Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin
Bukti Akal (Logika)
Bukti akal dapat dibagi menjadi
dua bagian.
[a]. Allah Subhanahu wa Ta’ala
sebagai pencipta langit dan bumi seisinya telah menciptakannya pertama kali.
Allah mampu menciptakan pertama kali, tentu pasti mampu pula untuk
mengembalikannya.
Artinya : Dan Dialah yang
menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya
kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya [Ar-Ruum ;
27]
Artinya : Sebagaimana Kami telah
memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu
janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya
[Al-Anbiyaa
: 104]
Artinya : Katakanlah, Ia akan
dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali pertama. Dan Dia Maha Mengetahui
tentang segala makhluk [Yaasin : 79]
[b]. Bumi yang mati dan tandus
akan hidup kembali dan tumbuhan yang mati akan bergerak subur setelah turun
hujan. Yang mampu untuk menghidupkannya setelah mati, dan yang mampu
menghidupkan orang-orang yang sudah mati itu sudah pasti Allah Ta’ala
Mahaperkasa lagi Maha Berkehendak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman.
Artinya : Dan sebagian dari
tanda-tanda (kekuasan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka
apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur.
Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati.
Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu [Fushshilat : 39]
Artinya : Dan Kami turunkan dari
langit air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon
dan biji-bijian tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang
mempunyai mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba
(Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti
itulah terjadinya kebangkitan [Qaaf : 9-11]
Orang yang ingkar kepada siksa
kubur dan kenikmatannya mengira hal itu suatu perkara yang mustahil serta bertolak
belakang dengan kenyataan karena apabila kubur itu dibongkar akan didapati
seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit.
Persangkaan mereka ini jelas tidak benar menurut syara, indera dan akal.
[1]. Dalil Syara
Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu
berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah keluar dari salah satu
kebun kota Madinah. Lalu beliau mendengar ada dua orang yang disiksa di dalam
kuburnya. Dalam hadits itu disebutkan bahwa yang satu karena tidak memelihara
buang air kecil (kencing sembarangan), dan yang satunya lagi karena mengadu
domba [Hadits Riwayat Bukhari]
[2]. Dalil Inderawi
Orang yang tidur terkadang mimpi
bahwa ia berada di tempat yang luas, menggembirakan, dan dia bersenang-senang
di situ. Atau terkadang dia juga mimpi berada di tempat yang sempit,
menyedihkan, dan menyakitkan. Terkadang seseorang bisa terbangun karena
mimpinya itu, padahal ia berada di atas tempat tidurnya. Tidur adalah sandar
kematian. Oleh karena itu Allah menyebut tidur dengan wafat, seperti dalam
firmanNya.
Artinya : Allah memegang jiwa
(orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu
tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan
Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu ditentukan [Az-Zumar : 42]
[3]. Dalil Akal
Orang yang tidur terkadang
bermimpi yang benar sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi melihat Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam sesuai dengan sifat beliau. Barangsiapa pernah bermimpi
melihat beliau sesuai dengan sifatnya, maka dia bagaikan melihatnya
benar-benar. Padahal pada waktu itu ia ada di dalam kamarnya, di atas tempat
tidurnya, jauh dari yang diimpikan. Apabila keadaan tersebut suatu hal yang
mungkin dijumpai di dunia, maka bagaimana tidak mungkin dijumpai di akhirat ??
Adapun dalih mereka bahwa apabila
kubur itu digali, akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak
pula bertambah sempit, maka jawabannya.
[1]. Apa yang dibawa syara tidak
boleh dipertentangkan dengan hal-hal yang bathil. Kalau orang yang mempertentangkan
itu mau berpikir tentang apa yang dibawa oleh syara, ia pasti mengetahui
kebatilan kesalahan pahamannya itu.
Seorang penyair bertutur:
Berapa banyak orang yang mencela
pendapat yang benar padahal bencana itu dari pemahaman yang salah
[2]. Keadaan dalam barzakh (alam
kubur) termasuk hal-hal ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera, karena
jika hal itu dapat diindera, maka tidak ada artinya iman kepada yang ghaib, dan
sama antara orang yang beriman kepada yang ghaib dan orang yang mengingkari,
dalam mempercayainya.
[3]. Siksa kubur, nikmat kubur,
luasnya kubur, dan sempitnya kubur hanya dapat dijumpai oleh mayat itu sendiri,
bukan yang lain. Ini seperti yang dilihat orang tidur dalam mimpinya, dia bisa
berada di tempat yang sempit yang menakutkan, atau di tempat yang luas dan
menyenangkan, padahal menurut orang lain yang melihatnya tidur, tidurnya tidak
berubah, masih di dalam kamar dan di atas tempat tidurnya.
Ketika menerima wahyu, Nabi
Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam berada di tengah-tengah para sahabatnya.
Beliau mendengarkan wahyu, tetapi para sahabatnya tidak mendengarnya. Bisa jadi
wahyu itu diturunkan dengan cara malaikat menjelma menjadi seorang lelaki, lalu
berbicara dengan beliau, dan para sahabat tidak melihatnya serta mendengarnya.
[4]. Pengetahuan manusia terbatas
pada sesuatu yang hanya diizinkan Allah untuk diketahuinya. Tidak mungkin
manusia dapat mengetahui apa saja yang ada. Langit yang tujuh serta bumi
seisinya semua bertasbih dengan memuji Allah dengan tasbih yang sebenarnya,
yang terkadang Allah perdengarkan kepada orang yang dikehendakiNya. Meskipun
demikian hal itu terhalang dari kita.
Dalam masalah ini Allah
berfirman.
Artinya : Langit yang tujuh, bumi
dan semua yang ada didalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun
melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti
tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun
[Al-Israa : 44]
Demikian halnya dengan setan dan
jin yang mondar-mandir pulang pergi di atas bumi. Pernah ada jin datang kepada
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan mendengarkan bacaan beliau, kemudian dia
kembali ke kaumnya sebagai juru da’i. Meski demikian, mereka tidak terlihat
oleh kita.
Dalam masalah ini Allah Subhanahu
wa Ta’ala berfirman.
Artinya : Hai anak Adam,
janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengerluarkan
kedua ibu bapak kamu dari Surga. Ia meninggalkan dari keduanya pakaiannya untuk
memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sungguh, ia dan pengikutnya melhat
kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami
telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak
beriman [Al-AĆ¢€™raaf : 27]
Apabila manusia tidak dapat
mengetahui segala yang ada, maka mereka tidak boleh mengingkari perkara-perkara
ghaib yang ditetapkan oleh syara sekalipun mereka tidak dapat mengetahuinya
dengan indera mereka.
[Ditulis ulang dari Syarhu
Ushulil Iman, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Edisi Indonesia: Prinsip-Prinsip
Dasar Keimanan. Penerjemah: Ali Makhtum Assalamy. Penerbit: KSA Foreigners
Guidance Center In Gassim Zone]
Sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1754&bagian=0
(taken from
http://almanhaj.or.id)
