Masjid Kali Pasir adalah masjid
tertua di Kota Tangerang peninggalan Kerajaan Pajajaran. Masjid ini berada di
sebelah timur bantaran Sungai Cisadane, tepatnya di tengah pemukiman warga
Tionghoa kelurahan Sukasari. Bangunannya pun bercorak China. Masjid tertua di
Tangerang ini mencerminkan kerukunan umat beragama pada masanya. Hingga kini
masjid yang sudah berusia ratusan tahun tersebut masih digunakan sebagai tempat
beribadah. Namun, masjid ini tidak lagi digunakan untuk salat Jumat.
Masjid Kali Pasir dibangun
bersebelahan dengan Klenteng Boen Tek Bio yang saat itu sudah berdiri tegak.
Masjid yang berukuran sekitar 288 meter persegi ini didirikan pada tahun 1700
oleh Tumenggung Pamit Wijaya yang berasal dari Kahuripan Bogor. Awalnya,
Tumenggung Pamit Wijaya ingin melakukan syiar Islam dari Kesultanan Cirebon ke
wilayah Banten. Namun, ia singgah di Tangerang dan mendirikan sebuah masjid.
Pembangunan masjid dilakukan oleh warga muslim sekitar dan dibantu oleh warga
Tionghoa. Pada tahun 1712 kepengurusan masjid dilanjutkan oleh puteranya yang
bernama Raden Bagus Uning Wiradilaga. Masjid ini sudah berkali-kali direnovasi,
tetapi bangunannya masih bergaya Arab, Tionghoa dan Eropa. Saat ini, hanya dua
sisi arsitektur yang masih tetap utuh dipertahankan, yaitu empat tiang di dalam
masjid dan kubah kecil bermotif China. Tiang tersebut terbuat dari kayu dan
tampak mulai keropos sehingga harus disanggah dengan sejumlah besi.
Selain menjadi tempat ibadah dan
syiar agama, Masjid Kali Pasir memiliki nilai sejarah yang tinggi. Masjid ini
menjadi tempat akulturasi budaya dan saksi perjuangan anak bangsa melawan penjajah.
Selain itu, dari segi bangunan, menara masjid ini mirip dengan pagoda Tiongkok.
Ada juga acara arakan minitur perahu yang digelar oleh masjid ini dalam merayakan
Maulid Nabi Muhammad. Arakan perahu dilakukan sebagai simbol tibanya para
sesepuh Islam di Sungai Cisadane Kota Tangerang. Arakan tersebut dimulai sejak
tahun 1926 dengan mengisi perahu dengan berbagai buah-buahan. Hal unik lain
adalah bentuk saf yang miring dibandingkan dengan arah masjid. Bentuk saf
tersebut ada sejak awal pendirian masjid. Hal ini dikarenakan jika masjid
dibangun sesuai arah kiblat maka rumah di sekitar masjid akan terbongkar.
Di belakang masjid ini terdapat
makam Bupati Tangerang, Raden H Ahmad Penna. Akan tetapi, keberadaan makam
tokoh Tangerang ini tidak banyak diketahui masyarakat umum. Selain itu,
keberadaan makam juga kurang terawat dengan baik.
Dikutip dari wikipedia
