Berlindung kepada Allah,
khususnya pada masa-masa fitnah sedang menyebar dan merajalela merupakan sebuah
keharusan dan hal yang amat penting. Dan itu merupakan jalan yang paling tepat
untuk terlepas dari kejahatan fitnah-fitnah itu, baik yang besar atau pun yang
kecil.
Jika seseorang memperhatikan
berbagai macam fitnah, seperti fitnah kehidupan dunia dengan iming-iming nafsu
dan syahwatnya; Fitnah kematian, penghimpunan manusia di padang Mahsyar, serta
huru-hara Akhirat; Fitnah kekacauan, pembunuhan dan peperangan; Fitnah
tersumbatnya suara kebenaran dan merebaknya kebatilan; Fitnah ujub, besar
kepala dan sebagainya, maka sungguh akan menggugah hati untuk menyelamatkan
diri darinya dan mendorong untuk berlindung kepada Allah subhanahu wata’ala,
minta keselamatan dan terbebas dari segala keburukannya.
Fitnah Dunia
Fitnah dunia beserta isinya,
berupa permainan, kesenangan dan syahwat mengharuskan kita untuk selalu
berlindung kepada Allah dari keburukannya. Merupakan fitnah dunia yang sangat
besar bagi seorang laki-laki adalah fitnah (ujian/godaan) wanita. Oleh karena
itu Nabi Yusuf ’alaihis salam tatkala khawatir terhadap fitnah wanita, beliau
mengatakan,
“Dan jika tidak Engkau hindarkan
daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan
mereka)dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh". (QS. 12:33)
Harta benda juga merupakan fitnah
yang harus dimintakan perlindungan kepada Allah dari keburukannya. Oleh karena
itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta perlindungan dari jahatnya
fitnah kekayaan, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits shahih tatkala
berlindung dari berbagai fitnah dunia, salah satunya adalah, "Dan (aku
berlindung) dari buruknya fitnah kekayaan." (HR. al-Bukhari, merupakan
sebuah penggalan hadits)
Keluarga dan anak-anak juga
merupakan fitnah dunia sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
“Hai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh
bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Sesungguhnya hartamu dan
anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
(QS. 64:14-15)
Oleh karena itu seorang hamba
harus memohon kepada Allah agar menjadikan keluarga dan anak cucunya sebagai
qurrata ain, penyejuk hati dan pembawa kebaikan. Seorang muslim sadar bahwa
keluarga dan anak-anak adalah merupakan fitnah dan ujian hidup. Allah subhanahu
wata’ala berfirman,
“Dan orang-orang yang berkata,
"Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang
yang bertaqwa.” (QS. 25:74)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
juga mengajarkan do’a, "Dan aku berlindung kepada-Mu dari (keburukan)
fitnah hidup."
Fitnah Syetan
Syetan adalah fitnah bagi
manusia. Dia selalu menghiasi keburukan sehingga tampak indah dan baik, agar
manusia tertipu dan tersesat. Fitnah syetan termasuk sangat besar. Ia selalu
menggoda manusia dan mendampingi semenjak lahir hingga menjelang kematiannya.
Maka Allah subhanahu wata’ala menganjur kan agar kita berlindung kepada-Nya
dari segala gangguan syetan, sebagaimana dalam firman-Nya,
“Dan katakanlah,“Ya Rabbku aku
berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syetan. Dan aku berlindung (pula)
kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku". (QS. 23:97-98)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
menjelaskan bahwa do’a dan dzikir kepada Allah merupakan senjata ampuh bagi
seorang muslim untuk menghadapi gangguan syetan. Diriwayatkan dari Utsman bin
Affan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
artinya,
"Tidaklah seorang hamba
mengucapkan setiap pagi dan sore (doa), "Dengan menyebut Nama Allah, yang
dengan menyebut-Nya maka tidak berbahaya segala sesuatu yang berada di bumi dan
di langit dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Dia ucapkan) sebanyak
tiga kali maka tidak akan membahayakannya segala suatu apapun." (HR.Abu
Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, dan sanadnya hasan)
Dan tatkala Abu Bakarradhiyallahu
‘anhu, meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengajar
kan sebuah kalimat (doa) yang diucapkan ketika pagi dan sore hari, maka di antara
yang diajarkan beliau adalah berlindung kepada Allah dari syetan dan sekutunya.
Beliau bersabda, "Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan diriku dan
kejahatan syetan beserta sekutunya." (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ahmad dan
al-Hakim, dishahihkan oleh adz-Dzahabi)
Fitnah Akhirat
Fitnah akhirat dimulai sejak
seseorang masuk ke alam kubur hingga datangnya hari Kiamat dengan
kedahsyatannya. Semua itu harus dimohonkan perlindungan kepada Allah subhanahu
wata’ala agar kita selamat dari malapetaka nya, dan dengan keutamaan serta
rahmat-Nya kita dimasukkan ke dalam surga.
Termasuk fitnah akhirat yang
besar adalah fitnah kubur, yaitu pertanyaan di kubur terhadap seorang hamba
tentang siapa Rabbnya, apa agamanya, siapa Nabinya dan seterusnya. Jika dia seorang
yang istiqamah di atas agama Allah maka akan selamat dan dapat berbicara serta
menjawab sesuai yang diridhai Allah subhanahu wata’ala. Jika dia menyepelekan
agama dan zhalim maka akan mendapatkan kerugian dan mengucapkan kalimat
kekufuran, kita berlindung kepada Allah dari hal itu.
Oleh karena itu dalam sebuah
hadits shahih disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung
dari adzab kubur.
Fitnah al-Masih ad-Dajjal
Fitnah dajjal adalah termasuk
fitnah terbesar yang akan dialami manusia menjelang hari Kiamat, dan dia
merupakan salah satu tanda akan terjadinya Kiamat Kubra (kiamat besar). Tentang
kapan munculnya dajjal, maka tidak seorang pun mengetahuinya, yang penting
adalah bahwa seseorang tidak akan dapat selamat dari fitnah dajjal kecuali atas
perlindungan Allah subhanahu wata’ala. Sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam meminta perlindungan kepada-Nya dari fitnah dajjal tersebut.
Dalam sebuah hadits shahih, Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya,
"Barang siapa yang membaca
sepuluh ayat pertama dari surat al-Kahfi maka akan dijaga dari dajjal."
Dan di dalam riwayat yang lain disebutkan, "Barang siapa yang membaca
sepuluh ayat terakhir dari surat al-Kahfi maka akan dijaga dari dajjal."
(HR. Muslim)
Fitnah Jahannam
Merupakan salah satu fitnah
akhirat adalah fitnah adzab Jahannam. Semoga Allah menjaga kita darinya. Oleh
karena itu Allah subhanahu wata’ala menganjurkan kepada kita untuk berlindung
dari adzab Jahannam tersebut, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala
tatkala menyebutkan di antara sifat hamba Allah, yang artinya
“Dan orang-orang yang berkata,
"Ya Rabb kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu
adalah kebinasan yang kekal". Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk
tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. 25:65-66)
Dalam sebuah hadits shahih
disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dari
adzab Jahannam
Fitnah Orang Kafir
Salah satu fitnah yang dihadapi
oleh orang mukmin di setiap tempat dan waktu adalah permusuhan orang-orang
kafir. Oleh karena itu Allah subhanahu wata’ala menyebutkan tentang orang-orang
mukmin pengikut Thalut alaihissalam, tatkala menghadapi musuh mereka Jalut dan
tentaranya maka mereka berlindung kepada Allah dengan berdoa, sebagaimana
firman Allah,
“Tatkala Jalut dan tentaranya
telah tampak oleh mereka, mereka pun berdo'a, "Ya Rabb kami, tuangkanlah
kesabaran atas diri kami, dan kokoh- kanlah pendirian kami dan tolonglah kami
terhadap orang-orang yang kafir". (QS. 2:250)
Allah subhanahu wata’ala
berfirman tentang kaum Nabi Musa, artinya,
“Berkata Musa, "Hai kaumku,
jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawa-kallah kepada-Nya saja, jika kamu
benar-benar orang yang berserah diri". Lalu mereka berkata, "Kepada
Allah-lah kami bertawakal! Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran
fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari
(tipu daya) orang-orang yang kafir". (QS. 10:84-86)
Allah subhanahu wata’ala juga
menyebutkan tentang Nabi Ibrahim dan kaumnya yang berd’oa kepada Allah,
"Ya Rabb kami, janganlah
Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami
Ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana". (QS. 60:5)
Disebutkan dalam sebuah hadits
shahih dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dia berkata, "Ketika
terjadi perang Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat ke arah
kaum musyrikin yang berjumlah seribuan orang sedangkan shahabat beliau hanya
tiga ratus tiga belas orang. Maka beliau menghadap kiblat lalu menengadahkan
tangan berdoa kepada Rabbnya, "Ya Allah penuhilah untukku apa yang Kau
janjikan, ya Allah datangkanlah kepadaku apa yang Kau janjikan. Ya Allah jika
Kamu binasakan sekelompok ahlul Islam ini, maka Engkau tidak disembah di muka
bumi." Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terus-menerus berdoa dengan
menengadahkan tangan, menghadap ke kiblat sehingga kain yang ada di pundaknya
terjatuh. Lalu Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang mengambil kain itu kemudian
meletakkannya kembali di pundak beliau. Dia lalu mendekat dari arah belakang
Nabi dan berkata, "Wahai Nabi Allah, telah cukup permohonanmu kepada
Allah, sesungguhnya Dia akan memberikan untukmu apa yang Dia janjikan
kepadamu.” Maka Allah subhanahu wata’ala menurunkan ayat, “(Ingatlah), ketika
kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu,
"Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu
malaikat yang datang bertutut-turut". (QS. 8:9). (HR Muslim)
Amat banyak saudara kita di
negeri Islam yang sedang menghadapi ujian dan cobaan dari orang kafir, berada
dalam penindasan kaum salibis, zionis dan kapitalis. Maka kita hendaknya senantiasa
memohon kepada Allah, agar segera mengentaskan musibah tersebut dengan
secepatnya.
Fitnah Ujub dan Bangga Diri
Ujub, terpedaya dan bangga diri
merupakan fitnah yang selayaknya dimintakan perlindungan kepada Allah. Allah
subhanahu wata’ala berfirman,
“Dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat
menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS.
17:37)
Fitnah ini hendaknya diwaspadai
khusunya oleh para aktivis dakwah, penyebar ilmu, para pejuang dan orang
semisal mereka yang banyak dibutuhkan olah umat Islam di zaman ini. Hendaklah
mereka hati-hati dari fitnah ini, dengan banyak berlindung dan bersandar kepada
Allah subhanahu wata’ala, agar jangan menjadikan amalnya sebagaimana amal yang
Dia firmankan,
“Dan Kami hadapi segala amal yang
mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
(QS. 25:23).Hanya kepada Allah kita mohon pertolongan.
Sumber: Kutaib, “Dharuratu
alluju’ ilallah ‘inda hudutsil fitan,” DR. Abdul Hamid bin Abdur Rahman
al-Suhaibani
