Oleh Ustadz Musyaffa Ahmad Rahim, Lc.
Tersebutlah dalam buku-buku sejarah bahwa khalifah Umar bin
Abdul Aziz, yang terkenal juga sebagai khalifah Ar-Rasyid yang kelima, telah
berhasil merubah gaya obrolan masyarakatnya.
Pada masa khalifah sebelumnya, obrolan masyarakat tidak
pernah keluar dari materi dan dunia, di manapun mereka berada; di rumah, di
pasar, di tempat bekerja dan bahkan di masjid-masjid.
Dalam obrolan mereka terdengarlah pertanyaan-pertanyaan
berikut:
"Berapa rumah yang sudah engkau bangun? Kamu sudah
mempunyai istana atau belum? Budak perempuan yang ada di rumahmu berapa? Berapa
yang cantik? Hari ini engkau untung berapa dalam berbisnis? Dan
semacamnya."
Pada zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi pemimpin,
dan setelah dia melakukan tajdid (pembaharuan) dan ishlah (reformasi), dimulai
dari meng-ishlah dirinya sendiri, lalu istrinya, lalu kerabat dekatnya dan
seterusnya kepada seluruh rakyatnya, berubahlah pola obrolan masyarakat yang
menjadi rakyatnya.
Dalam obrolan mereka, terdengarlah pertanyaan-pertanyaan
sebaai berikut:
"Hari ini engkau sudah membaca Al Qur'an berapa juz?
Bagaimana tahajjud-mu tadi malam? Berapa hari engkau berpuasa pada bulan ini?
Dan semacamnya."
Mungkin diantara kita ada yang mempertanyakan, apa arti
sebuah obrolan? Dan bukankah obrolan semacam itu sah-sah saja? Ia kan belum
masuk kategori makruh? Apalagi haram? Lalu, kenapa mesti diperbincangkan dan
diperbandingkan? Bukankah perbandingan semacam ini merupakan sebuah kekeliruan,
kalau memang hal itu masuk dalam kategori mubah?
Dari aspek hukum syar'i, obrolan yang terjadi pada masa
khalifah sebelum Umar bin Abdul Aziz memang masuk kategori hal-hal yang sah-sah
saja, artinya, mubah, alias tidak ada larangan dalam syari'at.
Akan tetapi, bila hal itu kita tinjau dari sisi lain,
misalnya dari tinjauan tarbawi da'awi misalnya, maka hal itu menujukkan bahwa
telah terjadi perubahan feeling pada masyarakat, atau bisa juga kita katakan,
telah terjadi obsesi pada ummat.
Pada masa Sahabat (Ridhwanullah 'alaihim), obsesi orang
-dengan segala tuntutannya, baik yang berupa feeling ataupun 'azam, bahkan
'amal -selalu terfokus pada bagaimana menyebar luaskan Islam ke seluruh penjuru
negeri, dengan harga berapapun, dan apapun, sehingga, pada masa mereka Islam
telah membentang begitu luas di atas bumi ini. Namun, pada masa-masa menjelang
khalifah Umar bin Abdul Aziz, obsesi itu telah berubah.
Dampak dari adanya perubahan ini adalah melemahnya semangat
jihad, semangat da'wah ilallah, semangat men-tarbiyah dan men-takwin masyarakat
agar mereka memahami Islam, menerapkannya dan menjadikannya sebagai gaya hidup.
Al Hamdulillah, Allah swt memunculkan dari hamba-Nya ini
orang yang bernama Umar bin Abdul Aziz, yang mampu memutar kembali
"gaya" dan "pola" obrolan masyarakatnya, sehingga, kita
semua mengetahui bahwa pada masa khalifah yang hanya memerintah 2,5 tahun itu,
Islam kembali jaya dan menjadi gaya hidup masyarakat.
Tersebut pula dalam sejarah bahwa beberapa saat setelah kaum
muslimin menguasai Spanyol, ada seorang utusan Barat Kristen yang memasuki
negeri Islam Isbania (Nama Spanyol saat dikuasai kaum muslimin).
Tujuan dia memasuki wilayah Islam adalah untuk mendengar dan
menyaksikan bagaimana kaum muslimin mengobrol, ya, "hanya" untuk
mengetahui bagaimana kaum muslimin mengobrol. Sebab dari obrolan inilah dia
akan menarik kesimpulan, bagaimana obsesi kaum muslimin saat itu.
Selagi dia berjalan-jalan untuk mendapatkan informasi
tentang gaya an kaum muslimin, tertumbuklah pandangannya kepada seorang bocah
yang sedang menangis, maka dihampirilah bocah itu dan ditanya kenapa dia
menangis? Sang bocah itu menjelaskan bahwa biasanya setiap kali dia melepaskan
satu biji anak panah, maka dia bisa mendapatkan dua burung sekaligus, namun,
pada hari itu, sekali dia melepaskan satu biji anak panah, dia hanya
mendapatkan seekor burung.
Mendengar jawaban seperti itu, sang utusan itu mengambil
kesimpulan bahwa obsesi kaum muslimin Isbania (Spanyol) saat itu masihlah
terfokus pada jihad fi sabilillah, buktinya, sang bocah yang masih polos itu,
bocah yang tidak bisa direkayasa itu, masih melatih diri untuk memanah dengan
baik, hal ini menunjukkan bahwa orang tua mereka masih terobsesi untuk berjihad
fi sabilillah, sehingga terpengaruhlah sang bocah itu tadi.
Antara obrolan orang tua dan tangis bocah yang polos itu ada
kesamaan, terutama dalam hal: keduanya sama-sama meluncur secara polos dan
tanpa rekayasa, namun merupakan cermin yang nyata dari sebuah obsesi.
Setelah masa berlalu berabad-abad, datang lagi mata-mata
dari Barat, untuk melihat secara dekat bagaimana kaum muslimin mengobrol, ia
datangi tempat-tempat berkumpulnya mereka, ia datangi pasar, tempat kerja,
tempat-tempat umum dan tidak terlupakan, ia datangi pula masjid.
Ternyata, ada kesamaan pada semua tempat itu dalam hal
obrolan, semuanya sedang memperbincangkan: Budak perempuan saya yang bernama si
fulanah, sudah orangnya cantik, suara nyanyiannya merdu dan indah sekali, rumah
saya yang di tempat anu itu, betul-betul indah memang, pemandangannya bagus,
desainnya canggih, luas dan sangat menyenangkan, dan semacamnya.
Merasa yakin bahwa gaya obrolan kaum muslimin sudah
sedemikian rupa, pulanglah sang mata-mata itu dengan penuh semangat, dan
sesampainya di negerinya, mulailah disusun berbagai rencana untuk menaklukkan
negeri yang sudah delapan abad di bawah kekuasaan Islam itu. Dan kita semua
mengetahui bahwa, semenjak saat itu, sampai sekarang, negeri itu bukan lagi
negeri Muslim.
Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah... Betapa seringnya
kita mengobrol, sadarkah kita, model manakah gaya obrolan kita sekarang ini?
Sadarkah kita bahwa obrolan adalah cerminan dari obsesi
kita?
Sadarkah kita bahwa obrolan kita lebih hebat pengaruhnya
daripada sebuah ceramah yang telah kita persiapkan sedemikian rupa?
Bila tidak, cobalah anda reka, pengaruh apa yang akan
terjadi bila anda adalah seorang ustadz atau da'i, yang baru saja turun dari
mimbar khutbah, khutbah Jum'at dengan tema: "Kezuhudan salafush-Shalih dan
pengaruhnya dalam efektifitas da'wah".
Sehabis shalat Jum'at, anda mengobrol dengan beberapa orang
yang masih ada di situ, dalam obrolan itu, anda dan mereka memperbincangkan.
Bagaimana mobil Merci anda yang hendak anda tukar dengan BMW dalam waktu dekat
ini, dan bagaimana mobil Pajero puteri anda yang sebentar lagi akan anda tukar
dengan Land Cruiser, dan bagaimana rumah anda yang di Pondok Indah yang akan
segera anda rehab, yang anggarannya kira-kira menghabiskan lima milyar rupiah
dan semacamnya.
Cobalah anda menerka, pengaruh apakah yang akan terjadi pada
orang-orang yang anda ajak mengobrol itu? Mereka akan mengikuti materi yang
anda sampaikan lewat khutbah Jum'at atau materi yang anda sampaikan lewat
obrolan?
Sekali lagi, memang obrolan semacam itu bukanlah masuk
kategori "terlarang" secara syar'i, akan tetapi, saya hanya hendak
mengajak anda memikirkan apa dampaknya bagi da'wah ilallah.
Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah... Sadarkah kita
bahwa telah terjadi perubahan besar dalam gaya obrolan kita antara era 80-an
dengan 90-an dan dengan 2000-an, obrolan yang terjadi saat kita bertemu dengan
saudara seaqidah kita, obrolan yang terjadi antar sesama aktifis Rohis di
kampus dan sekolah masing-masing kita.
Saat itu, obrolan kita tidak pernah keluar dari da'wah,
da'wah, tarbiyah dan tarbiyah, namun sekarang?
Silahkan masing-masing kita menjawabnya, lalu kaitkan antara
gegap gempita da'wah dan tarbiyah saat itu dengan seringnya kita mendengar
adanya dha'fun tarbawi di sana sini.
