yang menghendaki berhukum dengan selain syariat Allah tetapi orang tersebut masih mengaku sebagai seorang yang beriman.
Padahal hal itu menunjukkan bahwa klaim keimanan mereka yg disertai keinginan untuk berhukum kepada thaghut merupakan bukti yang sangat nyata bahwa mereka itu berdusta dan sangat mengherankan.َ
Hal ini sebagaiman dalam firman Allah Ta'ala;
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (An Nisa': 60)
وبهذه النصوص السماوية التي ذكرنا يظهر غاية الظهور: أن الذين يتبعون القوانين الوضعية التي شرعها الشيطان على ألسنة أوليائه مخالفة لما شرعه الله جل وعلا على ألسنة رسله صلى الله عليهم وسلم، أنه لا يشك في كفرهم وشركهم إلا من طمس الله بصيرته، وأعماه عن نور الوحي مثلهم.
Tidak ada keraguan lagi mengenai kekafiran dan kesyirikan mereka kecuali bagi orang yang telah dibutakan pandangannya dan mata hatinya dari cahaya Allah.
Adhwaul Bayan fii Idhahil Qur'an bil Qur'an, tafsir Surat Al Kahfi: 26
Abu Salman Abdirrahman