka, ia pun mengunjunginya di
Damaskus lebih dari sekali…dan lebih dari satu sebab.
Di antaranya, bahwa kaisar Romawi
menulis surat kepada Muawiyah. Ia mengatakan, “Sesungguhnya raja-raja di sini
saling berkoresponden dengan raja-raja yang lain. Sebagian mereka
bersenang-senang dengan yang lainnya dengan hal-hal aneh yang mereka
miliki…sebagin mereka saling berlomba dengan sebagian yang lain dengan
keajaiban-keajaiban yang ada di kerajaan-kerajaan mereka. Maka, apakah kamu
mengizinkan aku untuk mengadakan (perlombaan) antara aku dan kamu seperti apa
yang terjadi di antara mereka?” Maka, Muawiyah mengiyakannya dan
mengizinkannya.
Kaisar Romawi mengirim dua orang
pilih-tandingnya. Salah seorang darinya berbadan tinggi dan besar sekali
sehingga seakan-akan ia ibarat pohon besar yang menjulang tinggi di hutan atau
gedung tinggi nan kokoh. Adapun orang yang satu lagi adalah seorang yang begitu
kuat, keras dan kokoh seakan-akan ia ibarat binatang liar yang buas. Sang
kaisar menitipkan surat bersama keduanya, ia berkata dalam suratnya, “Apakah di
kerajaanmu ada yang menandingi kedua orang ini, tingginya dan kuatnya?.”
Muawiyah lalu berkata kepada ‘Amr
ibn al-‘Aash, “Adapun orang yang berbadan tinggi, aku telah menemukan orang
yang sepertinya bahkan lebih darinya…ia Qais ibn Sa’d ibn ‘Ubadah. Adapun orang
yang kuat, maka aku membutuhkan pendapatmu.”
‘Amr berkata, “Di sana ada dua
orang untuk urusan ini, hanya saja keduanya jauh darimu. Mereka adalah Muhammad
ibn al-Hanafiyyah dan Abdullah ibn az-Zubair.”
“Sesungguhnya Muhammad ibn
al-Hanafiyyah tidaklah jauh dari kita,” kata Muawiyyah.
“Akan tetapi apakah engkau
mengira ia akan ridla bersama kebesaran kemuliaannya dan ketinggian
kedudukannya untuk mengalahkan kekuatan orang dari Romawi ini dengan ditonton
manusia,?” tanya ‘Amr.
Muawiyah berkata, “Sesungguhnya
ia akan melakukan hal itu dan lebih banyak dari itu, apabila ia menemukan izzah
bagi Islam padanya.” Kemudian Muawiyah memanggil keduanya, Qais ibn Sa’d dan
Muhammad ibn al-Hanafiyyah.
Ketika majelis telah dimulai,
Qais ibn Sa’d berdiri dan melepaskan sirwal-sirwal-nya (celana yang lebar) lalu
melemparkannya kepada al-‘Ilj** dari Romawi dan menyuruhnya untuk memakainya.
Ia pun memakainya…maka, sirwalnya menutupi sampai di atas kedua dadanya
sehingga orang-orang ketawa dibuatnya.
Adapun Muhammad ibn
al-Hanafiyyah, ia berkata kepada penterjemahnya, “Katakan kepada orang Romawi
ini…apabila ia mau, ia duduk dan aku berdiri, lalu ia memberikan tangannya
kepadaku. Entah aku yang akan mendirikannya atau dia yang mendudukkanku…Dan
bila ia mau, dia yang berdiri dan aku yang duduk…” Orang Romawi tadi memilih
duduk.
Maka Muhammad memegang tangannya,
dan (menariknya) berdiri…dan orang Romawi tersebut tidak mampu (menariknya)
duduk…
Kesombongan pun merayap dalam
dada orang Romawi, ia memilih berdiri dan Muhammad duduk. Muhammad lalu
memegang tangannya dan menariknya dengan satu hentakan hampir-hampir melepaskan
lengannya dari pundaknya…dan mendudukkannya di tanah.
Kedua orang kafir Romawi tersebut
kembali kepada rajanya dalam keadaan kalah dan terhina.
Hari-hari berputar lagi…
Muawiyah dan putranya Yazid serta
Marwan ibn al-Hakam telah berpindah ke rahmatullah…Kepemimpinan Bani Umayyah
berpindah kepada Abdul Malik ibn Marwan, ia mengumumkan dirinya sebagai
khalifah muslimin dan penduduk Syam membaiatnya.
Sementara penduduk Hijaz dan Irak
telah membaiat Abdullah ibn az-Zubair***.
Setiap dari keduanya mulai
menyeru orang yang belum membaiatnya untuk membaiatnya…dan mendakwakan kepada
manusia bahwa ia yang paling berhak dengan kekhalifahan daripada sahabatnya.
Barisan kaum muslimin pun terpecah lagi…
Di sinilah Abdullah ibn az-Zubair
meminta kepada Muhammad ibn al-Hanafiyyah untuk membaiatnya sebagaimana
penduduk Hijaz telah membaiatnya. Hanya saja Ibn al-Hanafiyyah memahami betul
bahwa baiat akan menjadikan hak-hak yang banyak di lehernya bagi orang yang ia
baiat. Di antaranya adalah menghunus pedang untuk menolongnya dan memerangi
orang-orang yang menyelisihinya. Dan para penyelisihnya hanyalah orang-orang
muslim yang telah berijtihad, lalu membaiat orang yang tidak ia bai’at.
Tidaklah orang yang berakal sempurna lupa akan kejadian di hari “Shiffin.”
Tahun yang panjang belum mampu
menghapus suara yang menggelegar dari kedua pendengarannya, kuat dan penuh
kesedihan, dan suara itu memanggil dari belakangnya, “Wahai kaum
Muslimin…(takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada) Allah…wahai kaum Muslimin…
Siapakah yang akan (melindungi)
para wanita dan anak-anak?…
Siapakah yang akan menjaga agama
dan kehormatan?… Siapakah yang akan menjaga serangan Romawi dan ad-Dailami.”..
Ya, ia belum lupa sedikitpun dari
itu semua. Maka, ia berkata kepada Abdullah ibn az-Zubair, “Sesungguhnya engkau
mengetahui dengan sebenar-benarnya, bahwa dalam perkara ini aku tidak memiliki
tujuan dan tidak pula permintaan…hanyalah aku ini seseorang dari kaum muslimin.
Apabila kalimat (suara) mereka berkumpul kepadamu atau kepada Abdul Malik, maka
aku akan membaiat orang yang suara mereka berkumpul padanya. Adapun sekarang,
aku tidak membaiatmu…juga tidak membaiatnya.”
Mulailah Abdullah mempergaulinya
dan berlemah lembut kepadanya dalam satu kesempatan. Dan dalam kesempatan yang
lain ia berpaling darinya dan bersikap keras kepadanya. Hanya saja, Muhammad
ibn al-Hanafiyyah tidak berselang lama hingga banyak orang yang bergabung
dengannya ketika mereka mengikuti pendapatnya. Dan mereka menyerahkan
kepemimpinan mereka kepadanya, hingga jumlah mereka sampai tujuh ribu orang
dari orang-orang yang memilih untuk memisahkan diri dari fitnah. Dan mereka
enggan untuk menjadikan diri mereka kayu bakar bagi apinya yang menyala.
Setiap kalii pengikut Ibn
al-Hanafiyyah bertambah jumlahnya, bertambahlah kemarahan Ibn az-Zubair
kepadanya dan ia terus mendesaknya untuk membaiatnya.Ketika Ibn az-Zubair telah
putus asa, ia memerintahkannya dan orang-orang yang bersamanya dari Bani Hasyim
dan yang lainnya untuk menetap di Syi’b (celah di antara dua bukit) mereka di
Mekkah, dan ia menempatkan mata-mata untuk mengawasi mereka.
Kemudian ia berkata kepada
mereka, “Demi Allah, sungguh-sungguh kalian harus membaiatku atau benar-benar
aku akan membakar kalian dengan api…
Kemudian ia menahan mereka di
rumah-rumahnya dan mengumpulkan kayu bakar untuk mereka, lalu mengelilingi
rumah-rumah dengannya hingga sampai ujung tembok. Sehingga seandainya ada satu
kayu bakar menyala niscaya akan membakar semuanya.
Di saat itulah, sekelompok dari
para pengikut Ibn al-Hanafiyyah berdiri kepadanya dan berkata, “Biarkan kami
membunuh Ibn az-Zubair dan menenangkan manusia dari (perbuatan)nya.”
Ia berkata, “Apakah kita akan
menyalakan api fitnah dengan tangan-tangan kita yang karenanya kita telah
menyepi (memisahkan diri)…dan kita membunuh seorang sahabat Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wassalam dan anak-anak dari sahabatnya?! Tidak, demi Allah
kita tidak akan melakukan sedikitpun apa yang manjadikan Allah dan Rasul-Nya
murka.”
Berita tentang apa yang diderita
oleh Muhammad ibn al-Hanafiyah dan para pengikutnya dari kekerasan Abdullah ibn
az-Zubair sampai ke telinga Abdul Malik ibn Marwan.
Ia melihat kesempatan emas untuk
menjadikan mereka condong kepadanya.
Ia lantas mengirim surat bersama
seorang utusannya, yang seandainya ia menulisnya untuk salah seorang anaknya
tentunya ‘dialek’nya tidak akan sehalus itu dan redaksinya tidak selembut itu.
Dan di antara isi suratnya
adalah, “Telah sampai berita kepadaku bahwa Ibn az-Zubair telah mempersempit
gerakmu dan orang-orang yang bersamamu…ia memutus tali persaudaraanmu…dan
merendahkan hakmu. Ini negeri Syam terbuka di depanmu, siap menjemputmu dan
orang-orang yang bersamamu dengan penuh kelapangan dan keluasan…singgahlah di
sana dimana engkau mau, niscaya engkau akan menemukan penduduknya mengucapkan
selamat kepadamu dan para tetangga yang mencintaimu…dan engkau akan mendapatkan
kami orang-orang yang memahami hakmu…menghormati keutamaanmu…dan menyambung
tali persaudaraanmu Insya Allah…
Muhammad ibn al-Hanafiyah dan
orang-orang yang bersamanya berjalan menuju negeri Syam…sesampainya di “Ublah”,
mereka menetap di sana.
Penduduknya menempatkan mereka di
tempat yang paling mulia dan menjamu mereka dengan baik sebaga tetangga.
Mereka mencitai Muhammad ibn
al-Hanafiyah dan mengagungkannya, karena apa yang mereka lihat dari kedalaman
(ketekunan) ibadahnya dan kejujuran zuhudnya.
Ia mulai menyuruh mereka kepada
yang ma’ruf dan mencegah mereka dari yang munkar. Ia mendirikan syi’ar-syi’ar
di antara mereka dan mengadakan ishlah dalam perselisihan mereka. Ia tidak
membiarkan seorang pun dari manusia mendzalimi orang lain.
Di saat berita itu sampai ke
telinga Abdul Malik ibn Marwan, hal tersebut memberatkan hatinya. Ia kemudian
bermusyawarah dengan orang-orang terdekatnya. Mereka berkata kepadanya, “Kami
tidak berpendapat agar engkau memperbolehkannya tinggal di kerajaanmu.
Sedangkan sirahnya sebagaimana yang engkau ketahui…entah ia membaiatmu…atau ia
kembali ke tempatnya semula.”
Maka, Abdul Malik menulis surat
untuknya dan berkata, “Sesungguhnya engkau telah mendatangi negeriku dan engkau
singgah di salah satu ujungnya. Dan ini peperangan yang terjadi antara diriku
dan Abdullah ibn az-Zubair. Dan engkau adalah seseorang yang memiliki tempat
dan nama di antara kaum Muslimin. Dan aku melihat agar engkau tidak tinggal di
negeriku kecuali bila engkau membaiatku. Bila engkau membaiatku, aku akan
memberimu seratus kapal yang datang kepadaku dari “al-Qalzom” kemarin, ambillah
beserta apa yang ada padanya. Bersama itu engkau berhak atas satu juta dirham
ditambah dengan jumlah yang kamu tentukan sendiri untuk dirimu, anak-anakmu,
kerabatmu, budak-budakmu dan orang-orang yang bersamamu. Bila engkau menolaknya
maka pergilah dariku ke tempat yang aku tidak memiliki kekuasaan atasnya.”
Muhammad ibn al-Hanafiyah kemudian
menulis balasan, “Dari Muhammad ibn Ali, kepada Abdul Malik ibn Marwan.
Assalamu ‘alaika…Sesungguhnya aku memuji kepada Allah yang tidak ada Ilah yang
berhak disembah selain Dia, (aku berterima kasih) kepadamu. Amma
ba’du…Barangkali engkau menjadi ketakutan terhadapku. Dan aku mengira engkau
adalah orang yang paham terhadap hakikat sikapku dalam perkara ini. Aku telah
singgah di Mekkah, maka Abdullah ibn az-Zubair menginginkan aku untuk
membaiatnya, dan tatkala aku menolaknya ia pun berbuat jahat terhadap
pertentanganku. Kemudian engkau menulis surat kepadaku, memanggilku untuk
tinggal di negeri Syam, lalu aku singgah di sebuah tempat di ujung tanahmu di
karenakan harganya murah dan jauh dari markaz (pusat) pemerintahanmu. Kemudian
engkau menulis kepadaku apa yang telah engkau tuliskan. Dan kami Insya Allah
akan meninggalkanmu.”
Muhammad ibn al-Hanafiyyah
beserta orang-orangnya dan kelurganya meninggalkan negeri Syam, dan setiap kali
ia singgah di suatu tempat ia pun di usir darinya dan diperintahkan agar pergi
darinya.
Dan seakan-akan kesusahan belum
cukup atasnya, hingga Allah berkehendak mengujinya dengan kesusahan lain yang
lebih besar pengaruhnya dan lebih berat tekanannya…
Yang demikian itu, bahwa
sekelompok dari pengikutnya dari kalangan orang-orang yang hatinya sakit dan
yang lainnya dari kalangan orang-orang lalai. Mereka mulai berkata,
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam telah menitipkan di hati
Ali dan keluarganya banyak sekali rahasia-rahasia ilmu, qaidah-qaidah agama dan
perbendaharaan syariat. Beliau telah mengkhususkan Ahlul Bait dengan apa yang
orang lain tidak mengetahuinya.”
Orang yang ‘alim, beramal dan
mahir ini memahami betul apa yang diusung oleh ucapan ini dari penyimpangan,
serta bahaya-bahaya yang mungkin diseretnya atas Islam dan Muslimin. Ia pun
mengumpulkan manusia dan berdiri mengkhutbahi mereka…ia memuji Allah AWJ dan
menyanjungnya dan bershalawat atas Nabi-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi
Wassalam…kemudian berkata, “Sebagian orang beranggapan bahwa kami segenap Ahlul
Bait mempunyai ilmu yang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam mengkhususkan
kami dengannya, dan tidak memberitahukan kepada siapapun selain kami. Dan kami
–demi Allah- tidaklah mewarisi dari Rasulullah melainkan apa yang ada di antara
dua lembaran ini, (dan ia menunjuk ke arah mushaf). Dan sesungguhnya
barangsiapa yang beranggapan bahwa kami mempunyai sesuatu yang kami baca selain
kitab Allah, sungguh ia telah berdusta.”
Adalah sebagian pengikutnya
mengucapkan salam kepadanya, mereka berkata, “Assalamu’alaika wahai Mahdi.”
Ia menjawab, “Ya, aku adalah
Mahdi (yang mendapat petunjuk) kepada kebaikan…dan kalian adalah para Mahdi
kepada kebaikan Insya Allah…akan tetapi apabila salah seorang dari kalian
mengucapkan salam kepadaku, maka hendaklah menyalamiku dengan namaku. Hendaklah
ia berkata, “Assalamu’alaika ya Muhammad.”
Tidak berlangsung lama
kebingungan Muhammad ibn al-Hanafiyyah tentang tempat yang akan ia tinggali
beserta orang-orang yang bersamanya…Allah telah berkehendak agar al-Hajjaj ibn
Yusuf ats-Tsaqofi menumpas Abdullah ibn az-Zubair…dan agar manusia seluruhnya
membaiat Abdul Malik ibn Marwan.
Maka, tidaklah yang ia lakukan
kecuali menulis surat kepada Abdul Malik, ia berkata, “Kepada Abdul Malik ibn
Marwan, Amirul Mukminin, dari Muhammad ibn Ali. Amma ba’du…Sesungguhnya setelah
aku melihat perkara ini kembali kepadamu, dan manusia membaiatmu. Maka, aku
seperti orang dari mereka. Aku membaiatmu untuk walimu di Hijaz. Aku
mengirimkan baiatku ini secara tertulis. Wassalamu’alaika.”
Ketika Abdul Malik membacakan
surat tersebut kepada para sahabatnya, mereka berkata, “Seandainya ia ingin
memecah tongkat ketaatan (baca: keluar dari ketaatan) dan membikin perpecahan
dalam perkara ini, niscaya ia mampu melakukannya, dan niscaya engkau tidak
memiliki jalan atasnya…Maka tulislah kepadanya dengan perjanjian dan keamanan
serta perjanjian Allah dan Rasul-Nya agar ia tidak diusir dan diusik, ia dan
para sahabatnya.”
Abdul Malik kemudian menulis hal
tersebut kepadanya. Hanya saja Muhammad ibn al-Hanafiyyah tidak hidup lama
setelah itu. Allah telah memilihnya untuk berada di sisi-Nya dalam keadaan
ridla dan diridlai.
Semoga Allah memberikan cahaya
kepada Muhammad ibn al-Hanafiyah di kuburnya, dan semoga Allah mengindahkan
ruhnya di surga…ia termasuk orang yang tidak menginginkan kerusakan di bumi
tidak pula ketinggian di antara manusia.
Sumber:
- ahlulhadiits.wordpress.com
- Hilyah al-Auliyaa oleh Abu
Nu’aim, III: 174,
- Tahdziib at-Tahdziib, IX:354,
- Shifah ash-Shafwah oleh Ibnul
Jauzi (cet. Halab), II: 77-79,
- Ath-Thabaqat al-Kubra oleh Ibnu
Sa’d, V:91,
- Al-Waafi bi al-Wafayaat
(terjemah): 1583,
- Wafayaat al-A’yaan oleh Ibnu
Kholaqan, IV:169,
- Al-Kamil, III:391 dan IV:250
pada kejadian-kejadian tahun 66 H,
- Syadzarat adz-Dzahab, I:89,
- Tahdziib al-Asma Wa al-Lughaat,
I:88-89,
- Al-Bad’u Wa at-Tarikh, V:75-76,
- Al-Ma’arif oleh Ibnu Qutaibah: 123,
- Al-‘Iqd al-Farid oleh Ibnu Abdi
Rabbih, tahqiq al-‘Urayyan, Juz II,III,V dan VII
